Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kajian Dhuha Menurut Perspektif Ahli

R
Penulis: Redaksi❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

Penulis : Yenni Melia - Dosen Universitas Baiturrahmah

Thomas Lickona dikenal sebagai Bapak Pendidikan Karakter Modern. Melalui bukunya Educating for Character (1991), ia menjelaskan bahwa pendidikan karakter bertumpu pada dua nilai inti, yaitu sikap hormat (respect) dan tanggung jawab (responsibility). Kedua nilai tersebut harus dimiliki setiap individu dan diterapkan dalam berbagai lingkungan kehidupan, baik di keluarga, masyarakat, maupun lembaga pendidikan.

Dalam konteks saat ini, lembaga pendidikan berkembang menjadi institusi yang berorientasi global. Pendidikan global merupakan pendekatan pembelajaran yang bertujuan membekali peserta didik dengan wawasan luas, kemampuan intelektual, serta rasa tanggung jawab untuk menghadapi dunia yang semakin saling terhubung dan kompetitif lintas negara. Karena itu, pendidikan tidak lagi berfokus pada penguasaan materi akademik di tingkat lokal, tetapi juga mendorong peserta didik memahami keterkaitan berbagai persoalan politik, ekonomi, budaya, lingkungan, hingga hubungan antarbangsa dalam paradigma one world.

Advertisement

Pendidikan juga berperan meningkatkan kemampuan penalaran moral peserta didik agar mampu mengambil keputusan secara etis dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, tidak memanfaatkan kelalaian orang lain demi keuntungan pribadi atau tetap mematuhi aturan lalu lintas meskipun sedang terburu-buru menghadiri ujian maupun rapat. Pandangan ini sejalan dengan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg yang menyatakan bahwa moralitas berkembang seiring kematangan berpikir dan pengalaman sosial seseorang.

Oleh karena itu, pendidikan perlu mampu membentuk karakter yang kuat agar peserta didik memiliki ketahanan moral dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk perkembangan teknologi dan berbagai pengaruh negatif lainnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui kajian dhuha, yang telah menjadi program rutin dan wajib diikuti oleh mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Sumatera Barat. Program tersebut bahkan telah menjadi salah satu ikon kampus dalam membangun karakter mahasiswa.

Kajian dhuha menjadi sarana strategis untuk memperkuat kecerdasan spiritual (spiritual quotient) sekaligus menghadirkan ketenangan jiwa di tengah padatnya aktivitas pada pagi hari. Dalam perspektif Thomas Lickona, pendidikan karakter terdiri atas tiga komponen utama, yaitu pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action).

Advertisement

Pertama, pengetahuan moral (moral knowing) diperoleh melalui penyampaian materi yang menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kebaikan. Pengetahuan moral tidak sekadar memahami aturan atau norma, tetapi juga menyadari alasan mengapa suatu tindakan dinilai baik atau buruk serta mampu menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, peserta didik mampu berpikir secara etis sebelum mengambil keputusan.

Kedua, perasaan moral (moral feeling) dibangun melalui suasana kajian yang tenang dan khusyuk sehingga mampu menyentuh sisi emosional peserta didik. Suasana tersebut mendorong tumbuhnya kecintaan terhadap nilai-nilai kebaikan dan memperkuat hati nurani dalam menjalankan norma yang berlaku.

Ketiga, tindakan moral (moral action) diwujudkan melalui pembiasaan secara langsung. Peserta didik tidak hanya menerima teori, tetapi juga mempraktikkan salat dhuha, disiplin waktu, serta adab dalam menuntut ilmu. Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter. Sebaliknya, apabila lingkungan keluarga maupun pendidikan tidak menanamkan kebiasaan yang baik, peserta didik akan lebih mudah menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan norma dan aturan yang berlaku.

Di era digital, pendidikan tidak lagi cukup mengajarkan apa yang boleh dan tidak boleh melalui hafalan aturan semata. Pendidikan harus melatih kemampuan peserta didik untuk menalar berbagai dilema moral sehingga mereka mampu bertindak berdasarkan kesadaran etis, bukan sekadar karena takut terhadap hukuman atau mengikuti tren. Moralitas tidak tumbuh secara instan, melainkan berkembang secara bertahap seiring dengan kematangan kognitif dan pengalaman sosial yang diperoleh melalui interaksi dengan keluarga, lingkungan kampus, maupun masyarakat. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Krisis Keteladanan di Era Digital, Siapa yang Digugu dan Ditiru?

Krisis Keteladanan di Era Digital, Siapa yang Digugu dan Ditiru?

Anak semakin dekat dengan dunia digital. Keteladanan guru, orang tua, masyarakat, dan influencer penting untuk membentuk karakter.

Maulid Nabi di UNP, Sekjen Kemenag Ingatkan Mahasiswa Pentingnya Tujuan Jelas dan Karakter Kuat

Maulid Nabi di UNP, Sekjen Kemenag Ingatkan Mahasiswa Pentingnya Tujuan Jelas dan Karakter Kuat

Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin mendorong mahasiswa UNP memiliki tujuan jelas serta memperkuat komunikasi, karakter, akhlak, dan ketekunan.

5 Cara ASPIKOM CARE 2026 Bangun Kepercayaan Diri Siswa SD Bustanul Ulum Semen Padang

5 Cara ASPIKOM CARE 2026 Bangun Kepercayaan Diri Siswa SD Bustanul Ulum Semen Padang

ASPIKOM CARE 2026 menghadirkan lima kegiatan edukatif untuk memulihkan trauma dan membangun kepercayaan diri siswa SD Bustanul Ulum Semen Padang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer