Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Eropa Mendidih, Indonesia Perlu Bersiap

M
Penulis: Marzuki❯
Marzuki.
Marzuki.

Advertisement

Penulis : Marzuki - Guru Besar Fisika Atmosfer Universitas Andalas, Ketua LPPM Universitas Andalas. 

Musim panas di Eropa biasanya identik dengan suasana menyenangkan: berjalan di taman, duduk di kafe terbuka, atau berlibur ke pantai.

Namun pada 2026, gambaran itu berubah drastis. Benua yang selama ini dikenal memiliki musim panas relatif sejuk kembali dilanda gelombang panas luar biasa. Suhu bukan hanya naik beberapa derajat, tetapi menembus rekor di banyak negara.

Advertisement

Panas berlangsung lama, meluas, dan terlalu berat bagi tubuh manusia. Pada 29 Juni, WMO menyebut lebih dari 150 juta orang terdampak, dengan lebih dari 1.300 kematian. Angka ini masih berpotensi bertambah.

Eropa di Bawah Kubah Panas

Tanda-tanda gelombang panas sudah muncul sejak Mei. Menurut Copernicus Climate Change Service, Eropa Barat mengalami gelombang panas yang sangat dini dan intens pada 21-30 Mei 2026.

Advertisement

Di Prancis bagian barat, Inggris, dan Wales, suhu rata-rata harian sempat lebih dari 10°C di atas normal. Belum sempat Eropa menarik napas, gelombang panas yang lebih luas datang pada akhir Juni.

Prancis mencatat hari-hari terpanas sejak pengamatan modern dimulai. Beberapa wilayah barat mencapai 39-43°C, bahkan sejumlah stasiun melaporkan suhu di atas 43°C.

Spanyol mencatat suhu di atas 40°C di banyak lokasi; Bilbao mencapai 42,7°C, rekor untuk Juni. Jerman melaporkan 41,7°C di Coschen, Austria menyentuh 40°C di Wina, Belanda mencatat rekor Juni 39,4°C, dan Inggris mengalami hari Juni terpanasnya, sekitar 36-37°C.

Apa yang sebenarnya terjadi? Dalam bahasa sederhana, Eropa sedang berada di bawah “tutup panci” atmosfer. Para ahli menyebutnya heat dome atau kubah panas. Sis­tem tekanan tinggi yang kuat dan bergerak lambat menetap di atas suatu wilayah.

Akibatnya, udara panas terperangkap, awan ber­ku­rang, angin melemah, dan sinar matahari terus memanaskan permukaan. Pada Juni, pola ini juga dikaitkan dengan omega block, yaitu bentuk aliran jet stream atau pita angin kencang yang melengkung seperti huruf Yunani omega.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

ICIS 2026 UNP Bahas AI, Perubahan Iklim hingga Transformasi Pendidikan di Era Digital

ICIS 2026 UNP Bahas AI, Perubahan Iklim hingga Transformasi Pendidikan di Era Digital

ICIS 2026 UNP membahas AI, perubahan iklim, pendidikan berkelanjutan, mitigasi bencana, dan transformasi pendidikan di era digital.

Pionir di Lhokseumawe, Pertamina Ubah Limbah Buah Jadi Probiotik untuk Petambak Udang

Pionir di Lhokseumawe, Pertamina Ubah Limbah Buah Jadi Probiotik untuk Petambak Udang

Pertamina mengembangkan probiotik MOL dari limbah buah pasar untuk membantu petambak udang Lhokseumawe menghadapi dampak perubahan iklim.

Dukung Aksi Iklim di Sumbar, PT Semen Padang Raih Penghargaan Hari Lingkungan Hidup 2026

Dukung Aksi Iklim di Sumbar, PT Semen Padang Raih Penghargaan Hari Lingkungan Hidup 2026

PT Semen Padang meraih penghargaan dari Pemprov Sumbar atas dukungan aktif dalam Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dan aksi nyata menghadapi perubaha

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer