Kanker Kepala Leher: Apa Yang Perlu Kita Ketahui?

19
Fathiya Juwita Hanum, Dosen Fakultas Kedokteran Unand

TANGGAL 27 Juli ditetapkan sebagai hari kanker kepala leher sedunia oleh International Federation of Head and Neck Oncology Societies (IFHNOS) sejak tahun 2014. Peringatan hari kanker kepala leher ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ini.

Dengan mengenali faktor risiko, gejala dan tanda kanker kepala leher kita dapat melakukan berbagai upaya pencegahan maupun mencari upaya pengobatan yang tepat.
Pada tahun 2020 diperkirakan terdapat lebih dari 500.000 kasus baru kanker kepala leher yang menyebabkan lebih dari 200.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia.

Di Indonesia kanker kepala leher menempati urutan kelima kanker terbanyak pada laki-laki. Secara epidemiologi kanker ini lebih sering mengenai laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 2 : 1.

Angka kematian kanker kepala leher tercatat cukup tinggi yaitu menduduki 10 besar kematian akibat kanker baik pada laki-laki maupun perempuan. Khusunya pada kasus kanker nasofaring.

Sesuai namanya kanker kepala leher menyerang organ yang ada di daerah kepala dan leher. Secara umum lokasinya meliputi area bibir, rongga mulut, nasofaring (daerah belakang hidung), orofaring (bagian belakang mulut, dasar lidah dan tonsil), hipofaring (bagian bawah faring), laring (pita suara dan epiglottis), sinus paranasal dan rongga hidung serta kelenjar liur.

Dikarenakan lokasinya, orang yang menderita kanker kepala leher akan mengalami kesulitan mengunyah, menelan, berbicara, mengalami gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, hingga gangguan jalan nafas.

Sekitar 85 persen kanker kepala leher berkaitan dengan kebiasaan merokok dan penggunaan tembakau. Tidak hanya perokok aktif yang berisiko, tapi perokok pasif juga terkena dampaknya.

Selain merokok, kebiasaan mengunyah tembakau atau mengendusnya juga meningkatkan risiko terkena kanker kepala leher. Kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol bersamaan dengan rokok berkontribusi pada 75% kasus kanker kepala leher.

Selain itu infeksi human papilloma virus (HPV) dan epstein–barr virus (EBV) juga dapat memicu munculnya kanker ini. Faktor risiko lain yang dapat meningkatkan kejadian kanker kepala leher adalah kebersihan mulut dan gigi (oral hygiene) yang tidak baik, pola makan tinggi garam seperti makanan yang diasinkan dan diawetkan, makanan yang dibakar, status gizi buruk/ malnutrisi, paparan bahan kimia dan riwayat keluarga dengan kanker.

Beberapa tanda dari kanker kepala leher adalah munculnya benjolan di daerah kepala dan leher dengan atau tanpa rasa nyeri, sariawan yang tidak kujung sembuh, bercak kemerahan atau berwarna putih pada mulut, pendarahan tidak normal seperti adanya mimisan dan gusi berdarah secara terus menerus, hidung tersumbat yang menetap, batuk, radang tenggorokan dan infeksi telinga berulang, telinga berdenging (tinitus), suara serak serta nyeri menelan (disfagia).

Pada tahap lanjut keluhan yang muncul sangat bergantung pada lokasi dan perluasan kanker. Pasien dapat mengeluhkan rasa nyeri disekitar lokasi kanker termasuk nyeri pada kepala, adanya penglihatan ganda (diplopia), kelumpuhan saraf pada wajah, adanya rasa baal/ kesemutan (parestesia), gangguan membuka mulut (trismus), bau mulut karena oral hygiene yang buruk (halitosis) serta andanya penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri untuk dapat mendeteksi kanker kepala leher khusunya kanker rongga mulut. Langkah pertama, berdiri di depan cermin dengan pencahayaan yang terang kemudian periksa apakah ada pembengkakan atau benjolan yang tidak biasa di daerah kepala dan leher.

Baca Juga:  Belut dan Politik Kebijakan Inovasi

Kedua, perhatikan apakah ada perubahan warna, ukuran atau terdapat luka pada tahi lalat. Ketiga, tekankan jari-jari secara perlahan di sepanjang sisi leher, termasuk bagian depan dan belakang leher untuk merasakan ada tidaknya benjolan.

Keempat, tarik bibir bawah untuk melihat apakah ada luka atau sariawan, gunakan ibu jari dan telunjuk untuk meraba bibir bagian atas dan bawah untuk merasakan adanya benjolan atau perubahan tekstur pada bibir.

Kelima, periksa bagian dalam pipi, perhatikan adakah bercak merah, putih atau gelap, gunakan ibu jari dan telunjuk untuk memeriksa ada tidaknya benjolan pada pipi. Keenam, dongakkan kepala ke belakang sambil membuka mulut untuk memeriksa langit-langit, perhatikan adakah perubahan warna atau terdapat benjolan di daerah tersebut.

Ketujuh, periksalah seluruh sisi lidah bagian atas, bawah, sisi kanan dan kiri, termasuk jaringan lunak di bawah lidah, perhatikan adakah pembengkakan, perubahan warna atau benjolan yang tidak biasa.

Tatalaksana utama kanker kepala leher meliputi tindakan operasi, kemoterapi dan radioterapi. Pilihan terapi ini bergantung pada stadium, lokasi kanker dan kondisi medis pasien atau ada tidaknya penyakit komorbid.

Dalam proses pengobatan kanker kepala leher akan melibatkan tim multidisiplin yang terdiri dari dokter THT onkologi, bedah onkologi, radioterapi, onkologi medik, gizi klinik dan rehabilitasi medik. Selain itu dalam penegakan diagnosis juga dibutuhkan peran dokter patologi anatomi, patologi klinik, radiologi dan kedokteran nuklir.

Tujuan dari pengobatan ini adalah mengupayakan pengobatan yang optimal terhadap pasien sekaligus memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Semakin awal pasien memeriksakan diri sejak muncul keluhan maka besar kemungkinan kanker yang terdiagnosis berada pada stadium dini sehingga keberhasilan terapi akan semakin meningkat.

Sebaliknya jika pasien terlambat berobat maka kankernya dapat menyebar ke organ lain sehingga upaya terapi optimal semakin sulit untuk dilakukan. Terapi bedah bertujuan mengangkat massa tumor dengan menyertakan sedikit jaringan sehat disekitarnya untuk memperkecil kemungkinan tersisanya sel kanker.

Apabila ada sel kanker yang tersisa pasca operasi maka berpotensi mengalami kekambuhan di kemudian hari. Tindakan kemoterapi menggunakan obat-obat sitostatika (obat untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel kanker) yang dimasukkan melalui pembuluh darah.

Kemoterapi biasanya diberikan dalam beberapa siklus untuk periode waktu tertentu. Beberapa efek samping kemoterapi diantaranya risiko nyeri, mual muntah, gangguan nafsu makan, rambut rontok hingga mulut kering.

Radioterapi dapat diberikan sebagai terapi tunggal, kombinasi dengan kemoterapi maupun sebagai terapi lanjutan setelah tindakan operasi dan kemoterapi. Radioterapi merupakan pengobatan kanker dengan menggunakan Sinar X berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker.

Pemberian radioterapi untuk tujuan kuratif (pengobatan) dapat diberikan sebanyak 30 hingga 35 kali (sekali sehari, lima kali seminggu). Dewasa ini pengobatan kanker semakin berkembang pesat, meskipun demikian upaya pencegahan jauh lebih utama untuk dilakukan.

Dengan mengetahui berbagai faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan kanker kepala leher, kita dapat mengupayakan berbagai tindakan preventif dengan menghindari kebiasaan merokok maupun berdekatan dengan orang yang sedang merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, menjaga kebersihan gigi mulut dan melakukan kunjungan ke dokter gigi, tidak bergonta-ganti pasangan untuk menghindari terinfeksi virus HPV serta melakukan vaksinasi HPV.

Selain melakukan upaya pencegahan, kita harus segera memeriksakan diri ke dokter bila mengalami gejala-gejala yang mengindikasikan kemungkinan kanker kepala leher seperti yang telah dijelaskan diatas. (*)