New Normal dan Momentum Perubahan Sosial

297
Petugas gabungan TNI/Polri bersiaga di pintu masuk Transmart Padang. Keberadaan personel di pusat berbelanjaan ini guna mendukung penerapan new normal di Kota Padang. (Foto: Sy Ridwan-Padang Ekspres)

Miko Kamal
Legal Governance Specialist

Diksi asing new normal sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia; kenormalan baru. Itu terjemahan resmi. Yang menerjemahkan Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Okezone.com, 28/5/2020).

Awalnya, new normal adalah terminologi yang digunakan dalam bidang ekonomi dan bisnis menghadapi krisis keuangan 2007-2008, yang berlanjut dengan resesi global tahun 2008 sampai 2012. Karena hantaman resesi global, para pelaku bisnis tidak mungkin lagi mempertahankan kebiasaan lama berbisnis yang selama ini mereka praktikkan. Cara-cara baru yang sebelumnya dianggap tidak biasa harus dimulai. Itulah esensi new normal.

Bagi saya, new normal yang sedang ramai dibincangkan tidak hanya sekadar mengubah kebiasaan pada saat vaksin pembunuh korona belum ditemukan. Lebih dari itu, new normal mesti diniatkan sebagai langkah awal terwujudya perubahan sosial. Perubahan dari praktik sosial yang amburadul menjadi praktik hidup yang tertata baik; praktik hidup sehat dan tertib sosial. Baik disaat vaksin belum ditemukan, maupun nanti di masa di depan, ketika vaksinnya sudah ada.

Praktik hidup sehat dan tertib sosial ini sejalan dengan titik tekan konsep new normal yang dikampanyekan World Health Organization (WHO). WHO ingin negara-negara di dunia menyiapkan dua protokol dalam menjinakkan korona, yaitu protokol kesehatan dan protokol jaga jarak (Kompas.com, 29/5/2020).

New normal—menjaga kesehatan dan menjaga jarak, bukanlah isu baru bagi masyarakat di negara-negara yang peradaban sosialnya sudah maju. Bahkan mungkin dianggap tidak terlalu penting. Alasannya, kedua hal itu sudah pakaian hidup sehari-hari masyarakat.

Orang Jepang sudah terbiasa bermasker ke mana-mana. Dalam keadaan sakit ataupun tidak. Tujuannya untuk melindungi diri sendiri dan juga orang lain. Bangsa Jepang juga terbiasa antre berjarak ketika menaiki bus umum atau menunggu giliran di restoran. Tidak berdesak-desakan. Masyarakat Jepang juga sudah terbiasa menjaga sungai mereka tetap bersih.

covidAdab hidup sehari-hari itu tidak hanya berlaku di Jepang. Jepang contoh saja. Di negara-negara maju lainnya juga begitu. Sebutlah Australia, Selandia Baru atau Singapura, misalnya.

—00—

Praktik kehidupan sosial kita memang sangat amburadulnya. Sampah berserakan di mana-mana. Sungai jadi tong sampah besar. Pergilah ke muara atau ke pantai setelah hujan agak besar mulai reda. Ragam sampah akan kelihatan. Mulai dari kasur, sofa, rerupa plastik, bangkai sampai pembalut wanita.

Tidak hanya itu, jalan raya juga berantakan. Klakson dibunyikan tiap sebentar. Bekas makanan seenaknya dilentingkan dari dalam mobil. Nenek-nenek tua yang sudah mematung di zebra cross bermenit-menit untuk menyeberang tidak diberi kesempatan. Memotong dari kiri atau kanan juga biasa saja.

Keamburadulan sosial juga tergambar dari perangai masyarakat memperlakukan trotoar bagus yang disediakan untuk pejalan kaki. Motor dan mobil rancaknya dipanjatkannya ke atas trotoar. Tanpa rasa bersalah. Tidak itu saja. Trotoar juga dijadikan tempat menggelar dagangan. Berubahlah trotoar sebagai area transaksi jual beli. Pejalan kaki gigit jari.

Soal antre di tempat umum jangan pula ditanya. Sebagian besar masyarakat tidak terbiasa melakukannya. Semua ingin dilayani lebih dahulu. Berdesak-desakan. Parahnya, masalah laku tidak pandai antre ini bukan saja monopoli masyarakat kecil yang tidak berpendidikan. Para pejabat dan orang-orang terdidik banyak juga yang melakukannya.

Tidak percaya? Lihatlah di tempat-tempat pesta. Para pejabat dan orang-orang terdidik dengan suka cita menerima tawaran pembawa acara memotong antre panjang untuk bersalaman dengan mempelai dan tuan rumah yang punya pesta. Tanpa rasa malu. Bahkan mungkin mereka justeru merasa sebagai makhluk yang paling hebat se dunia ketika diistimewakan seperti itu.

—00—

Menjadikan new normal sebagai momentum perubahan sosial sangat memungkinkan. Syaratnya satu saja; keseriusan. Semua pihak terkait harus serius. Terutama keseriusan pemerintah sebagai pihak terkait utama.

Keseriusan pemerintah dapat diukur dari ketepatan menetapkan sektor yang menjadi ujung tombak penerapan new normal. Menurut saya, sekolah, rumah ibadah, pasar, perkantoran, hotel, rumah sakit dan objek wisata adalah sektor utama penerapan new normal.

Keseriusan kedua dapat dilihat dari ketersediaan aturan yang menjadi guideline penerapannya. Aturan yang dibuat haruslah memuat sanksi yang jelas bagi pelanggar aturan new normal.

Keseriusan yang ketiga adalah tentang enforcement atau penegakan atas aturan new normal. Yang ini sangat penting. Pengalaman selama ini, kita cukup hebat merumuskan norma-norma hukum, tapi tak berdaya pada saat mengimplementasikannya.

Tidak ada pilihan lain, untuk mewujudkan new normal sebagai momentum perubahan sosial dalam waktu cepat, hukum harus ditegakkan secara konsisten. Saya percaya, perubahan sosial hanya bisa terwujud di bawah hunusan pedang. Sejarah mengajarkan begitu. Di negara hukum, penegakan hukum secara konsisten (konsistensi berhukum) adalah pedang tajamnya.

Bila pemerintah bisa seserius yang saya tulis di atas, insyaallah, pihak terkait lainnya serupa pelaku bisnis, pengurus masjid, pengelola perguruan tinggi (sekolah), dan lainnya akan ikut memegang erat ujung baju pemerintah untuk ikut serta menjadikan new normal sebagai momentum terbaik melakukan perubahan sosial.

Bayangan saya, saatnya nanti, korona pergi dan kita menikmati kehidupan sosial yang rapi. Bisa, jika kesempatan baik ini tidak disia-siakan. (*)