Mengasah Kemampuan Literasi di Tengah Covid-19

Menilik hasil PISA yang di bawah rata-rata, Mendikbud Nadiem Makarim menilai Indonesia sedang mengalami krisis literasi. (JPG)

Telah lebih sebulan sejak diumumkan pandemi korona masuk ke Indonesia. Penderita yang pertama diumumkan pada tanggal 2 Maret 2020 tersebut sebanyak dua orang. Setelah itu setiap hari pemerintah terus mengumumkan perkembangan data, baik wilayah sebaran maupun jumlah orang yang positif terpapar, Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Suspect, meninggal dunia maupun yang berhasil sembuh.

Dari update data tersebut, hingga 2 April 2020 atau tepat satu bulan sejak kasus pertama diumumkan Gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 merilis telah tercatat 1.790 pasien positif dengan angka kematian 170 orang. Kasus tersebut telah tersebar hingga 32 provinsi.

Pemerintah terus perupaya memutus rantai penyebaran pandemi korona tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah social distancing dengan menerapkan phycal distancing atau menjaga jarak. Karena penyebaran virus tersebut diketahui melalui droplet atau percikan cairan saat si penderita berbicara, batuk atau bersin. Sehingga Presiden mengimbau agar belajar, bekerja dan ibadah dilakukan di rumah. Hal itu kemudian ditindaklanjuti oleh kementerian/lembaga pusat sampai pemerintah daerah dengan mengeluarkan Surat Edaran.

Menjalani social distancing tersebut, berbagai kegiatan dilakukan guna mengisi waktu luang. Tujuannya untuk menghilangkan kejenuhan atau rasa bosan. Berbagai kegiatan penghilang jenuh tersebut dapat dilihat dari postingan di berbagai flatform media sosial. Salah satu kegiatan yang cukup banyak dilakukan saat menjalani social distancing tersebut adalah mengasah kemampuan atau bakat literasi. Sehingga alasan selama ini tidak cukup waktu untuk menekuni literasi, ternyata saat ini lah kesempatan untuk mengasah kemampuan tersebut.

Kemampuan literasi merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting untuk dimiliki setiap orang. Banyak ahli memberikan definisi literasi. Diantaranya,  menurut Kuder & Hasit literasi adalah proses membaca, menulis, berbicara, mendengarkan, melihat dan berpendapat. Sementara itu menurut UNESCO, literasi merupakan seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks dimana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya.

Pemahaman seseorang mengenai literasi ini akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional, institusi, nila-nilai budaya serta pengalaman. Oleh karena itu, literasi secara umum didefinisikan sebagai kemampuan membaca dan menulis serta menggunakan bahasa lisan. Bahkan saat ini, istilah literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas serta sudah merambah pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik.

Peringkat Literasi Indonesia

Menurut data UNESCO pada 2016, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Sehingga minat baca orang Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti. Hanya satu tingkat diatas Botswana, salah satu negara di Afrika yang berada di dasar klasemen. Sedangkn urutan nomor satu ada Finlandia, disusul Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, AS, dan Jerman. Negara yang berada di benua Asia, seperti Korea Selatan dapat ranking 22, Jepang ada pada ranking 32, dan Singapura berada di peringkat ke-36. Sedangkan negara Jiran Malaysia berada pada peringkat ke-53.

Sementara itu hasil penelitian PISA terhadap 70 negara menunjukkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia. Respondennya adalah anak-anak sekolah usia 15 tahun, jumlahnya sekitar 540 ribu anak. Hasilnya, Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei. Skor rata-rata untuk sains adalah 493, untuk membaca 493, dan untuk matematika 490. Adapun Skor Indonesia untuk sains adalah 403, untuk membaca 397, dan untuk matematika 386.

Munculnya Grup Literasi

Ada satu hal menarik, mungkin dapat disebut sebagai sebuah fenomena selama diberlakukannya kebijakan social distancing ini. Fenomena tersebut terjadi pada flantform media sosial, yaitu terbentuknya berbagai grup literasi. Mulai dari grup yang anggotanya pegiat literasi atau penulis profesional dan ada grup yang terdiri dari penulis pemula yang sedang berupaya mengasah kemampuan dan bakat literasinya.

Salah satu grup literasi tersebut adalah Kelas Menulis Online. Grup ini memanfaatkan flatform media sosial whatsapp. Dibuat pada tanggal 24 Maret 2020. Adapun yang menarik adalah beberapa saat setelah dibuat, ternyata permintaan bergabung sangat tinggi. Hingga tidak butuh waktu lama kapasitas anggota grup sudah penuh. Sehingga saat ini masih terdapat ratusan permintaan untuk dimasukkan. Kemudian yang lebih menarik lagi, ternyata peserta yang tergabung sebagai anggota grup tidak hanya dari Sumatera Barat, namun hampir merata dari seluruh wilayah Indonesia, bahkan ada beberapa anggota dari Jerman dan Malaysia. Pada umumnya anggota grup Kelas Menulis Online ini adalah penulis pemula.

Adapun yang bertindak sebagai admin grup sekaligus instruktur pendamping adalah Muhammad Subhan. Seorang pegiat literasi Sumatera Barat, yang bermukim di Kota Padang Panjang. Beliau telah melahirkan banyak karya literasi, diantaranya novel, cerpen, puisi dan sebagainya. Salah satu karyanya yang sangat terkenal, bahkan mendapat predikat best seller adalah novel Rinai Kabut Singgalang.

Dengan terbentuknya grup-grup literasi online tersebut, maka kejenuhan dalam menjalani social distancing di rumah dapat hilang. Diamping sebagai media untuk mengasah keterampilan literasi. Semoga. (*)

Penulis: Ahmad Fasni – Ketua Umum Ikatan Penyuluh KB Sumbar