Bung Hatta, Ulama tanpa Panggilan “Ulama”

Andrinof A Chaniago. (Foto: Dok. JPNN)

Andrinof A Chaniago
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas 2014-2015,
Wakil Komisaris Utama Bank Mandiri

Jenis pakaian yang menjadi penanda bagi orang awam untuk menyebut seseorang ulama ada beberapa macam. Ciri pakaian ulama itu sekaligus menandakan organisasi, komunitas atas paham keislaman ulama tersebut.

Nah, kebiasaan berpakaian proklamator dan Wakil Presiden RI pertama, Mohammad Hatta atau Bung Hatta, tidak termasuk salah satu di antara jenis-jenis pakaian ulama dalam anggapan awam tadi.

Pakaian yang biasa dipakai Bung Hatta kalau acara resmi atau acara keramaian hanya tiga: pakaian warna putih khas pemimpin pergerakan, atau jas, atau batik. Khusus batik, mulai rutin dipakai setelah mengundurkan diri sebagai wakil presiden tahun 1956.

Setelah tidak lagi jadi wakil presiden, karena sudah tidak sejalan lagi dengan Presiden Sukarno, Bung Hatta menjalankan peran sebagai pendidik, mengajar di UGM dan memberi ceramah di berbagai tempat. Selain itu, beliau menulis, sebagai pekerjaan intelektual yang sudah dikerjakannya sejak usia 19 tahun.

Karena Bung Hatta adalah pelahab berbagai buku, mulai dari ekonomi, hukum, tata negara, politik luar negeri, filsafat hingga agama, maka ceramah maupun tulisan-tulisannya selalu berisi solusi-solusi yang tidak terpikirkan oleh kalangan relatif terdidik sekalipun.

Selain bahasanya yang enak dan jernih, percikan-percikan pemikiran yang keluar dari tulisan dan kuliahnya memiliki landasan argumen dan penjelasan yang kuat.

Saya tidak berkesempatan menghadiri ceramah-ceramahnya Bung Hatta, karena ketika saya masih SMP beliau sudah wafat. Tetapi dari penuturan orang-orang kelahiran tahun 1930-an dan 1940-an, dari tulisan-tulisan tentang Bung Hatta, dan dari tulisan-tulisan Bung Hatta sendiri, saya meyakini ilmunya tentang Islam sekelas dengan ulama besar.

Dari tulisan-tulisannya yang membahas suatu tema dari perpektif Islam, susunan dalil Al Quran maupun dalil Hadist yang dikemukakan Bung Hatta sangat kuat dan jernih.

Saya meyakini, sepanjang masa bermukim sebelas tahun di Belanda, di mana sebagian besar waktunya dihabiskan untuk membaca, bacaan-bacaan agama termasuk yang ia kunyah. Tanpa itu, tidak mungkin ia bisa mengupas ideologi-ideologi Barat dari sudut pandang Islam. Itu baru dari segi isi pemikiran.

Dan, Bung Hatta tentu membaca buku dan kitab-kitab selama di Eropa. Sebelum dan sesudah kepergiannya ke Eropa, membaca adalah hobi utama dari Bung Hatta.

Kalau darah keturunan dan tradisi dalam keluarga dianggap penting sebagai salah satu jalan ke status ulama, Bung Hatta jelas memiliki itu. Kakek Bung Hatta, Haji Abdurrahman, adalah seorang bergelar Syekh di Minangkabau, bernama Syekh Abdurrahmsn dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Syekh Batuhampar. Sementara mengaji Al Quran sudah merupakan bagian dari kegiatan rutin Bung Hatta sejak usia bocah di kampungnya.

Tetapi, bagi saya, yang lebih menguatkan keyakinan saya untuk mengatakan Bung Hatta adalah ulama, selain Proklamator, negarawan, dan cendikiawan, adalah sikap perilakunya yang sulit dicari cacatnya sebagai seorang warasatul anbiyya (pewaris para nabi).

Dalam tutur kata, maaf, terpaksa saya membandingkan dengan ustad-ustad kondang zaman sekarang, yang sebagian dari mereka sekali-dua kali lidahnya masih suka terpeleset keluar dari ukuran Islami.

Dalam Islam jelas, sesuai ajaran Al Quran dan Sunnah Nabi, seorang muslim tidak boleh berkata buruk, atau kata-kata yang menimbulkan sakit hati orang lain. Pengecualian yang diberikan Allah, sebagai mana disebut dalam Al Quran, untuk mengeluarkan kata-kata buruk hanyalah bagi orang yang sedang dianiaya.

Selama Bung Hatta resmi berseberangan dengan Presiden Sokarno, Bung Hatta menjalankan cara-cara Islami dalam menyampaikan kritik-kritiknya kepada Presiden Sukarno.

Memang caranya tidak seperti praktik di zaman Khulafaur Rasyiddin, yakni menemui pemimpin itu langsung untuk membisikkan saran di ruang tanpa lampu penerangan. Karena situasi seperti zaman Khulafaur Rasyiddin itu tidak memungkinkan dilakukan, Bung Hatta melakukannya dengan berkirim surat.

Apa isi surat itu tidak pernah diumbar oleh Bung Hatta di depan publik. Seperti bahasa lisannya, bahasa dalam suratnya kepada pemimpin yang sah juga santun. Hanya ketika Presiden Sukarno tidak menanggapi surat-surat yang sudah dikirimnya berkali-kali, barulah Bung Hatta menulis surat agak keras. Tetapi bahasa tertulis yang keras itu bukan bahasa sarkas dan menyerang pribadi Sukarno.

Selain kesantunan sebagai pelaksanaan ajaran agama, sifat-sifat Islami lain juga melekat dalam keseharian Bung Hatta, seperti sangat jujur, sederhana, hemat tetapi tidak kikir, disiplin, kerja keras, dan sebagainya.

Praktik tidak memanjakan anak-anaknya dengan harta atau fasilitas, tetapi membekali dengan pendidikan, sifat disiplin dan kerja keras, saya yakin itu dengan merujuk pada bacaan-bacaannya tentang ajaran Islam.

Dari latar belakang darah keturunan, tradisi mengaji, porsi membaca buku-buku Islam, isi ceramah dan tulisan-tulisan, dan praktik tutur kata dan perbuatan sehari-harinya, Bung Hatta adalah ulama yang sekelas ulama besar.

Hal yang tidak dipunyai Bung Hatta dari ulama zaman sekarang adalah salah satu jenis pakaian dari beberapa jenis pakaian yang menjadi salah satu kriteria di kepala masyarakat untuk menyebut seseorang sebagai ulama.

Rawajati, 10 Ramadhan 1441 H.(*)