Patuh Protokol Covid-19 karena Tanggung Jawab

Media juga berperan bersama pemerintah dan masyarakat dalam melawan pandemi Covid-19.

Emeraldy Chatra
Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unand

Kunci kemenangan kita melawan Covid-19 terletak pada kepatuhan masyarakat menjalani protokol kesehatan. Patuh pakai masker, cuci tangan, jaga jarak. Kita kecewa karena ternyata masyarakat kebanyakan tidak patuh.

Apakah kita musti berpikir tentang sanksi? Boleh, tapi jangan sanksi diletakan di depan. Masyarakat kita cukup cerdik menyiasati sanksi. Jalan sosialisasi, pendidikan dan penyadaran sebaiknya tetap dikedepankan. Patuh karena sadar lebih baik daripada patuh karena sanksi. Masalahnya, apa yang kita sosialisasikan? Kemana perubahan mindset kita bawa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu kita perlu memahami karakter masyarakat kita. Kita bagian dari masyarakat yang memang tidak benar-benar patuh pada aturan apa pun. Termasuk pada aturan agama. Apalagi aturan lalu lintas, di tempat kerja, adat dsb. Kalaupun patuh, kepatuhan itu apa adanya saja. Asa utang ka babayia. Patuh itu ada kaitannya dengan rasa takut. Ada banyak bentuk ketakutan.

Takut kena penyakit atau rugi; takut membuat orang sakit atau celaka; takut kena hukum/denda; takut masuk neraka. Di Minang kebanyakan orang takut rugi atau memperoleh sesuatu yang tidak baik, termasuk penyakit. Tapi sebagian berusaha melawan rasa takut karena takut itu memalukan. Mereka menolak pakai masker karena merasa tidak takut, atau ingin menunjukan diri sebagai orang berani.

Di Minang ini ada pula yang istimewa. Orang takut jadi hina. Takut hina itu menyebabkan patuh sering dikaitkan dengan kehinaan, penindasan, takluk. Orang patuh dianggap orang penakut, tak punya harga diri. Orang mangarengkang karena takut dianggap rendah. Jarang yang mengaitkan kepatuhan itu dengan ekspresi rasa tanggung jawab atau kepedulian kepada kepentingan orang lain.

Mengaitkan kepatuhan dengan kehinaan jelas sebuah paham yang tidak benar. Begitu juga mengaitkan pembangkangan dengan keberanian. Alih-alih berani, sebenarnya itu sifat mementingkan diri sendiri dan konyol.

Sosialisasi, pendidikan dan penyadaran yang kita lakukan harusnya mengubah persepsi kepatuhan yang dikaitkan dengan kehinaan kepada rasa tanggung jawab. Jadi pakai masker, cuci tangan atau jaga jarak itu adalah wujud tanggung jawab kepada orang terdekat. Kata tanggung jawab ini yang harus ditonjolkan dalam sosialisasi.

Strateginya, kita harus membombardir dengan pesan. Buat poster, selebaran, video dan media apa saja yang menggunakan kata tanggung jawab. Arahkan kepada tanggung jawab terhadap anggota keluarga terdekat.

Pesan harus intensif dan mampu mengepung subjek. Harus banyak, baru efektif dan punya dampak perubahan. Sesuai dengan prinsip periklanan: daripada sedikit lebih baik tidak. Pesan itu baru efektif kalau orang tak punya kesempatan lagi untuk membantah.

Untuk membombardir perlu dibangun sistem komunikasi. Tokoh masyarakat sudah dilibatkan. Tinggal lagi mengorganisasikan mereka ke dalam sistem komunikasi. Melalui sistem komunikasi itulah masyarakat dibombardir dan dibanjiri dengan kata tanggung jawab. (*)