PAUD Kenapa Lupa?

37
ilustrasi. (net)

Elfindri
Direktur SDGs Unand

Presentasi calon gubernur dan pasangan pada episode debat Paslon Pilkada Sumbar Kamis 3/12 ditayangkan oleh TV One. Isu yang dibahas berkaitan dengan efisiensi pemerintahan, dan sumberdaya manusia. Mengingat banyaknya aspek yang dibahas, maka concern penulis adalah berkaitan dengan pembangunan manusia yang lebih spesifik dan memberikan harapan terhadap masa depan manusia yang tinggal di Sumbar.

Kami hanya ingin menyoroti tentang isu pendidikan dan mutu SDM. Mengingat ini bagian yang relatif tahan lama dan jika salah melaksanakan, maka kita kehilangan momentum dalam membangun. Kita bisa paham bahwa gubernur memiliki kewewenangan pada pendidikan menengah. Sementara kewewenangan untuk jenjang pendidikan dasar, SD dan SMP berbagai aspek. Oleh karena jawaban umum sudah dapat disampaikan oleh cagub dan cawagub.

Semua kita paham bahwa meningkatkan kualitas manusia setuju saja. Tapi, mesti didasari pada aspek apa yang yang menjadi akar masalah utama. Sehingga, usulan program kerja mesti sounding dan daya ungkit besar. Di antara program yang diusulkan dan yang lebih operasional adalah program pengiriman 1.000 anak Minang sekolah lanjutan (baik yang berbakat atau guru dosen) adalah operasional dan strategis dalam jangka panjang. Program ini diajukan oleh Buya Mahyeldi-Audy dan ini merupakan angin segar yang agak baru yang menarik.

Baca Juga:  Kompromi Bijak Melahirkan Fateta Unand

Alfa PAUD
Yang kami belum dengar dari program paslon adalah bagaimana proses pendidikan dan strategis pada jenjang usia ora sekolah. Yakni, pendidikan anak usia dini (PAUD). Tak satu pun kandidat yang menyadari bahwa ini siapa yang bertanggung jawab. Persoalan pendidikan kalau kita coba petakan sumber utama pembenahan ada pada jenjang awal masa manusia.

Mengingat, penguatan kualitas pendidikan PAUD ini menjadi daya ungkit tinggi dalam jangka panjang baik untuk penguatan kapasitas kognitif, termasuk penguatan sains dasar dan karakter. Maupun pembentukan karakter termasuk pengenalan agama tata krama dan curiocity manusia. PAUD ini tidak jelas siapa yang tangani. Jadi, tidak salah kalau gubernur juga mengajukan penjaminan agar akses pada PAUD bermutu terlaksana.

Jika sekarang capaian pendidikan PAUD dari segi akses baru sekitar 50 persen di Sumbar, itu pun belum berkualitas. Program yang diajukan mestinya bagaimana pendidikan ini diwujudkan sampai 90 persen bahkan lebih.

Kajian James Heckman (2008) Ekonom MIT dan peraih Nobel Ekonomi jelas memperlihatkan bukti secara empiris. Bahwa, investasi pada pendidikan pra sekolah memberikan pengembalian individu dan sosial yang besar dan strategis. Itu saja didorong tinggi dengan kesungguhan dalam jangka panjang akan mendongkrak kualitas. (*)