Covid-19 dan Kuadran Kesadaran Publik

Dua orang warga melintas di depan gang Jati IV RW 09. Jalan ini ditutup dari lalu lintas kendaraan untuk mencegah penyebaran virus korona atau Covid-19, Rabu (22/4). (Randi - Padek)

Sehari menjelang perpanjangan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Sumbar, Padang TV mengundang Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand dan Ketua DMI Sumbar untuk dialog evaluasi PSBB dan bagaimana ke depan lebih baik. Covid-19 saat ini realitasnya masih meningkat dan penularannya sudah taraf transmisi lokal. Cluster Pasar Raya Padang yang kontaknya lebih 1.000 orang adalah kerja berat, begitu juga klaster yang di Padangpanjang dan tempat lainnya.

Defriman Djafri PhD profesional kesehatan ini mengingatkan bahwa penghentian penularan Covid 19 ini hanya bisa berhasil bila kesadaran masyarakat untuk memenuhi protokol yang ditetapkan WHO berjalan efektif. Masalah besar di Sumbar adalah karakter masyarakat yang sulit disadarkan dan mereka memiliki konsep sendiri tentang Covid-19 ini.

Promosi, edukasi dan literasi Covid-19 masih jauh dari cukup dipahami masyarakat. Kuadran kesadaran hanya sebagian kecil yang menolong pencegahan penularan.

Kuadran Covid-19

Istilah kuadran digunakan oleh Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand Defriman Djafri PhD untuk menyampaikan tingkat kesadaran orang dalam menyikapi Covid-19. Setelah selesai PSBB tahap pertama ini realitasnya ada empat jenis kesadaran masyarakat yang itu menjadi pertimbangan untuk memperpanjang PSBB dua minggu ke depan.

Pertama, pengetahuan cukup tinggi dan kepedulian tinggi. Mereka yang memiliki pengetahuan cukup baik tentang bahaya, cara penularan dan akibatnya bila tidak terkendali, lalu disertai dengan kepedulian yang tinggi ini adalah paling baik, sayang ini jumlahnya terbatas sekali. Tipe ini adalah mereka yang menjadi lokomotif pencegahan, penularan dan siap membantu masyarakat menghadapi Covid-19 dan akibat lanjutannya. Mereka ini sahabat medis yang besar dukungannya bagi percepatan penanggulangan Covid-19 ini.

Kedua, pengetahuannya rendah, namun sangat peduli. Mereka yang pengetahuannya rendah, tetapi kepeduliannya tinggi. Kelompok ini cenderung panik, proteksi yang kelewat batas, bahkan melarang penguburan jenazah suspect Covid-19 di sekitar mereka. Mereka memberi stigma negatif pada orang dan keluarga yang terpapar. Jenis ini perlu diberi edukasi dan pemahaman medis dan keagamaan yang simultan.

Ketiga, mereka pengetahuan tinggi, tetapi kepedulian rendah. Tipe ini banyak ditemukan di kalangan orang mapan, orang status sosial tinggi, pejabat, tokoh, status quo, merasa hebat, politisi akut jabatan yang tidak mempertimbangkan akibatnya bagi penularan. Mereka jenis ini ada juga tenaga kesehatan yang lalai dalam tugas, lemah kepatuhan pada protokol dan akibatnya mereka menjadi carrier virus Covid-19. Jenis ini menyadarkannya sulit, perlu saksi sosial dan pressure media agar kembali ke niat yang tulus dan tidak merusak martabat dirinya.

Keempat, rendah pengetahuan dan rendah pula kepedulian. Tipe ini banyak dikarenakan alasan ekonomi, perut yang tak berisi, bantuan tidak jelas adanya, mereka yang nekad, termasuk faktor kurang pemahaman keagamaan, atau fanatik dan asal beda dengan pemerintah atau interest lain. Kelompok nekat, tak peduli aturan PSBB dan berada dalam tekanan ekonomi, kehidupan nyata adalah sangat mudah menjadi carrier dan berpotensi menimbulkan kerawanan sosial di luar prediksi ilmiah. Bantuan kebutuhan pokok tidak boleh lagi ditunda, jika PSBB mau diperpanjang tahap dua.

Evaluasi Kritis PSBB

Setelah 14 hari bagaimana efektivitas PSBB dalam menanggulangi Covid 19? Pertanyaan ini tidak bisa dilihat di jumlah kasus saja, akan tetapi dari proses pembelajaran masyarakat agar siap menghadapi wabah ependemi yang sewaktu-waktu dapat saja datang. Sukses PSBB bukan diukur dari jumlah kasus suspect, ODP, dan PDP saja, akan tetapi lebih banyak dilihat dari proses pemutus mata rantai yang sudah dijalankan.

Penghentian pesawat udara ke BIM Sumbar sesuai keputusan Menteri Perhubungan, check point yang sudah berjalan di batas wilayah provinsi dan kabupaten/ kota, rendahnya orang keluar masuk daerah, dan patuhnya masyarakat dengan protokol Covid, menjaga jarak, cuci tangan, memakai masker, tetap di rumah dan menghindari kerumunan, adalah indikator yang menentukan berhasil atau tidaknya PSBB. Dalam konteks ini, Sumbar dapat mencapainya walaupun perlu pengketatan lebih guna percepatan penanggulangan.

Dalam masa PSBB ini pemerintah belum maksimal mengedukasi masyarakat di pasar, tempat umum dan masjid juga belum seluruhnya memenuhi maklumat dan taushiyah MUI. Tidak bisa dipungkiri karena lemahnya pengendalian pasar dan tempat umum, menjadi alasan dari lebih 30 persen pengurus tetap bersikukuh Shalat Jumat, shalat jamaah dan tarawih. Dalam kasus tertentu, Masjid yang abaikan fatwa MUI pada umumnya karena beda paham keagamaan, taqlid guru, kaku (fanatik) dan yang memiliki paham asal beda dengan mainstrem atau efek 2019 pengalaman politisasi agama.

Gubernur dalam rapatnya dengan bupati/ wali kota akan memperpanjang PSBB karena diperlukan untuk menyiapkan masyarakat patuh pada pola hidup bersih dan kuat menghadapi pandemi Covid-19 dan ependemi yang bisa saja datang tanpa diketahui. Pemda meminta agar masjid dan mushala mematuhi taushiyah MUI dan kalaupun akan ada Jumat dan jamaah mesti ada jaminan pemerintah lokal dan pengurus masjid untuk menerapkan protokol Covid 19. Sebenarnya pihak Dinas Kesehatan dan tenaga medis adalah hilir dari penanggulangan Covid 19 ini, hulunya adalah kesadaran kolektif semua orang untuk menghentikan dan memutus mata rantai penularan.

Menjaga Rumah Ibadah

Kesadaran umat Islam untuk menjaga kemuliaan masjid di masa wabah ini adalah dengan teguh memenuhi tuntutan protokol Covid-19. Pengurus Pusat (PP DMI) sejak awal, tanggal 2 Februari 2020 sudah menurunkan edaran ke PW dan PD DMI se-Indonesia untuk melaksanakan gerakan kebersihan sanitasi masjid. Selanjutnya diikuti dengan Gerakan Bersih Masjid kerja sama dengan Unilever berupa pemberian alat kebersihan kepada masjid, sudah dikirim ke PD DMI kabupaten/ kota. Dalam pelaksanaan kegiatan ibadah DMI Sumbar mengacu pada Maklumat dan Taushiyah MUI Sumbar dalam frame ibadah beralih dari sunah ke sunah, dari azimah ke rukhsah.

DMI Sumbar dalam udaranya juga menegaskan bahwa pengantian Jumat dengan zuhur, peniadaan jamaah rutin dan kegiatan berupa kerumunan adalah ikhtiar kolektif sesuai syariat untuk menjaga umat dan sekaligus menjaga kemuliaan masjid. Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada masjid yang episentrum penularan, kecuali ada aktivis masjid yang terpapar Covid 19. DMI meminta pengurus masjid tetap bersungguh-sungguh menjaga dan meningkatkan kebersihan masjid dan mengendalikan Jumat dan jamaah. Pada masjid yang potensinya ringan dan jika sudah dibolehkan shalat Jumat dan jamaah agar tetap menetapkan protap Covid-19.

Closing statemen dari kedua narasumber sama-sama meminta kesadaran masyarakat untuk mematuhi protokol Covid-19, tetap di rumah, jaga jarak, pakai masker dan hindari kerumunan. Bersamaan itu diminta pemerintah lebih tegas mensosialisasikan, mengedukasi, literasi dan menindak secara humanis bagi masyarakat yang tidak peduli. Pemerintah diminta segera menyalurkan bantuan untuk mereka yang terbatas pengetahuan, rendah kepedulian, dengan alasan ekonomi, urusan perut tidak dapat ditunda lama, mereka rentan dengan penularan. Saling bahu membahu semua komponen adalah kunci memenangkan pertarungan melawan corona. PSBB bisa saja diperpanjang, efektivitasnya tetap pada kesadaran publik untuk peduli menjaga diri dan komunitas. Senin.04.05.2020. (*)

*Duski Samad – Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumbar