Yakin Lai, Kok Picayo Antah Lah…

135

Two Efly

(Wartawan Ekonomi)

Yakin lai, kok picayo antahlah (meyakini iya tapi memberikan kepercayaan masih bimbang). Seperti itulah perlakuan kita memperlakukan Bank Nagari Syariah. Ingin hadir Bank Umum Syariah namun masih belum mempercayai secara utuh Bank Syariah itu sendiri.

Kenapa begitu? Pertama mohon maaf, coba kita telusuri sudahkah seluruh pemiliknya menempatkan dananya di Unit Usaha Syariah? Jangan-jangan sampai detik ini seluruh pemerintah daerah selaku pemilik Bank Nagari masih menempatkan dananya di bank konvensional.

Penulis sendiri haqqul yakin sampai saat ini 90 persen pemerintah daerah se Sumatera Barat masih menempatkan dananya di Bank Nagari konvensional. Bisa jadi penempatan dana ini terkait dengan keterbatasan produk dan layanan dari Unit Usaha Syariah itu sendiri.

Kedua, mohon maaf, bukankah pertumbuhan kinerja Unit Usaha Syariah yang ada saat ini terasa bak pertumbuhan semu? Indikasi itu dapat dirasakan kalau kita betul-betul menguliti lebih dalam kinerja unit usaha syariah itu sendiri.

Tak tertutup kemungkinan ada migrasi potensi dari kantong kanan ke kantong kiri. Itu lumrah karena secara total tak akan mempengaruhi Bank Nagari itu sendiri karena antara Unit Usaha Syariah dan Bank Nagari Konvensional disatukan oleh laporan keuangan konsolidasi. Artinya, sulit dan kurang tepat pertumbuhan usaha itu dijadikan rujukan utama untuk mengambil keputusan untuk konversi atau spin off.

Kenali Anatomi Bank

Orang bijak berkata, “Tak semua yang kita tahu bisa kita sampaikan, tak semua kita pahami bisa kita ungkapkan”. Begitu juga dengan informasi di dunia perbankan. Banyak regulasi dan etik yang harus dijaga demi mewujudkan stabilitas sebuah lembaga perbankan. Kerahasiaan bank mesti menjadi prioritas utama demi menghindari gonjang ganjing informasi yang keliru.

Semua pihak bisa saja punya pandangan dan penilaian yang beragam tentang konversi atau spin off itu sendiri. Namun kita mesti sama sama sepakat bahwa dasar pijakan untuk melahirkan sebuah keputusan mesti berbasis data dan analisa. Jangan pernah memutuskan nasib sebuah bank dengan kacamata dan kepentingan politik. Sebab, sekali keputusan diambil maka tak bisa lagi dibalik ke belakang seperti semula.

Penulis berpandangan tak mudah untuk menghasilkan sebuah keputusan terhadap sebuah lembaga keuangan. Selain perlu kehati-hatian tingkat tinggi, dampak domino dari sebuah keputusan itu sangatlah berantai. Bisa bisa keinginan untuk melompat jauh ke depan justru hasilnya membawa lembaga itu sendiri surut ke belakang.

Kita ambil contoh kecil. Potensi cash out flow dari deposan jika konversi dilakukan sangatlah riskan untuk dilanjutkan. Memang betul secara jumlah, nasabah itu bisa dihitung dengan jari, namun secara nominal dananya sangatlah besar dan krusial.

Selain dapat memicu rush juga bisa menipiskan likuiditas Bank Nagari itu sendiri. Efeknya tentulah berantai, Tingkat Kesehatan Bank (TKB) terganggu, ekspansi kredit terkunci, ratio Non Perfomance Loan (NPL) bisa melambung dan laba bersih usaha sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurun tajam untuk beberapa waktu. Maaf, tak tertutup pula kemungkinan efek berantai ini mengantarkan Bank Nagari ke dalam status Bank Dalam Pemantauan.

Baca Juga:  "Ratok Anak Rantau"

“Apel vs Mentimum”

Mencontoh BPD Aceh dan BPD NTB tak ubahnya menyandingkan “Apel dengan Mentimun”. Latar belakang dan anatomi kedua bank itu jauh berbeda dengan kita. Bank Aceh pasti bisa dan memang harus menjadi Bank Umum Syariah karena Qanun nya yang mewajibkan Syariah. Sementara Bank NTB hanya BPD kecil diantara puluhan BPD lain di Indonesia dengan Likuiditas dari Pemerintah daerah yang sangat gemuk.

Saat konversi BPD NTB assetnya tak lebih dari Rp 8 triliun dan Intermediasinya tak lebih pula dari 65 persen. Mayoritas likuiditasnya bersumber dari dana pemerintah daerah se provinsi NTB. Ditahun pertama konversi terjadi penurunan asset mencapai 30 persen akibat cash out flow.

Namun penurunan asset yang bersumber dari berkurangnya Dana Pihak Ketiga (DPK) tak membawa dampak apa apa karena masih mampu meng-cover oleh likuiditas pemerintah daerah. Bank Nagari tak lah segemuk itu likuiditasnya dari Pemerintah Daerah. Untuk itu hentikanlah memperbandingkan dan mengikuti BPD Aceh dan BPD NTB karena itu tak ubahnya membandingkan antara “Apel dengan Mentimun”.

Besarkan Unit Syariah

Sebagai anak Minang kita harus arif membaca tanda-tanda alam. Wabah yang datang bisa menjadi pertanda dan momentum bagi kita mengevaluasi diri serta kebijakan yang sudah kita ambil. Bisa jadi itu “alarm” dari yang kuasa agar tidak “tasorong” terlalu jauh. Bank Himbara yang dilipat dari tiga bank menjadi satu bank dengan Call Send Bank Syariah Indonesia bisa juga dijadikan pertanda.

Satu hal yang pasti, kondisi ekonomi saat ini sangatlah tak mendukung untuk memulai usaha baru apalagi membuka bank baru sekelas bank buku 2. Konversi riil-nya adalah membuka usaha baru dan memulai dengan sistem baru. Tundalah untuk sementara waktu keinginan konversi itu hingga datangnya momentum yang tepat sambil terus membesarkan Unit Usaha Syariah itu sendiri secara nyata.

Lebih arif dan bijak rasanya kalau kita membesarkan dulu Unit Usaha Syariah itu sendiri. Berikan waktu kepada manajemen baru Bank Nagari yang baru dilantik beberapa bulan lalu untuk memulihkan kinerja Bank Nagari.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membesarkan Unit Usaha Syariah tanpa harus mengusik Bank Nagari konvensional. Bisa saja Unit Usaha ini didorong untuk mengakuisisi seluruh BPR di Sumbar, khusus BPR yang berada dibawah binaan Bank Nagari itu sendiri.

Bank hasil akuisisi inilah kelak yang menjadi lokomotif menderek indeks literasi syariah masyarakat Sumatera Barat dari 9 persen menjadi lebih besar lagi. Bila Unit Syariah sudah membesar dan literasi sudah tinggi maka disitulah kita memutuskan untuk konversi atau spin off.

Penulis melihat menunda bukan berarti menyerah apalagi kalah. Orang bijak berkata menunda kadang kala adalah langkah bijak untuk sukses lebih besar dimasa mendatang. (*)

Previous articleGempa 5,8 SR Guncang Tuapejat, Arif: Situasi masih Aman
Next articleGempa Kuat Kembali Guncang Sumbar, Ini Penjelasan BMKG