Waktunya untuk Alam

45
(Foto: IST)

Wilson Novarino
Ketua Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Andalas
Dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas

September 1962 sebuah buku ilmiah popular “The Silent Spring” membuka wacana baru dalam dinamika pelestarian lingkungan dunia. Buku karangan Rachel Carson tersebut menceritakan tentang musim semi yang sunyi, tanpa dihiasi oleh kicauan burung dikarenakan pengggunaan pestisida yang berlebihan pada akhir tahun 1950-an. Buku tersebut sampai sekarang dijadikan sebagai salah satu dari 25 buku ilmiah terbaik di dunia.

Buku ini juga telah menjadi inspirasi diadakannya pertemuan Badan Perserikatan Bangsa-bangsa terkait “Human Habitat” di Stockholm Swedia  tanggal 5-16 Juni 1972.  Pertemuan tersebut menyatakan bahwa diperlukan adanya rencana yang baik dalam pemanfaatan sumber daya alam, pengembangan permukiman, pengendalian pencemaran lingkungan dan penyadartahuan akan arti penting lingkungan. Salah satu bentuk kegiatan penyadartahuan lingkungan adalah dengan menetapkan 5 Juni sebagai hari Lingkungan Hidup Dunia, dan kemudian mulai diperingati semenjak tahun 1974.

Tahun 2020, tema peringatan Hari Lingkungan Hidup Dunia adalah “Time for Nature” yang secara harfiah bisa kita terjemahkan “Waktunya untuk Alam”, dengan menekankan fungsi alam sebagai prasarana paling mendasar bagi manusia untuk menjalani kehidupan. Namun “Time for Nature” juga bisa kita maknai sebagai memberikan waktu untuk alam memulihkan dirinya.  Saat merebaknya Covid-19 yang disikapi dengan kebijakan “lockdown” pada beberapa negara, dengan sangat minimnya pergerakan manusia dilaporkan adanya penurunan tingkat polusi udara, bersihnya kembali air sungai dan hadirnya kembali berbagai satwa pada area perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya hubungan berbagai aktivitas manusia dengan kondisi lingkungan yang ada disekitarnya.

“Time for Nature” juga bisa kita artikan sebagai kembali ke nilai-nilai alamiah yang kita miliki.  Sesuatu yang sangat melekat erat dengan filosofi masyarakat Sumatera Barat yakni “Alam Takambang Jadi Guru”.  Sebuah akar pemahaman yang sangat menarik bahwa kebudayaan, daya cipta dan pengetahuan suatu kelompok masyarakat dikembangkan dari pembelajaran yang diambil dari lingkungan sekitar. Hal ini tercermin pada berbagai petatah petitih yang menggambarkan tentang tata kelola lingkungan, hubungan sosial dan kreasi yang memperhatikan dan mempertimbangkan kaedah alami. Tentunya pemahaman tersebut tidak muncul tiba-tiba, dibutuhkan proses melihat, mengamati, memikirkan dan menghayati semua kejadian alam sehingga menjadi sebuah kearifan yang bisa diwariskan dari generasi ke generasi.

Proses inilah yang sekarang jauh berkurang. Perubahan pola kehidupan yang lebih banyak dikungkung oleh ruang-ruang persegi, mulai dari rumah, sekolah, kantor, moda transportasi,  ditambah dengan dunia digital yang ada dalam genggaman, menyebabkan pemahaman dan keterikatan generasi sekarang dengan alam sekitar menjadi sangat berkurang.  Berkurangnya keterikatan dengan alam lingkungan bisa memicu berkurangnya kepedulian terhadap lingkungan. Karenanya tema hari Lingkungan Hidup sedunia “Waktunya untuk Alam” menjadi sesuatu yang sangat tepat sekali.

Tema Hari Lingkungan Hidup kali ini juga sangat berkaitan dengan permasalahan lingkungan dewasa ini. Permasalahan lingkungan merupakan sesuatu yang sangat dinamis. Jika pada awal berkembangnya isu lingkungan yang menjadi masalah adalah adanya polusi pestisida, sejalan dengan waktu isu yang dihadapi berubah dan berkembang seperti isu polusi udara, menipisnya lapisan ozon, pencemaran air, pemanasan global, perubahan iklim, limbah plastik dan kehilangan keanekaragaman hayati. Kehilangan keanekaragaman hayati dengan banyak diantaranya yang belum dimanfaatkan, atau bahkan belum dikenali secara ilmiah menjadi kekhawatiran dewasa ini. Hal ini juga menjadi salah satu pendorong yang mendukung tema “Time for Nature”. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana kita menyikapi perubahan tersebut? Hal yang paling sederhana adalah kembali meluangkan waktu untuk kembali melangkahkan kaki di sekitar tempat tinggal kita, mencermati keberadaan tanaman, hewan dan pemandangan. Jika dilakukan pada pagi hari, dengan adanya sinar matahari tentu bisa memberikan asupan vitamin bagi tubuh. Berjalan juga memberikan latihan bagi rangka tubuh sehingga bisa mengurangi potensi osteoporosis.

Jalan pagi juga memberikan kesempatan bagi kita untuk mengamati dan memahami proses-proses yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Hal ini secara perlahan akan kembali meningkatkan keterkaitan kita dengan lingkungan dan  menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih baik.

Dalam buku “Forest Bathing” karangan Dr. Qing Li, seorang dokter di Jepang menyatakan bahwa pergi ke hutan dan bernapas di bawah rimbunan sebatang pohon bisa meningkatkan kesehatan seseorang. Hal yang sangat bisa dipahami karena sebatang pohon bisa menghasilkan oksigen murni dalam jumlah yang sangat banyak melebihi kebutuhan bagi satu individu manusia. Namun ternyata hal ini bukan masalah fisik semata, keberadaan seseorang di alam luas ternyata bisa membuka cakrawala spiritual sehingga mampu menimbulkan ketenangan hati. Hal ini mungkin yang dialami generasi yang melakukan “batarak”, bertapa, atau “kungkum” (berendam di air pada malam hari), sehingga generasi tersebut memiliki tingkat pemahaman dan kepedulian lingkungan yang sangat baik.

Uraian tersebut memberikan gambaran bagi kita bahwa lingkungan dan sumber daya alam yang ada di sekitar kita, selain memiliki nilai pemanfaatan langsung, terbukti juga memiliki bentuk pemanfaatan tidak langsung yang bahkan tidak berhingga nilainya. Seandainya tidak ada tumbuhan dan hewan di sekitar generasi pendahulu, tentu tidak ada tamsil dan perumpamaan yang mewarnai petatah dan petitih yang kita warisi saat ini. Kita mungkin juga tidak akan mewarisi silek harimau, berbagai pola ukiran, tari-tarian, ataupun kaba yang menjadi suri tauladan budi pekerti kita.

Lingkungan dan alam yang asri berperan besar dalam memberikan ruang untuk tumbuhnya pemikiran yang jernih. Kebiasaan mencermati dan memahami proses alam, akan membangun kemampuan anlisis dan pemahaman kita. Karenanya, sejalan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, kita perlu memberikan waktu untuk tubuh dan alam fikiran kita, sebagai bagian dari ekosistem alami, untuk berinteraksi dengan lingkungan alaminya. Keterkaitan kita sebagai individu dengan alam yang memberikan nutrisi jasmani dan rohani kepada kita tentunya bisa berperan menjaga keseimbangan alam. Selamat hari lingkungan hidup. (*)