Kereta Api(k) Silokek

27
Mahyeldi Ansharullah Gubernur Sumatera Barat

PEKAN lalu saya naik kereta api. Tidak jauh. Dari Bandara Minangkabau menuju Stasiun Simpang Haru. Sudah lama juga rasanya tidak naik kereta api. Rindu, tapi baru sekarang bisa terobati.

Kereta api yang saya tumpangi terbilang ekspres. Gerbongnya lapang. Berpenyejuk dan nyaman. Kaca jendelanya besar. Sehingga Saya leluasa memandangi Kota Padang di sepanjang perjalanan.

Saat memandangi Kota Padang dari atas kereta, pikiran saya melayang jauh ke suatu daerah. Muaro Silokek namanya. Berada di Kabupaten Sijunjung, tempat “lansek manih” ditanam dan berproduksi.

Silokek memang menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Daerah ini merupakan desa wisata. Silokek dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 oleh Kemenparekraf.

Diakui memang, Silokek punya keindahan yang mamikek (memikat) hati siapa saja yang sudah pernah singgah di daerah itu. Bagi saya, daerah ini cukup sejuk karena berada di ketinggian 150-200 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 23-24 derajat celcius.

Ketika saya ke sini, banyak ditemukan bebatuan purba yang diperkirakan berusia 260 sampai 320 juta tahun. Menariknya, sejak beberapa waktu belakangan, Silokek memang menjadi tujuan para peneliti.

Akademisi, sejarawan, dan lainnya datang untuk penelitian geologi. Saya pun tak heran jika desa yang masih terbilang asri yang dikelilingi tebing-tebing bebatuan tinggi itu bisa tersohor ke mana-mana. Silokek telah mengambil hati siapa saja.

Daerah ini mengedepankan konservasi alam yang telah bersertifikat Geopark Ranah Minang Silokek pada 10 November 2018 lalu. Kini tengah berupaya agar Geopark Nasional Ranah Minang Silokek naik status menjadi Geopark Global UNESCO.

Tentunya, “sekeping surge” di Sijunjung ini perlu dukungan banyak pihak. Saya berharap dukungan terbesar datang dari Pemkab Sijunjung. Terutama dalam mengumpulkan bukti otentik, dokumen sejarah terkait Minangkabau, PDRI, sejarah kereta api di Sijunjung dan lainnya.

Saya pernah baca, dulunya di masa penjajahan Jepang, ada lokomotif uap yang direncanakan menjadi alat transportasi pengangkut batubara dari Ombilin menuju Pekanbaru. Lokomotif uap itu memiliki panjang 8 meter lebih, beroperasi melewati Siloge. Bertahun setelah itu, lokomotif bersejarah itu ditemukan warga sekitar tahun 1980 di Silokek.

Baca Juga:  Pabrik Pakan Mandiri

Ditemukannya lokomotif uap ini menandakan bahwa pada masa penjajahan dulu, kereta api menjadi alat angkut yang terbilang cepat. Kereta api merupakan pilihan utama bagi penjajah karena terbilang aman dan memiliki jalur khusus.

Namun, seiring perubahan zaman, kereta api di Sumbar sudah mulai ditinggalkan. Kereta api hanya tinggal jalurnya saja. Praktis, saat ini kereta api hanya melintas di dua daerah di Sumbar, yakni Kota Padang dan Kabupaten Padangpariaman.

Saya membayangkan, jika Geopark Nasional Ranah Minang Silokek naik status menjadi Geopark Global UNESCO, jalur kereta api di Sijunjung diaktifkan kembali. Paling tidak, ada gerbong kereta api yang mengangkut wisatawan yang datang. Menikmati indahnya Silokek atau Sijunjung dari atas kereta api.

Dalam pikiran Saya, kereta api yang hanya satu atau dua gerbong didandan lagi agar nyaman dinaiki. Interior kereta dibuat apik. Terdapat museum mini di dalam kereta api tersebut. Memajang foto lama masa penjajahan termasuk foto keindahan Silokek. Wisatawan dapat menaikinya secara gratis.

Tentunya hal ini akan menjadi daya tarik sendiri bagi siapa saja yang ingin ke Sijunjung. Apalagi saat ini masyarakat rindu dengan kereta api, seiring makin bertambahnya jumlah kendaraan di jalan umum. Karena memang sejak beberapa tahun belakang Saya berharap masyarakat lebih menikmati moda transportasi kereta api. Karena kereta api tak mengenal macet.

Hal ini pernah saya lakukan saat di Kota Padang. Menghidupkan kembali jalur kereta api menuju Pulau Air, dekat Muaro, Padang. Tak perlu waktu lama, PT KAI merenovasi jalur dan Stasiun Pulau Air yang sebelumnya “mati suri”. Kini, kereta api sudah membelah Kota Padang, dari Lubukbuaya (Utara) ke Pulau Air (Selatan).

Lamunan saya terhenti ketika kereta yang saya tumpangi sampai di Stasiun Simpang Haru. Bunyi klakson kereta sempat mengagetkan saya. Sebelum turun, Saya melihat anak kecil yang dipangku ibunya yang akan naik kereta api lain.

Wajahnya senang, seriang hatinya yang akan berpesiar dengan kereta. Semoga di Silokek sana, kereta api akan membuat riang hati anak kecil dan siapa saja yang datang. Karena hati yang riang adalah obat. (*)