Bangkitkan Lagi Ekonomi Kota Padang

57

Oleh : Two Efly

Emak: Ayo Rafael, sini, baca ini !!
Emak : Pancasila, Satu. Ketuhanan yang maha esa
Rafael : Pancasila, Satu. Ketuhanan yang mana esa
Emak : Ketuhanan yang Maa haa esa
Rafael : Ketuhanan yang Mana esa.
Emak: M a : ma, H a : Ha, Maha
Emak: Ketuhanan yang Maha Esa
Rafael : Ketuhanan yang Mana esa
Dst …

Begitu adengan video yang viral ketika seorang ibu dengan logat Batak mengajarkan anaknya di Sekolah Dasar, membaca Pancasila. Video terlihat sangat lucu bagi kita yang menontonnya. Namun bagi sang ibu dan orang yang pernah merasakan justru sebaliknya. Betapa sedih bercampur rusuhnya kita melihat dunia pendidikan saat ini.

Siapa yang salah? Tak ada yang bisa disalahkan. Corona mengubah semuanya. Seorang ibu harus berganti profesi sebagai guru. Selain mengurusi kehidupan dan kebutuhan rumah tangga, sang ibu pun harus memerankan diri menjadi guru.

Gedung DPRD Padang
Rabu 30 September kami berdiskusi cukup panjang lebar dengan anggota Komisi I DPRD Kota Padang Budi Syahrial. Dalam diskusi itu beliau mengungkapkan betapa pentingnya stimulus dan trigger ekonomi dilakukan agar Kota Padang kembali bangkit pasca terjerumus akibat PSBB sebagai upaya membatasi penyebaran Covid-19.

Omset pedagang di pasar raya melorot hingga mencapai 60 persen. Toko toko banyak yang tutup karena sepinya pembeli. Kalaupun buka, untuk biaya operasional saja tak tertutupi. Lah gadang pasak daripado tiang. Kondisi ini dirasakan oleh hampir seluruh pedagang.

Sebagai warga Kota Padang, kita harus berpikir dan membantu agar ekonomi kota ini kembali bangkit. Salah satu cara adalah kembalikan Proses Belajar dan Mengajar (PBM) seperti sediakala yang disesuaikan dengan Perda No 6 tahun 2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

“Hari ini saya tantang Pemko Padang untuk mulai melaksanakan aktivitas Proses Belajar dan Mengajar dengan tatap muka yang disesuaikan dengan Adaptasi Kebiasaan Baru” tuturnya.

Kampus I Universitas Bung Hatta
Kamis,1 Oktober dalam sebuah diskusi ringan dengan dosen Penataan Wilayah pada Fakultas Teknil Sipil Perencanaan Univ Bung Hatta kembali pentingnya beraktivitas seperti sedia kala dengan melaksanakan protokol kesehatan menjadi bahasan.

“Kampus hari ini betul-betul sepi, aktivitas akademik berjalan dengan daring. Akibatnya multiplier efek ekonomi di kawasan kampus menjadi mati suri. Ini tak bisa dibiarkan. Apalagi pendidikan bukan saja soal ilmu semata mata”, ujar Haryeni.

Pantauan penulis di lapangan, sepinya aktivitas tak saja di kampus Universitas Bung Hatta. Namun, seluruh kampus di Kota Padang mengalami kondisi yang sama. Wilayah yang selama ini menjadi sentra ekonomi di kawasan pendidikan itu kini mati suri. Sebutlah kawasan Air Tawar, Tabing, Koto Tangah, Kawasan Pauh dengan Kampus Unand-nya, Kawasan Lubuk Lintah dengan IAIN Imam Bonjol-nya.

Intinya semua kawasan di keliling kampus hari ini sepi aktivitas. Tak ada lagi pendapatan sewa rumah, tak ada lagi bisnis chatering atau rumah makan, tak ada lagi bisnis fotokopi, warnet beserta sektor usaha turunan lainnya di kawasan pendidikan.

Sampai kapan? Entah lah. Pandemi ini tak jelas kapan berakhirnya sementara ekonomi Kota Padang sudah terlanjur terjerumus. Perlu langkah nyata dan keberanian dalam mengambil kebijakan bagi pemerintah Kota Padang khususnya dan Sumatera Barat umumnya. Ekonomi ini harus dibangkitkan kembali, jangan biarkan jantung bisnis Kota Padang omsetnya melorot hingga 60 persen lagi. Perlahan kita harus bangkit. Lakukan apa yang bisa dilakukan demi menyelamatkan ekonomi Kota Padang ini.

Penulis sepakat dengan dua ide dari diskusi informal bersama legislatif dan akademisi di awal tulisan ini. Kota Padang adalah Kota Pendidikan dan tak seorang pun bisa membantah itu. Selama ini ekonomi Kota Padang di trigger oleh sektor pendidikan. Baik itu pendidikan tinggi maupun pendidikan menengah. Ada hampir 200 ribu mahasiswa yang menuntut ilmu di Kota Padang. Ada puluhan perguruan tinggi dalam bentuk akademi, Institute, Sekolah Tinggi, Universitas, Pasca Sarjana hingga Doctoral. Inilah lokomotif utama ekonomi kota Padang.

Kini dengan hadirnya dan disetujuinya Perda No 6 tahun 2020 tentang Adaptasi kebiasaan Baru (AKB) oleh Kementrian Dalam Negeri sudah saatnya pemerintah Sumatera Barat dan Kota Padang memberlakukannya. Ambillah langkah berani demi menyelamatkan ekonomi.

Baca Juga:  Pasan Mandeh

Aktifkan kembali proses belajar mengajar dengan pola tatap muka. Pola ini diberlakukan secara bertingkat. Mulailah dari Pendidikan Tinggi dan Sekolah Menengah Atas. Mereka itu sudah remaja dan dewasa. Sudah relatif bisa menjaga dan merawat diri. Mereka itu sudah mulai tahu mana yang baik dan mana yang buruk.

Kalaupun tak bisa dilaksanakan dengan kapasitas 100 persen karena kondisi roombel, lakukanlah dengan kapasitas 50 persen. Kalaupun 50 persen tak memungkinkan, lakukan dengan 30 persen. Kalaupun tak mungkin 30 persen, berlakukan untuk 25 persen roombel.

Pola pembelajaran bisa dilakukan dengan kombinasi. 30 persen dari jumlah mahasiswa per roombel belajar tatap muka di kelas. Sedangkan 70 persen lagi tetap belajar secara bersamaan dengan pola daring. Pola ini digilirkan hingga ada pemerataan bagi siswa dalam mendapatkan pelajaran.

Bak sakali marangkuah dayung, duo jo tigo pulau talampaui. PBM tatap muka menghadirkan banyak manfaat. Di antaranya, pertama terjaganya mutu pendidikan. Harus kita akui belajar daring sangat tak efektiv. Pasalnya, guru atau dosen tidak bisa mengelaborasi siswanya dengan baik karena aura belajar sama sama tidak didapatkan. Proses belajar mengajar lebih cenderung satu arah bak membaca Khotbah Jumat. Akhirnya, sang pengajar bersikap aktif sementara sang murid lebih bersikap pasif. Padahal hakiki belajar itu adalah sama-sama aktif.

Pendidikan bukan hanya semata mata soal ilmu. Pendidikan itu sangatlah luas. Dalam proses belajar mengajar inilah guru/dosen menanamkan nilai dan etika sebagai upaya membentuk watak serta karakter masa depan anak bangsa. Kalau hanya sebatas ilmu, kita bisa saja memberikan dan menyuruh anak didik membaca buku atau searching di google. Semuanya ada disitu dan itu jauh lebih simple tanpa musti mengeluarkan biaya tinggi. Tapi siapa yang bisa mempertanggungjawabkan kualitas sang murid. Baik dari sisi penguasaan ilmu maupun etika beserta wataknya.

Kedua, hadirnya trigger ekonomi. Seiring beraktivitasnya kembali dunia pendidikan maka kebutuhan konsumsi lebih kurang 200 ribu mahasiswa itu kembali akan bergulir. Memang bergulirnya tak seperti sedia kala. Bisa saja bergulirnya hanya 30 persen atau 50 persen. Daya ungkit ekonomi dari 30 persen itu perlahan lahan bisa memunculkan kembali harapan bangkitnya ekonomi Kota Padang. Jika seorang Mahasiswa itu membelanjakan uang untuk konsumsi sehari Rp 50 ribu maka itu setara dengan Rp 10 Milyar per harinya.

Ketiga, mengembalikan peran pendidik. Hari ini orang tua betul betul berperan ganda. Semenjak proses pembelajaran daring justru yang menjalani aktivitas belajar adalah si orang tua khususnya sang Ibu. Sementara sang ibu sendiri tak semuanya memiliki basis ilmu pendidikan. Akibatnya, sangat banyak orang tua yang stress. Bahasa lapaunya, awak nan sikolah, nan anak santai santai se, paniang wak.

Secara psikologi, kedekatan hubungan antara orang tua dan anak menjadi tembok tebal dalam menyampaikan mata pelajaran terutama untuk anak anak di kelompok Sekolah Dasar. Sudah banyak video video lucu dan viral di jagad medsos. Isinya menggambarkan betapa stress dan paniknya orang tua mengajarkan anaknya. Ada yang emosional, ada yang tabik tangih rusuah. Itulah fakta yang terjadi. Bagi anak anak, pendidik yang benar itu adalah guru. Kalaupun orang tuanya juga guru, bagi sang anak guru yang benar adalah guru di sekolahnya.

Penulis melihat kesehatan dan keselamatan jiwa sangat penting. Namun, masa depan anak bangsa ini juga penting diselamatkan. Kita hidup bukan hari ini saja, ada masa depan yang panjang didepan mata kita. Tak terbayangkan oleh kita bangsa ini mengalami loss generasi kualitas pendidikan lima tahun ke depan. Untuk itu, ayo kota Padang kita bangkit. Berlakukan kembali proses belajar mengajar tatap muka sesuai dengan Adaptasi Bebiasaan Baru. Bak saka li mambukak puro, duo jo tigo hutang ta bayia. ***