Ramadhan, Kendalikan Makan

Ilustrasi. (sumber; internet)

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, kita sudah melewati 10 hari pertama bulan Ramadhan. Di tengah penyebaran wabah Covid-19 kita harus menyesuaikan diri antara melaksanakan ibadah puasa dengan mengikuti aturan yang berlaku seperti menjaga jarak fisik dan sosial, menggunakan masker, menjauhi kerumunan, dan mencuci tangan. Dengan demikian, insya Allah kita bisa melewati bulan Ramadhan dengan baik dan lancar.

Jika tidak ada pandemi Covid-19 maka di saat ini sebagian kita biasanya sudah memiliki agenda buka puasa bersama. Baik dengan keluarga, teman sekantor, teman sekolah atau alumni, acara kantor, acara organisasi, acara sosial, dan lainnya.

Namun ternyata saat ini kita tidak bisa melakukannya karena kita harus melakukan jaga jarak fisik dan sosial. Tidak boleh berkumpul atau berkerumun, karena berpotensi tertular atau menularkan. Saat ini pertambahan pasien positif Covid-19 kebanyakan karena transmisi lokal. Yaitu penularan antara warga lokal. Maka kerumunan atau kumpulan orang jangan dilakukan, mengingat potensi penularan semakin besar.

Selain jaga jarak fisik dan sosial, kita juga harus memakai masker ketika keluar rumah. Ketika bertemu potensi kerumunan, maka harus dihindari. Jangan menambah kerumunan yang ada.

Sebagai umat beragama dan juga hamba Allah SWT, di balik setiap peristiwa biasanya ada hikmah yang bisa diambil. Seperti tidak bisa berbuka puasa bersama di bulan Ramadhan kali ini. Di acara buka puasa bersama, kadang makanan dan minuman yang diambil tidak dihabiskan, sehingga ada yang tersisa. Kondisi demikian bisa terjadi hampir setiap tahun, di saat situasi normal.

Padahal seharusnya menahan makan dan haus di saat puasa juga diikuti dengan mengendalikan makan ketika berbuka. Jangan sampai ada makanan yang tersisa. Berbuka puasa adalah bagian dari mensyukuri karunia Allah SWT. Bukan untuk melampiaskan nafsu yang menyebabkan makan tidak bisa dikendalikan dan ada yang tersisa.

Jadi, dari uraian di atas, hikmah dari berpuasa di tengah pandemi Covid-19 adalah kita diminta mengendalikan makan dengan tidak berbuka puasa bersama di luar yang berpotensi memunculkan banyak makanan sisa. Hikmah lainnya adalah, karena tidak bisa berbuka puasa bersama di luar, sepertinya Allah SWT menghendaki hamba-Nya untuk meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama. Dana untuk berbuka puasa bersama bisa dialokasikan untuk membantu mereka yang kesulitan.

Kepedulian kepada tetangga, saudara, kerabat, famili di saat pandemi Covid-19 dengan menyisihkan dana yang kita miliki insya Allah bisa meringankan beban yang cukup berat mereka pikul saat ini.

Bicara tentang kepedulian sesama, kami mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh 130 kepala keluarga di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam. Mereka mengembalikan beras bantuan dari Pemkab Agam karena masih memiliki beras dan ingin agar beras bantuan tersebut diberikan kepada yang lebih membutuhkan. Total beras yang dikembalikan sebanyak 1,3 ton. Kami juga mengapresiasi perilaku terpuji dari seorang ibu di Kecamatan Malalak Kabupaten Agam yang usianya sudah berumur (72 tahun) bernama Amai Opet yang beritanya sempat viral di media sosial. Beliau mengembalikan beras bantuan untuk diberikan kepada yang lebih membutuhkan.

Apa yang sudah dilakukan mereka tersebut adalah wujud sedekah kepada sesama. Semoga sedekah yang dilakukan di masa pandemi Covid-19 bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah”. (HR. Imam Baihaqi).

Semoga kepedulian kita di saat pandemi Covid-19 mendapatkan balasan dari Allah SWT. Amin. (*)