Kualitas dan Kepedulian pada Sesama Terlihat dari Bantuan yang Diberikan

35

Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional

Beberapa teman secara senada menyampaikan komentarnya. Tentang orang-orang yang secara ekonomi mampu, bahkan lebih dibandingkan yang lainnya. Namun, ketika memberikan bantuan kepada sesama, jumlahnya kecil. Tidak signifikan dengan rezeki dari Tuhan yang dititipkan padanya.

Hal itu sangat memprihatinkan. Apalagi pada dasarnya mereka memiliki kemampuan lebih banyak membantu dibandingkan yang lain.

Teman-teman yang menyampaikan curahan hatinya itu, kemudian cerita lebih detil berbagai pengalaman berhubungan dengan orang-orang yang mereka ceritakan tersebut. Intinya banyak hal yang memprihatinkan.

Merespons mereka, saya menyarankan agar mengambil hikmah dari sikap orang-orang tersebut. Pasti banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang bermanfaat buat diri sendiri dari kejadian itu.

Mereka memang kaya harta, namun miskin jiwa. Jadi perlu dikasihani. Apalagi semua materi yang dimilikinya tidak akan pernah dibawa mati.

Begitu meninggal, semua kekayaannya ditinggalkan buat ahli warisnya. Orang-orang yang pelit itu hanya membawa amal ibadahnya.

Sementara semua harta yang dititipkan kepadanya harus dipertanggungjawabkan pada pemiliknya. Tuhan Sang Pencipta yang menguasai alam semesta beserta isinya.

Baca Juga:  Kompromi Bijak Melahirkan Fateta Unand

Saat itulah orang-orang tersebut bakal menyesal. Kenapa ketika masih hidup, materi yang dititipkan kepadanya tidak diberikan kepada sesama yang membutuhkannya.

Jika ada pilihan dan diizinkan, orang-orang itu akan minta diberi kesempatan hidup kembali. Memperbaiki kebiasaan negatifnya tersebut. Namun hal itu tidak bakal terjadi.

Investasi Dunia dan Akhirat
Juga saya sarankan jika ada kesempatan dan kondisinya memungkinkan, mengingatkan dengan cara bicara berdua. Tentunya mengedepankan kesantunan dan etika komunikasi.

Dengan hati yang bersih dan niat baik, insya Allah semua pesan positif itu akan diterima dengan baik. Mengenai hasilnya, butuh bantuan Tuhan untuk “mengetuk” hati orang-orang tersebut.

Makanya harus diiringi dengan doa. Yakinlah niat baik itu bakal terwujud.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk membuat sesuatu jadi baik. Apalagi meyakininya bisa melakukannya.

Paling esensi sampaikan bahwa ketika menolong sesama dengan ikhlas, sama dengan membantu diri sendiri. Perbuatan baik itu merupakan investasi dunia dan akhirat.

Jadi mereka yang pelit jangan dijauhi, namun disadarkan agar yang semula negatifnya jadi positif. Aamiin ya rabbal aalamiin.(*)