Welcome, Resesi Ekonomi

Oleh : Two Efly

Wartawan Ekonomi

Resesi. Kalimat ini sangat ditakuti banyak pihak. Kalimat yang terdiri dari enam huruf ini memiliki makna dan dampak besar terhadap sendi sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Resesi sekaligus menjadi pintu masuk bagi sebuah bangsa pada masa sulit yang cukup panjang.

Secara teoritis sebuah bangsa dapat dikatakan resesi apabila secara berturut turut enam bulan terakhir (dua kali triwulan/Q-red) mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi. Di kawasan Asia Tenggara, Singapore sudah lebih dahulu mengalami resesi seiring kontraksi pertumbuhan ekonominya pada Q1/2020 dan Q2/2020.

Sementara Indonesia tanpa kita sadari juga sudah kontraksinya pertumbuhan ekonomi pada Q1/2020 dan Q2/2020 secara year on year (y-o-y). Pada Q1/2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia tercapai 5,07 % sedangkan Q1/2020 tercapai 2,97 % atau berkontraksi – 2,10 %.

Sementara Q2/2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,05 % sedangkan Q2/2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia – 5,32 % dengan kontraksi y-o-y sebesar – 10,28 %. Penurunan yang jauh lebih tajam sangat berpeluang terjadi pada Q3 dan Q4/2020.

Bagamaimana dengan kita Sumatera Barat? Tak jauh berbeda dengan nasional. Secara pencapaian Sumatera Barat memang sedikit lebih baik dibandingkan capaian nasional. Jika pertumbuhan ekonomi nasional – 5,32 % sedangkan Sumatera Barat berada di angka – 4,91 %.

Namun apa yang diraih Sumatera Barat ini jika dipersandingkan dengan beberapa provinsi tetangga terutama di Pulau Sumatera maka kita patut mencemaskan diri. Sumatera Barat adalah provinsi ketiga yang paling terpuruk pencapaiannya di pulau Sumatera.

Dari data Badan Pusat Statistik terungkap pertumbuhan Q2/2020 di Pulau Sumatera mayoritas bervariasi dari – 1 % sampai – 3%. Hanya tiga provinsi yang melewati angka – 4 persen. Diantaranya Sumatera Barat dengan capaian – 4,91 %, Kepulauan Bangka Belitung – 4,98 % dan Kepulauan Riau – 6,68 %.

Sementara Bengkulu hanya – 0,48 %, Sumatera Selatan – 1,37 %, Provinsi Jambi – 1,72 % dan Provinsi Nanggroe Aceh Darusallam – 1,82 %. Sementara Sumatera Utara tercapai – 2,37 %, Provinsi Riau sebesar – 3,22 % dan Provinsi Lampung – 3,57 %.

Masuknya Sumatera Barat dalam cluster – 4 persen ke atas perlu menjadi perhatian serius kita bersama. Sebab provinsi tetangga seperti Bengkulu dan Jambi justru mampu jauh lebih baik dari kita. Mungkin ini merupakan konsekwensi dari Pembatasan Sosial Bersakala Besar yang kita lakukan dalam rentang yang cukup panjang. Penyebaran Corona menurun dan ekonomipun tak bergerak.

Kini kita harus bangkit dan berbenah. Sumatera Barat pasti bisa mengingat dua provinsi tetangga bisa melakukan itu. Apalagi secara geografis dua provinsi tetangga tersebut sama sama didominasi oleh sector pertanian. Namun kondisi yang berbeda justru terjadi pada dua daerah Kepulauan seperti Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau.

Bagaimana dengan Q3/2020? Sulit rasanya bagi Indonesia untuk bangkit dalam waktu singkat. Selain pandemic Covid-19 yang tak kunjung melandai, pola dan karakter pertumbuhan ekonomi Indonesia juga sangat tergantung pada sector konsumsi. Semakin tinggi konsumsi masyarakat maka semakin besar peluang tumbuh ekonomi bangsa ini.

Jika kita bicara konsumsi maka periode puncak konsumsi terjadi pada bulan Ramadhan, Syawal dan tahun ajaran baru. Artinya, ketiga lokomotif konsumsi itu telah kita lewati yakni pada Q2/2020 tepatnya bulan Mei, Juni. Sedangkan tahun ajaran baru terjadi pada bulan Juli (awal Q3/2020). Bila diperiodenisasi konsumsi puncak saja ekonomi bangsa ini negatif, maka hampir bisa dipastikan sangat sulit bagi kita untuk bangkit sampai akhir tahun 2020.

Baca Juga:  Permasalahan Gambir dan Solusinya

Apa yang harus dilakukan bangsa ini? Pertama tuntaskan penanganan penyebaran Covid-19. Ini adalah episentrum utama. Dari sinilah permasalahan bangsa ini dimulai. New Normal hanya sebatas himbauan atas beratnya tekanan ekonomi. Di lapangan Corona virus masih tetap saja menjadi “monster” ganas yang setiap saat memangsa siapa saja. Re rata pasien terpapar covid-19 berkisar 1.500 sampai dengan 1.800 pasien per harinya. Artinya, Corona virus belum mampu kita kendalikan dan bahkan cendrung semakin liar.

Sepanjang masalah utama ini belum teratasi jangan pernah bermimpi akan mampu mengatasi masalah lain yang timbul akibat efek domino dari masalah utama. Tuntaskan dulu masalah utamanya. Fokuskanlah energy bangsa ini untuk mengatasi itu dan barulah kita mencarikan solusi masalah yang berikutnya seperti ekonomi dan sector lainnya.

Kedua, reorietasi pembangunan dan program stimulus ekonomi berbasis potensi lokal. Indonesia ini sangat luas dan setiap daerah memiliki karakter dan potensi yang berbeda. Jika kita bicara Sumatera Barat maka tentulah sektor pertanian dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang musti mendapatkan stimulus.

Selain itu Sumatera Barat sudah saatnya untuk ba baliak ka pangka. Pembangunan kita mesti kembali berorietasi ke sektor pertanian sambil terus menggenjot produktivitas pertanian. Ini adalah solusi terbaik mengingat sector pertanian merupakan satu diantara bidang yang tak terdampak berat Covid – 19.

Sektor pertanian secara nasional masih bertumbuh di angka 16,24 persen. Sementara sector Jasa, Pariwisata, Perdagangan, Pendidikan, Pertambangan, Akomodasi serta Transportasi terpuruk lebih dalam. Re orientasi ini juga sekaligus menjawab sinyal darurat yang sudah disampaikan Food and Agriculture Organization (FAO) terkait krisis pangan global akibat pandemic Corona dimasa mendatang.

Ketiga, pemerintah musti memaksimalkan belanjanya. Hingga semester 1/2020 re rata belanja pemerintah dikisaran 30 an persen. Capaian ini sangatlah rendah dibandingkan capaian tahun tahun sebelumnya.

Betul ada perbedaan pola belanja antara warga, badan usaha dan negara ketika menghadapi krisis dan resesi. Jika warga dan badan usaha lebih didorong untuk melakukan efisiensi sedangkan negara harus memaksimalkan belanjanya. Dari belanja pemerintan inilah kelak diharapkan lahir daya ungkit untuk kembali menggerakan ekonomi.

Permasalahan terbesar bangsa saat ini adalah terbatasnya keuangan negara akibat pendapatan negara yang tidak mencapai target. Baik berupa pendapatan pajak maupun pendapatan negara non pajak. Semuanya juga terimbas dan terdampak Covid-19. Namun, pendapatan negara bukan saja dari dua sector itu, masih ada pintu pintu pendapatan lain yang bisa digunakan demi menyelamatkan ekonomi bangsa.

Satu hal yang pasti, selamat datang resesi. Mari kita persiapkan diri, keluarga, usaha dan bangsa ini agar tak terlalu lama terjerumus dalam jurang resesi. Kita mesti bangkit, tetaplah berproduktivitas dan mari patuhi protokol kesehatan. ***