Sosialisasi dan Edukasi Covid-19, Seberapa Efektifkah?

397
Ilustrasi Covid-19. (INTERNET)

Oleh: Dr. Mahdhivan Syafwan*

Sejak kasus positif Covid-19 di Indonesia diumumkan pertama kali tanggal 2 Maret 2020, kurva kumulatif pasien yang terpapar virus ini terus mengalami lonjakan dari hari ke hari. Ketika sejumlah negara di dunia sudah memasuki fase gelombang kedua pandemi, Indonesia justeru masih berjuang dalam menekan laju kenaikan di gelombang pertama.

Berdasarkan data yang dirilis dalam laman covid19.go.id, tercatat hingga tanggal 6 Desember 2020 sebanyak 575.796 orang terkonfirmasi positif, 474.771 orang dinyatakan sembuh dan 17.740 orang meninggal. Kenyataan ini, sebagaimana yang dilansir oleh WHO, menjadikan Indonesia termasuk dalam daftar 20 negara dengan kasus aktif Corona tertinggi di dunia dengan tingkat kematian mencapai 3,4 persen. Angka ini jauh melebihi rata-rata tingkat kematian global sebesar 2,39 persen.

Dalam upaya pencegahan dan penanganan penyebaran Covid-19 di Indonesia yang terus melonjak, sosialisasi dan edukasi kepada masyakarat dinilai sebagai langkah intervensi yang penting untuk dilakukan. Hal ini cukup beralasan mengingat vaksin belum tersedia, sementara kebijakan lockdown atau penguncian wilayah secara total sulit diterapkan karena kemampuan anggaran pemerintah sangat terbatas. Bahkan opsi sebatas karantina wilayah juga memiliki konsekuensi terhadap perlambatan ekonomi Indonesia.

Lantas bagaimanakah efektivitas program sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat yang berjalan selama ini? Hasil survey perilaku masyarakat di masa pandemi yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 7-14 September 2020 menunjukkan bahwa sekitar 17% masyarakat Indonesia ternyata masih ada yang berkeyakinan tidak mungkin dan sangat tidak mungkin terinfeksi atau tertular Covid-19.Survei BPS ini juga mengkonfirmasi hanya 73-78% masyarakat yang sering atau selalu menerapkan protokol mencuci tangan, menjaga jarak, menggunakan hand sanitizer dan menghindari kerumunan.

Bagaimana dengan Sumatera Barat (Sumbar)? Berdasarkan hasil survei dari Spektrum Politika Institut (SPI) di 19 kabupaten dan kota di Sumbar pada 10-15 September 2020, terungkap 39,9% masyarakat Sumbar masih menganggap Covid-19 sebagai hasil konspirasi global. Dari hasil survei SPI ini juga diketahui 28,5% masyarakat Sumbar masih sering keluar rumah. Sementara jumlah masyarakat yang sering memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer tidak sampai 66,5%.

Berdasarkan hasil survei BPS dan SPI di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia, terkhusus Sumatera Barat, terkait bahaya dan pencegahan Covid-19 masih tergolong rendah. Oleh karena itu wajar jika para ahli mengklaim bahwa inilah yang menjadi penyebab utama belum terkendalinya kasus Covid-19 di Indonesia hingga saat ini. Di sinilah sosialisasi dan edukasi dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat menjadi sangat penting untuk ditingkatkan.

Kajian ilmiah seputar pengaruh kesadaran masyarakat dalam menekan penyebaran penyakit sebetulnya telah banyak dilakukan oleh para peneliti, bahkan jauh sebelum pandemi Covid-19 ini merebak. Sebagian besar penelitian tersebut membahas pengembangan model epidemi SIR, yaitu sebuah model matematika klasik yang menggambarkan dinamika penyebaran penyakit menular melalui interaksi antar tiga kelompok masyarakat: rentan (susceptible), terinfeksi (infected), dan sembuh (recovered).

Sebut saja misalnya penelitian yang dilakukan Funk, Gilad, dan Jansen dari Universitas London yang hasilnya dipublikasikan dalam Journal of Theoretical Biology pada tahun 2010. Mereka membagi masing-masing kelompok SIR atas subkelompok yang sadar dan yang tidak. Hasil analisis matematika yang mereka lakukan dengan menggunakan model ini menyimpulkan bahwa kesadaran dan persuasi personal berpengaruh dalam menurunkan kasus terinfeksi penyakit.

Model yang digagas oleh Funk, Gilad, dan Jansen tersebut kemudian dikembangkan lagi oleh Agaba, Kyrychko, dan Blyuss dari Departemen Matematika Universitas Sussex, Inggris. Hasil penelitian mereka ini terbit dalam Jurnal Mathematical Biosciences pada tahun 2017. Mereka menambahkan faktor media sosialisasi/kampanye publik dalam model, dan mendapati bahwa faktor ini berpengaruh dalam mengubah prilaku dan membangun kesadaran kolektif masyarakat yang pada akhirnya berdampak signifikan terhadap penurunan jumlah orang yang terinfeksi.

Baca Juga:  Sinyal Motor Ekonomi Mulai Bergerak

Bagaikan jamur di musim hujan, di masa pandemi ini bermunculan beragam publikasi ilmiah yang membahas efektivitas kesadaran masyarakat dalam menekan laju kenaikan kasus positif Covid di berbagai negara. Di Indonesia sendiri, penelitian seputar topik ini pernah dilakukan oleh Dipo Alam dari Departemen Matematika Universitas Indonesia dengan mengambil objek kasus di Jawa Timur.

Hasil penelitiannya ini baru saja diterbitkan di Jurnal Chaos, Solitons and Fractals pada Oktober yang lalu. Berdasarkan hasil simulasi terhadap model, Dipo memperkirakan peningkatan efektivitas media sosialisasi/kampanye sebesar 10% mampu mengurangi angka reproduksi dasar (Ro)di Jawa Timur sebesar 3,843% (angka Ro menyatakan rata-rata jumlah kasus baru yang tertular dari satu kasus infektif pada kelompok rentan).

Pemerintah kita sebetulnya telah melakukan berbagai langkah sosialisasi dan edukasi dengan melibatkan semua elemen masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia usaha, musisi, budayawan, akademisi dan media massa. Namun, berkaca pada hasil survei BPS dan SPI yang telah dijelaskan sebelumnya dan mengingat laju penyebaran Covid di Indonesia yang masih mengganas, upaya penyadaran masyakarat sejauh ini dinilai belum betul-betul optimal dilakukan.Oleh karena itu perlu dilakukan usaha-usaha ekstra yang lebih kreatif, efektif dan massif dari semua pihak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Khusus bagi kalangan akademisi, konten media sosialisasi dan edukasi Covid yang dibuat perlu mengedepankan literasi sains dengan pengemasan yang menarik. Pendapat ini senada dengan Dr. Jennifer Cole, seorang antropolog biologi dari Universitas London, ketika mengomentari media sosialisasi Covid yang dikeluarkan pemerintah Inggris baru-baru ini.  Beliau mengatakan bahwa media sosialisasi tidak cukup berisi pesan ajakan saja, tetapi juga perlu diberi penjelasan sains di baliknya. Dengan demikian, orang tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi juga paham mengapa dia harus lakukan itu.

Sebagai contoh, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Andalas, melalui kegiatan pengabdian masyarakat, telah merancang sebuah bahan sosialisasi dan edukasi seputar Covid-19 dalam bentuk infografis. Target sasaran sosialisasi dan edukasi dalam kegiatan ini adalah kalangan remaja, mengingat hasil survei BPS melaporkan bahwa masyarakat dalam rentang usia 17-31 tahun paling tinggi tingkat ketidakpatuhannya dalam menjaga protokol kesehatan.

Bahan sosialisasi tersebut kemudian dimuat dalam instagram dan facebook jurusan dan lembaga kemahasiswaan. Dengan mengangkat tema “Pertumbuhan Eksponensial”, dalam bahan sosialisasi tersebut dijelaskan apa yang dimaksud dengan pertumbuhan eksponensial, bagaimana hubungannya dalam memprediksi jumlah penderita Covid-19, dan seperti apa evaluasi kasus Covid-19 di beberapa negara, termasuk Indonesia, dalam tinjauan model pertumbuhan eksponensial ini. Dari penjelasan inilah kemudian muncul ajakan untuk membiasakan gaya hidup 3M (mencuci tangan, menjaga jarak dan menggunakan masker) sebagai cara efektif dalam menurunkan laju pertumbuhan kasus positif Covid (silakan klik link berikut: https://www.instagram.com/p/CH7nCH2JZC8/).

Masih banyak tema-tema menarik lainnya yang dapat diangkat dengan penjelasan berbasis sains sederhana yang mudah dipahami. Beberapa tema tersebut misalnya: mengapa perlu physical distancing, darimana datangnya angka minimal 1 meter dalam menjaga jarak, bagaimana efek kerumunan dan libur panjang terhadap peningkatan kasus positif, apa itu bilangan reproduksi dasar dan mengapa harus kurang dari satu agar kasus Covid dapat dikatakan terkendali, dan sebagainya. Di sisi lain, sosialisasi dan edukasi yang sarat dengan penjelasan sains ini tidak hanya menambah pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan pencegahan Covid, tetapi juga dapat dijadikan sebagai media promosi dalam membumikan sains kepada masyarakat itu sendiri.

*Penulis adalah Wakil Dekan I FMIPA Unand dan Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Jurusan Matematika FMIPA Unand 2020