Jangan Biarkan Maninjau jadi Kenangan

Dirut Padang Ekspres, Nazir Fahmi. (Facebook/IST)

Kemarin (7/2). Kali ketiga mengelilingi Danau Maninjau. 1990, pertama kali. Jalan kaki. Dua hari satu malam. Pakaian pramuka. Ya, saat itu melengkapi syarat dilantik jadi Pramuka Penegak Laksana.

Berangkat pukul 15.00 dari Muko-Muko. Ketika malam menjelang, dirikan tenda di sebuah sekolah dasar di Sungaitampang. Pagi besoknya, start lagi menyusuri jalanan tepi danau. Hijau. Asri. Danau begitu indah. Hanya perahu nelayan di antara riak danau yang kelihatan. Penuh kesyahduan.

Awal 1991, kembali keliling danau. Pakai sepeda ontel dengan empat orang sahabat SMA kala itu. Berangkat pagi dari Lubukbasung. Pukul 22.00, kembali merapat di tempat start awal. Yang sampai finish hanya tiga. Satu sepeda terpaksa naik motor karena terperosok sela jembatan dari batang kelapa. Platnya bengkok.

Suasana danau masih sangat asri. Sejuk. Damai. Sesekali berpapasan dengan bule-bule yang jalan kaki atau bersepeda. Sambil mengasah bahasa Inggris, beranikan menegur mereka. Walau hanya modal yes, no, atau sekadar ok dan kemon. Hik…hik.

Tepi danau benar-benar hidup. Rata-rata rumah di sekitaran danau, jadi homestay. Hotel menjamur. Kafe dan bar bertebaran. Penyewaan sepeda ada di mana-mana. Ekonomi menggeliat. Kelok 44 pun bertaburan bule.

Baca Juga:  Bahasa tanpa Ujung

Sejak menjamur keramba apung, Danau Maninjau ditinggalkan para bule. Pariwisata mati. Wisatawan enggan mampir walau hanya sekadar mengudap pensi. Danau Maninjau hanya dipandang dari jauh. Puncak Lawang atau Ambun Pagi. Mendekat, bau menyengat.

Itu yang dirasakan saat keliling danau yang ketiga kemarin. Dengan mobil, butuh waktu 1,5 jam hingga kembali ke tempat start awal. Jalan sudah bagus. Aspal hotmix. Saat memandang ke danau, keramba mendominasi. Air sudah terkontaminasi.

Pilihan sulit saat ini jika harus mengembalikan Danau Maninjau ke aslinya. Ibarat makan buah simalakama. Dimakan ibu yang mati, tak dimakan bapak pula yang tewas. Tapi, jika serius yakin usaha sampai.

Ada zona pariwisata. Ada zona perikanan. Sama-sama jalan. Sama-sama menggeliatkan ekonomi. Biar Maninjau ramai lagi. Agar Danau Maninjau tidak jadi kenangan. (*)