Penyebaran Covid-19, Ada Apa dengan Cuaca

Ilustrasi

Beberapa waktu belakangan ini banyak yang membahas kaitan cuaca dengan penyebaran Covid-19. Kita mendengar pernyataan bahwa cuaca berpengaruh terhadap perkembangan Covid-19. Selain itu muncul juga kajian bahwa berdasarkan hasil modelling Covid-19 tidak kuat di cuaca Indonesia. Apakah benar cuaca berpengaruh terhadap penyebaran Covid-19? Mari kita lihat faktanya.

Pembicaraan mengenai kaitan cuaca dengan pola penyebaran Covid-19 ini diawali oleh berbagai kajian dari para ahli di luar negeri, diantaranya adalah riset Sajadi dan kawan-kawan dari Institut of Human Virology, University of Maryland School of Medicine, Baltimore, USA. Sajadi melakukan penelitian menggunakan pemodelan cuaca untuk menentukan kawasan yang paling berisiko tinggi dalam hal penyebaran virus. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa penyebaran Covid-19 lebih efektif pada kawasan sub tropis atau iklim sedang dengan rentang suhu 5º-11ºC dan kelembaban 47-79%. Di kawasan tropis yang memiliki suhu lebih hangat penyebaran virus lebih lambat.

Lalu disisi lain ada penelitian yang bertolak belakang yakni kajian dari Marc Lipsitch, Profesor epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health. Dia baru-baru ini memposting sebuah analisis di mana ia mengatakan bahwa cuaca yang lebih hangat “mungkin tidak” secara signifikan menekan penyebaran penyakit. Dari dua penelitian ini kita coba mengulas sedikit tentang peran cuaca disini.

Apa itu cuaca? Cuaca adalah kondisi atau keadaan udara yang terjadi di suatu daerah atau wilayah dalam periode waktu tertentu. Unsur-unsur cuaca antara lain curah hujan, suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin, tekanan udara, sinar matahari dan awan. Jika kita berbicara mengenai pengaruh cuaca terhadap penyebaran Covid-19 berarti kita melihat penyebaran virus tersebut terhadap pola hujan, kecepatan dan arah angin, suhu udara, tekanan udara, kelembaban udara dan kondisi awan. Pola itu akan semakin jelas jika pola penyebaran Covid-19 ini melalui udara, angin dan air.

Sebagai contoh adalah penyebaran penyakit malaria dan demam berdarah. Penyakit tersebut secara tidak langsung dipengaruhi oleh cuaca terutama oleh faktor curah hujan. Penyakit ini disebabkan oleh nyamuk. Nyamuk-nyamuk yang membawa parasit dan virus penyebab penyakit tersebut berkembang seiring dengan masuknya musim hujan. Pola hujan berpengaruh terhadap pola penyebaran nyamuk yang menyebabkan penyakit malaria dan demam berdarah.

Pada kasus Covid-19, secara tegas Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus ini menyebar melalui droplet atau percikan yang berasal ludah, batuk dan bersin. Penyebaran virus ini bisa langsung dan tidak langsung. Secara langsung jika seseorang terkena paparan berupa batuk atau bersin dari si penderita. Secara tidak langsung bisa terkena dari media yang telah terpapar oleh virus akibat orang yang terinfeksi mengeluarkan percikan dan virus tersebut menempel di benda tertentu. Virus ini masuk ke tubuh melalui mulut, hidung dan mata. Sampai saat ini belum ada pernyataan dari WHO atau kajian para ahli bahwa virus ini bisa menyebar melalui udara. Ini artinya menegaskan bahwa faktor angin, tekanan udara, awan dan curah hujan tidak memiliki kaitan dengan penyebaran Covid-19.

Sajadi dan kawan-kawan mengkaji hubungan Covid-19 ini memakai parameter suhu dan kelembaban udara. Metoda yang digunakan adalah melihat jumlah kasus secara geografis dan dikaitkan dengan pola suhu dan kelembaban udara daerah tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa pola suhu dan kelembaban udara adalah pola harian yang dipengaruhi oleh beberapa kejadian yang cepat berubah secara harian. Kelemahan dari riset Sajadi ini adalah data yang digunakan untuk satu negara seperti China, Italia, Iran dan lain sebagainya adalah data satu titik. Satu negara diwakili oleh nilai suhu dan kelembaban udara satu titik. Kelemahan selanjutnya jurnal ini belum ditinjau oleh rekan sejawat sehingga berdampak pada spekulasi bahwa di musim panas nanti virus ini akan melambat dan hilang dengan sendirinya. Khusus untuk wilayah Indonesia, saat jurnal ini diterbitkan kejadian yang terkonfirmasi positif masih belum ada.

Argumentasi yang dibangun bahwa penyebaran Covid-19 dipengaruhi oleh suhu dan cuaca panas sangat bertolak belakang dengan anjuran WHO. Anjuran yang sering kita dengar adalah selalu menjaga jarak, hindari kerumunan dan selalu cuci tangan dengan sabun. Untuk menghindari kerumunan massa, pemerintah mengeluarkan imbauan untuk bekerja dirumah. Secara tidak langsung beberapa anjuran tersebut telah membantah bahwa pola penyebaran Covid-19 ini dipengaruhi oleh cuaca.

Untuk lebih jelasnya kita ambil contoh dua wilayah di Indonesia yakni Jakarta dan Bandung. Jika penyebaran virus ini dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban udara, maka wilayah yang lebih banyak kasus positif adalah Bandung. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa suhu rata-rata di Jakarta lebih tinggi dibandingkan Bandung. Namun pada kenyataannya, kasus terbanyak saat ini terdapat di Jakarta. Yang menjadi penyebab virus ini berkembang adalah akibat pergerakan manusia bukan oleh pergerakan virus itu sendiri. Virus ini sejatinya adalah diam pada inangnya. Dia akan berpindah jika dikeluarkan melalui percikan batuk, ludah dan bersin. Jadi apakah cuaca berpengaruh terhadap pola penyebaran Covid-19? Terlalu dini untuk disimpulkan. (*)

*Nofi Yendri Sudiar – Doktor pada prodi Klimatologi Terapan IPB dan Dosen Fisika Universitas Negeri Padang