Model Sembako ”Balado Sero”

Sejumlah sembako dibagikan kepada orang yang membutuhkan. (Jawapos.com)

Dalam masa Pandemi Covid-19, sifat kegotoroyongan dari masyarakat dapat kita pujikan. Saat dimana bantuan untuk masyarakat terkena dampak belum berjalan mulus, kasat mata kita lihat banyak sekali upaya masyarakat yang sudah jalan. Tidak terkecuali para alumni seangkatan, mulai dari jenjang pendidikan sekolah dasar, SMP, SMA, sampai ke PT.

Ini modal besar bagi membantu mempercepat sampainya bantuan ke masyarakat.
Adalah sahabat saya (tidak mau disebutkan namanya) mereka se angkatan, alumni SMA 2 barisan 1982, Padang. Termasuk saya dengan berbagai angkatan lainnya. Membuat gerakan penyediaan  sembako. Mereka beri judul aktivitasnya “Balado Sero”.

Balado artinya bersama Lapan Duo, disingkat Balado. Mudah mengingatnya. Dan kesukaan orang Minang kalau makan nasi tanpa lada, cabai, tidak sero. Sero adalah enak. Mereka ingin membagi keenakan walaupun sedikit tetap bisa jalan dan mudah menjangkau warga warga secara acak.Mereka telah sepakat mengumpulkan donatur dari sesama angkatan.

Terserah berapa saja besarannya. Jika saja kelompok ini digabung dengan kelompok lain, maka jumlah kontribusi dari inisiasi masyarakat akan besar. Ukuran kontribusi tidak ditetapkan. Cukup dengan keikhlasan masing-masing yang transparan tercatat melalui grup WA.

Kemudian setelah mereka kumpulkan, jatuh pilihan pada besaran sembako Rp 250 ribu per KK. Berisi beras 5 kg, mi instan dan telor. Saya melihat tidak besarnya nilai yang disalurkan. Tetapi beberapa kekuatan cara ini yang dengan prosedur yg mudah mereka menjangkau kelompok sasaran keluarga siapa saja yang dianggap pantas menerima bantuan.

Cara Praktis
Pertama target grup penerima adalah rumah tangga yang diketahui oleh alumni. Minimal alumni membagikan sembako minimal 10 kepala keluarga. Kemudian ini tidak memerlukan pendataan yang serius. Namun prinsip trust kepada alumni yang membagikan. Selain mudah, alumni boleh mengetahui secara persis siapa menurut mereka orang yang akan menerima bantuan.

Kedua selain trust, lebih menjangkau pada akar rumput. Karena “Balado Sero”, adalah keluarga yang diketahui oleh alumni yang membagikan memang berhak.  Sehingga dalam konteks ini gerakan se angkatan ini “ground to the earth”, alias membumi. Ketiga adalah gerakan yang dikembangkan oleh seangkatan. Konon kabarnya mereka seangkatan melakukan pertemuan secara rutin bulanan, dan memiliki kekraban seperti sebuah keluarga besar.

Kelompok ini sudah terbentuk semenjak mereka sekolah sama seangkatan. Serta anggota masing masing memiliki kenal dan kompak satu sama lain. Ini berimplikasi mereka tidak perlu membentuk gugus pelaksana. Tidak ada SK-nya untuk beroperasi. Justru memupuk rasa saling percaya.

Keempat jika jatah per orang membagikan sembako sebanyak 10 KK bisa saja kekurangannya ditambah secara mandiri oleh anggota dengan membuat paket sembako yang sama. Ini berimplikasi akan melahirkan filantropis lanjutan setelah mereka berbuat inisiatif. Memang tidak satu satunya kelompok ini yang berbuat amal, juga banyak kelompok lainnya. Tapi saya terkesan sekali kemandirian masyarakat jika simpul simpulnya digerakkan akan membuahkan gerakan filantropis yang masif.

Penyatuan untuk Koordinasi
Agar gerakan yang sama dapat lebih mudah monitoringnya, maka kita menyarankan model ‘Balado Sero” ini dikembangkan dan disesuaikan dengan target apa yang ingin mereka secara spesifik.

Jika pemerintah sekarang sudah mulai lega akibat dari banyaknya muncul inisiatif, sebenarnya yang sudah berpartisipasi ini dapat membuatkan laporannya. Laporannya dikirimkan ke koran koran local. Apalagi korannya disepakati khusus menghimpun penerimaan dan penyaluran.

Di koran nanti akan menjadi petunjuk, agar ketika kelompok yang lain membantu, mereka tidak tumpeng tindih. Justru bisa membantu dimana tidak menjangkau yang lain. Semoga model ini semakin sukses dan dikapitalisasi. (Elfindri – Profesor Ekonomi SDM dan Direktur SDGs Unand)