Persiapkan Calon Desainer Handal

51
Ilustrasi. (Foto: IST)

Yusmerita Promovendus
Prodi Ilmu Pendidikan Pascasarjana UNP

Terbatasnya kesempatan untuk menjadi guru atau PNS bagi lulusan IKK FPP UNP terutama untuk bidang studi Tata Busana, perlu menjadi perhatian serius. Oleh sebab itu perlu dipersiapkan mahasiswa agar bisa memilih karir yang lain selain sebagai pendidik, yaitu sebagai desainer professional. Cara yang dapat ditempuh adalah menerapkan model pembelajaran MoLearnco QueConsAa dengan pendekatan kontektual, (contextual teaching learning).

Keunggulan model tersebut membawa peserta didik kedunia nyata, sehingga memahami, bisa mengaplikasikan pengetahuan, keterampilan dan sikapnya dalam kehidupan sehari-hari dan tidak hanya berada ditataran konsep dan teori-teori. Tujuan dari penelitian tersebut meningkatkan kualitas pembelajaran desain produksi busana (Fashion Design Production), pembelajaran ini mengajak mahasiswa peserta didik hadir langsung melihat dan mempelajari ilmu yang sedang digelutinya melalui metode survei lapangan, lalu merencanakan pembuatannya, contohnya merencanakan dan membuat busana baik untuk pesanan perorangan yang bersifat eksklisif dan juga untuk massal / dalam jumlah yang banyak. Prosedur pada model pembelajaran ini diantaranya adalah modeling.

Modelling, adalah memberikan contoh nyata untuk sebuah proyek pembuatan busana, mulai dari desain sampai menjadi busana utuh, jadi siap pakai, proyek ini bisa dalam bentuk perorangan maupun massal, strategi yang dapat digunakan selain survey pasar/lapangan, bisa juga dalam bentuk demonstrasi, memperlihatkan langsung proses pembuatan pola 3 dimensi langsung dipatung atau bisa juga langsung pada tubuh orangnya. Hasil yang didapat kan berupa pola tiga dimensi. Keunggulan dari metode adalah bisa menghematkan penggunaan material/tekstil/kain sampai lebih 15 % hal ini penting dilakukan, apalagi jika pembuatan dalam jumlah yang banyak/ produksi msssal, sehingga mendukung konsep zero-waste  atau tidak ada bahan yang terbuang yang menghasilkan sampah industri sehingga  hal ini juga mendukung konsep global dunia, yaitu go green dan eco green.

Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Saedi dan Wimberly dari Lousiana State University, 24 oktober 2017.  International Journal of fashion Design, Technology and Education dengan judul  “Precious Cut; Exploring Creative Pattern Cutting and Draping for Zero-Waste Design” online journal homepage:http//ww.tandform.line.com/loi//tfdtzo. Metode ini disebut dengan Transformational Reconstruction (TR). Metode TR dalam peneletian ini dilakukan terhadap materi pembelajran draping, karena teknik draping adalah membuat desain/ merancang busana langsung pada dressform/ figure. Langkah selanjutnya adalah menciptakan masyarakat belajar melalalui belajar kelompok.

Learning Community, adalah mengajak mereka/ peserta didik untuk belajar/bekerja sama dalam membuat sebuah proyek, contohnya bisa berupa pesanan perorangan yang bersifat eksklusif ataupun pesanan dalam jumlah massal,  metode /strategi ini memberikan dampak sosial, yaitu mendidik dan membelajarkan mereka/mahasiswa, untuk mampu bekerja sama dalam kelompoknya, demi untuk mencapai keberhasilan dalam menyelesaikan sebuah proyek. Learning community ini dilakukan dimulai dari perencanaan yang matang, bisa berupa pembuatan desain awal melalui sharing antar anggota dan juga dilakukan dengan cara brifing berkala dan terjadwal.

Questioning, merupakan kegiatan tanya jawab, antara anggota dalam kelompok dan juga antara angota kelompok dengan fasilitator/dosen/guru.  Questioning / tanya jawab dengan fasilitator ini juga disebut dengan konsultasi. Proses tanya jawab yang dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung akan memberi dampak positif terhadap pembelajaran dan hasil belajar, dari hasil penelitian ini telah memberikan hasil yang signifikan, terhadap nilai preetes dan posttest mahasiswa. Konsultasi dilakukan harus berlangsung menyenangkan fasisilitator membantu mewujudkan ide-ide brilian yang ada dalam pikiran/imajinasi mahasiswa, jadi fasilitator hanya mengarahkan keinginan mereka tidak mendikte mereka untuk mewujudkan apa yang ada dalam pikiran fasilitator sendiri.

Dengan menciptakan suasana belajar tanpa tekanan, “Merdeka Belajar” maka tentu saja belajar jadi sangat menyenangkan. Fasilitator juga boleh menyediakan waktu bagi mahasiswa untuk konsultasi diluar jam belajar mereka melaui e learning dan daring, tentu saja pada waktu yang sudah disepakati antara anggota dan fasilitator. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan juga bisa  meningkatkan kreatifitas mahasiswa, dan membangun/ konstruksi yang baru dalam pikiran anggota /peserta didik.

Constuctive, konstruktif, adalah proses yang terjadi dalam pikiran mahasiswa, dan fasilitor setelah proses tanya jawab berlangsung, proses membangun teori-teori baru, merekonstruksi teori yang ada atau bisa juga disebut dengan membangun teori, memodifikasi teori yang ada dan mewujudkannya dalam hasil karya desain busana/ desain terapan untuk busana, atau innovasi teori yang yang sudah baku, dan merealisasikannya dalam wujud desain produksi busana yang kekinian bernilai guna terutama menghasilan produk yang punya nilai jual yang baik. Sehingga hasil karya nya bisa bersaing dipasar lokal, nasional bahkan dunia internasional, yang merupakan visi dan misi UNP agar bisa bersaing di pasar global.

Authentic Assessement, adalah penilaian yang autentik, dilakukan terhadap bukti-bukti nyata melalui hasil belajar berbentuk seperti portofolio, contohnya dalam pembelajaran Desain Produksi Busana, hasil belajar dapat dinilai dari Desain Presentasi yang dihadirkan dalam bentuk yang sangat menarik, desain produksi 1 dan 2, yang terdiri blok–blok desain yang jelas dan terukur,  yaitu desain lengkap yang dapat dilihat dari bentuk dua dimensi dan tiga dimensi, jika perlu bisa dibuat dengan program CAD, Corel atau boleh juga secara manual, tergantung kebutuhan. Hasil nyata dalam bentuk peragaan busana  (fashion show) dan pameran adalah kegitan yang sangat diperlukan untuk mendukung penilaian yang autentik ini, karena kegiatan ini merupakan final dalam proses produksi, sekalian juga berfungsi untuk promosi produk.

Evaluasi juga dilakukan secara objektif dengan membuat lembar evaluasi, membuat kisi-kisi penilaian yang berorientasi pada kompetensi yang harus/wajib dimiliki mahasiswa/peserta didik, menentukan batas kelulusan minimum, sehingga mereka memiliki kompetensi kemampuan keterampilan dan afeksi/sikap yang baik dan mumpuni untuk menghadapi dunia kerja/yang nyata nantinya ketika mereka magang industri/ mengikuti pengalaman lapangan industri, atau dunia kerja yang sesungguhnya ketika mereka telah menyelesaikan kuliahnya.

Dari uraian langkah-langkah proses belajar mengajar yang merupakan Sintaks dalam pembelajaran desain produksi busana ini disebut dengan model ” MoLearnco QueConsAa” yang artinya pendekatan dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan langkah sistematis melalui;  modeling, learning community, questioning, constructive dan authentic Assessement. Model ini sudah dilakukan melalui penelitian dan pengembangan, pada mata kuliah Desain Produksi Busana, model ini direkomendasikan sangat baik untuk diterapkan dalam  pembelajaran fashion dan pembelajaran kejuruan, vokasi lainnya. Oleh sebab itu model ini sangat dianjurkan digunakan untuk pembelajaran vokasi di SMK.

Model pembelajaran MoLearnco QueConsAa, ini dapat bersinerji dengan pendekatan kontekstual (CTL), karena pendekatan dalam pembelajaran kontekstual mengandung komponen yang hampir sama dengan prosedur/sintaks pembelajaran pada model MoLearnco QueConsAa, walaupun tidak persis sama. Komponenen pembelajaran kontekstual tersebut adalah sebagai berikut: 1) membuat koneksi, keterkaitan 2) melakukan pekerjaan yang bermakna, berarti yang sessuai dengan tujuan yang hendak di capai  3) belajar mandiri, bisa melakukannya dengan baik tanpa bantuan orang lain 4) kolaborasi, mampu bekerja sama dengan baik sesama temannya dan khususnya anggota didalam kelompoknya  5) berpikir kritis dan kreatif, bisa menilai sessuatu dengan proporsional dan mampu berinovasi dengan baik  6) individu tumbuh dan berkembang, mampu mengembangkan diri dan menjadi pribadi yang seutuhnya 7) mencapai standar tinggi, mau bekerja dan belajar lebih maksimal 8) melakukan penilaian yang otentik/ nyata,  yang dapat terukur secara proporsional dan dan akhirnya mereka menjadi professional, Johnson (2005).

Penelitian ini telah dilakukan di UNP , subjek penelitian mahasiswa UNP bidang studi Tata Busana program S1, teknik pengumpulan data melalui kuesioner, penilaian portofolio, dan dokumentasi hasil rancangan dalam wujud busana, dari hasil penelitian ini terdapat respon positif terhadap pembelajaran desain produksi busana, dengan pendekatan CTL dan model Pembelajaran MoLearnco QueConsAa . Tingkat validitas yang dicapai oleh poin komponen CTL adalah 4,4 dalam kaitan  yang bermakna, 3,9 untuk pekerjaan yang bermakna/berarti, 3,9 untuk belajar mandiri, 4,3 untuk keterampilan kolaboratif, 4,3 pemikiran kritis dan kreatif. 4,3 kemampuan individu untuk tumbuh, 4,3 standar kinerja tinggi, 4,4 untuk penilaian otentik. Penilaian tanggapan siswa dikonfirmasi oleh penilaian hasil belajar siswa sebelum / pretes dan setelah penyelesaian posttest. Berdasarkan uji statistik nilai levene sig 0,407> 0,05. Ini membuktikan homogenitas pretest dan posttest.

Selanjutnya berdasarkan hasil uji pretest normalitas dan nilai posttes dihasilkan sig pretes sebesar 0,371> 0,05 dan hasil sig posttest sebesar 0,421> 0,05. Telah dibuktikan bahwa nilai pretest dan posttest berdistribusi normal, dan hasil uji t sig 0,000 <0,05 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttes, kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat peningkatan hasil belajar dengan menggunakan model MoLearnco QueConsAa dengan pendekatan CTL dalam pembelajaran Desain Produksi Busana / Fashion Design Production. Sehingga hasil belajar dapat dinyatakan efektif.
Kesesuaian komponen CTL dengan model MoLearnco QueConsAa adalah pada konsep membawa mahasiswa ke dunia nyata.

Bagi mahasiswa IKK FPP UNP, program magang di industri seperti garmen, butiq/rumah mode sudah lama diimplementasikan dalam kurikulum, tinggal hanya tugas tim pengajar untuk mempersiapkan mereka agar lebih matang mengadapi dunia industri yang berorientasi bisnis ini, salah satu persiapan bagi mahasiswa menghadapi dunia industri
Pendekatan CTL dengan penerapan komponen CTL dalam pembelajaran DPB terinspirasi dari teori Johnson. Instrumen penelitian dan kelayakan produk penelitian ini sudah divalidasi ke pakar / ahli yang sesuai dengan bidangnya yaitu ahli pendidikan vokasi, ahli pendidikan desain produksi busana /fashion dan dibidang seni.

Sedangkan pengolahan data pree-tes dan postes dengan menggunakan SPSS 20. Out Look; penelitian ini terus dikembangkan dan telah menghasilkan produk-produk dalam bentuk Buku Desain Produksi Busana, model pembelajaran desain produksi busana Novelty, kebaruan/kekinian dari hasil penelitian ini adalah membuat peserta didik mampu dan selalu berinovasi, kreatif dalam belajar desain, menghasilkan produk desain dan busana serta mampu memasuki dunia kerja yang semakin global dan kompetitif. Produk penelitian ini direkomendasikan untuk digunakan mahasiswa bidang studi Tata Busana/Fashion, bagi guru SMK sebagai pegangan/pedoman dan juga dapat digunakan instruktur di Sekolah  Mode serta pemerhati bidang fashion design. (*)