Minimalisir Risiko Covid-19 dengan Mengendalikan Komorbid

41
ilustrasi. (net)

Eva Decroli
Guru Besar Fakultas Kedokteran Unand

Usaha-usaha pencegahan dan penularan infeksi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang melanda dunia termasuk Indonesia terlihat belum membuahkan hasil seperti yang kita inginkan. Setelah tujuh bulan pandemi, jumlah orang terinfeksi Covid-19 masih tinggi. Hal ini ditandai dengan Positivity Rate Covid-19 di Indonesia yang terus meningkat.

Positivity rate yang meningkat artinya kasus yang kita temukan jumlahnya bertambah dengan juga pemeriksaan yang lebih banyak. Peningkatan kasus terkonfirmasi positif tersebut juga disertai dengan angka kematian masih tinggi. Rumah sakit (termasuk gedung-gedung isolasi yang digunakan sebagai tempat perawatan pasien terinfeksi) dan tenaga kesehatan mulai kewalahan.

Semua lapisan di masyarakat diharapkan dapat selalu mengikuti dan mematuhi peraturan dan anjuran tentang protokol kesehatan dan perhatian lebih harus pula dilakukan kepada kelompok masyarakat usia tua dan orang-orang dengan komorbid.

Orang dengan usia tua dan orang-orang dengan komorbid seperti penyakit diabetes, penyakit hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru kronik dan penyakit lainnya lebih berisiko terkena Covid-19 dengan gejala lebih berat.

Berdasarkan beberapa penelitian terkait Covid-19, sekitar 94 persen kasus kematian yang disebabkan Covid-19 disertai dengan komorbid. Dengan demikian, perlu perhatian lebih kepada masyarakat yang memiliki komorbid tersebut untuk melaksanakan protokol kesehatan secara optimal agar tidak terinfeksi dan tidak menjadi sumber penularan Covid-19. Perhatian lebih yang kami maksud adalah agar para penderita komorbid tersebut selalu dalam keadaan terkontrol.

Pemerintah sudah melakukan berbagai macam upaya untuk dapat menangani pandemi ini agar dapat menekan angka penularan dan kematian kasus Covid-19. Upaya tersebut dilakukan mulai dari diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), sosialisasi protokol kesehatan, dan peraturan pemerintah yang diterbitkan. Upaya yang telah dilakukan antara lain sosialisasi tentang “3M” yaitu selalu menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dan usaha dalam hal tracing, testing dan treatment.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga telah mengeluarkan peraturan daerah (perda) mengenai “Adaptasi Kehidupan Baru” (AKB) yang memberikan konsekuensi hukum kepada pelanggar aturan-aturan pencegahan penularan Covid-19.

Bagi masyarakat dengan komorbid, selain mengikuti protokol kesehatan, juga harus mengontrol komorbid yang dideritanya tersebut. Komorbid seperti penyakit gula/ diabetes, penyakit hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru kronik dan penyakit lainnya haruslah terkontrol dengan baik agar risiko tertular Covid-19 dapat menurun dan bila tertular tidak bergejala, atau bila bergejala tidak berat.

Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan salah satu penyakit penyerta yang paling sering dikaitkan dengan gejala Covid-19 yang berat. Diabetes melitus yang tidak terkontrol seperti kadar gula darah masih tinggi, kadar gula darah puasa masih tinggi, kadar darah 2 jam setelah makan masih tinggi, dan kadar HbA1c masih tinggi. Diabetes yang tidak terkontrol akan memperberat keadaan seseorang bila terinfeksi Covid-19 dibandingkan orang dengan diabetes yang terkontrol.

Menurut Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), diabetes melitus dikatakan terkendali adalah apabila seorang penderita diabetes memiliki indeks massa tubuh yang normal 18,5-22,9 kg/m2, tekanan darah <140/90 mmHg, kadar gula darah puasa 80-130 mg/dL, gula darah 2 jam setelah makan <180 mg/dL, HbA1c d” 7%, kadar kolesterol LDL <100 mg/dL atau <70 mg/dL pada orang dengan risiko penyakit kardiovaskular yang tinggi, kadar trigliserida <150 mg/dL dan kadar kolesterol HDL pada laki-laki >40 mg/dL dan > 50 mg/dL pada wanita.

Baca Juga:  Anggota DPRD Mentawai Positif Korona Dinyatakan Sembuh

Penderita tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah penderita dengan tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg atau diastolik lebih dari 90 mmHg. Hipertensi juga merupakan penyakit kronis yang sangat terkait dengan infeksi dan beratnya gejala Covid-19. Maka sangat perlu bagi penderita-penderita hipertensi menjadikan tekanan darahnya senormal mungkin atau terkontrol.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi dikatakan terkontrol bila tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg. Jika hipertensi terkontrol dengan baik maka risiko penyakit yang berhubungan dengan hipertensi akan menurun termasuk risiko terhadap infeksi Covid-19.
Penyakit jantung yang dikenal sebagai serangan jantung (yang disebabkan oleh penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah koroner), gagal jantung dan penyakit katup jantung. Penyakit jantung yang dikenal sebagai serangan jantung dan penyakit gagal jantung yang sering dijumpai ditengah masyarakat yang sifatnya juga mempermudah dan memperberat infeksi Covid-19.

Penyakit-penyakit jantung di atas ditandai dengan nyeri dada, sesak nafas dan sembab pada tungkai. Sedangkan penyakit jantung dikatakan terkontrol bila tidak ada lagi nyeri dada, tidak adanya keluhan sesak nafas dan tidak adanya sembab pada tungkai dan dapat melakukan aktivitas hampir seperti orang normal.

Penyakit paru seperti penyakit asma bronkial, penyakit paru obstruktif kronis dan penyakit tuberkulosis paru juga merupakan komorbid yang sering dijumpai ditengah masyarakat. Penyakit paru tersebut dapat mempermudah seseorang terinfeksi Covid-19 dan bila terinfeksi maka akan cenderung memiliki gejala yang lebih berat. Secara klinis penyakit-penyakit di atas dikatakan terkontrol adalah bila sesak nafasnya minimal, batuknya reda, dan dapat beraktivitas seperti biasa.

Pada masyarakat yang menderita penyakit-penyakit seperti di atas haruslah kiranya bersahabat dengan keadaan dan mengupayakan agar penyakit ersebut dalam keadaan terkontrol. Diharapkan dengan terkontrolnya penyakit-penyakit di atas disertai dengan menerapkan protokol kesehatan yang optimal akan semakin meminimalisir risiko terinfeksi Covid-19 dan bila terinfeksi tidak akan berat.

Berbagai macam upaya dapat dilakukan guna mengendalikan penyakit penyerta yang kita uraikan di atas. Beberapa poin penting harus diperhatikan. Hal pertama yang harus dipahami adalah penyakit penyerta/ komorbid tersebut tidak dapat hilang begitu saja, dia tidak akan sembuh sendiri. Butuh kerja sama yang optimal antara tenaga kesehatan dan penderita penyakit komorbid.

Penderita dengan komorbid harus dapat memanfaatkan fasilitas dan sarana medis yang tersedia secara optimal yaitu mengikuti anjuran yang diberikan oleh dokter, memastikan obat yang diberikan dikonsumsi sesuai dengan anjuran, mengikuti dengan ketat jadwal kontrol yang telah dijadwalkan. Dalam pandangan kami banyak pasien-pasien dengan komorbid agak lalai dan abai melakukan kontrol secara teratur di era pandemi ini.

Seharusnya justru di era pandemi ini pasien-pasien dengan komorbid harus lebih meningkatkan disiplin dalam berobat dan kontrol ke rumah sakit agar penyakitnya terkontrol dengan baik. Semoga kita semua baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Nya. (*)