Maota

24
Emeraldy Chatra Dosen FISIP Unand

Sudah dua kali dalam bulan ini saya memberikan ceramah tentang kegiatan maota. Pertama di Lubukbasung. Di depan para penghulu adat, tuo-tuo silek, dan ulama. Kedua di Payakumbuh, menyasar anak-anak muda sebaya anak bungsu saya.

Tema ceramah saya sama: tradisi maota. Sebuah tradisi yang mengalami transformasi tak sempurna ke dunia digital, dan mulai menghilang di perkotaan Sumbar. Saya tidak ingin tradisi maota hilang dari keseharian orang Minangkabau. Oleh sebab itu, selalu di akhir ceramah saya berpesan: kembalilah maota-ota.

Maota itu ngobrol lepas, santai, kadang berdebat. Orang Minangkabau biasanya maota di lapau-lapau (warung kopi). Sebagian juga di dangau dan surau. Tentu sambil minum kopi atau teh talua (teh telur), goreng-gorengan dan asap uduik (rokok) yang mengepul.

Maota identik dengan laki-laki. Walaupun sebenarnya kaum perempuan kadang-kadang juga maota di tepian mandi, dapur atau dangau lesung (tempat menumbuk padi). Dari penelitian yang sudah saya mulai sejak empat tahun silam maota itu ada beberapa jenis.

Jenis yang paling umum adalah maota lamak (ngobrol santai), maota kariang (ngobrol tanpa minum), dan sabana maota (ngobrol serius). Maota lamak adalah maota santai tanpa tujuan yang jelas. Namun mengasyikan. Orang bisa maota lamak selama berjam-jam.

Sebelum pandemi Covid-19 menyerang sekelompok mahasiswa suka datang ke rumah saya untuk maota lamak. Kadang mulai dari lepas Isya sampai menjelang subuh. Berhabis kopi dan gorengan. Topiknya menjalar ke mana-mana, seperti ular.

Maota kariang biasanya memakan waktu lebih singkat. Kurang asyik karena tidak pakai minuman. Maota kariang lazim dilakukan untuk membicarakan masalah khusus, kadang darurat, atau harus ditindaklanjuti secepatnya.

Jenis terakhir, sabana maota, bukan maota untuk santai. Sabana maota punya tujuan berbagi pikiran, menyatukan pemahaman, berdebat, bahkan sampai pada rencana-rencana tertentu. Pendeknya, ini percakapan serius.

Sebagian orang Minangkabau sekarang menganggap kegiatan maota itu sudah selayaknya ditinggalkan. Maota itu membuang-buang waktu. Lebih baik bekerja saja, jelas hasilnya. Begitu pikiran para pengeritik pada umumnya.

Baca Juga:  Kompromi Bijak Melahirkan Fateta Unand

Pikiran seperti itu yang saya bantah dalam ceramah-ceramah saya. Argumen saya, maota itu aktivitas komunikasi di antara manusia. Berkomunikasi juga bekerja, tapi lebih banyak menggunakan otak ketimbang tangan atau kaki.

Mulut hanya mengucapkan apa yang dihasilkan oleh kinerja otak. Orang tidak dapat maota kalau pikirannya tidak berjalan. Kucing, burung atau ayam tidak maota karena kapasitas otak mereka tidak memadai untuk memikirkan isu yang hendak diobrolkan.

Begitu juga alat bicara yang mereka miliki, tak memadai. Manusia bisa maota karena mengoptimalkan kerja otak dan melatih mulut mereka mengucapkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain.

Dengan demikian ada dua unsur yang sangat lekat dengan maota, yaitu pikiran dan tutur-kata. Dalam maota orang harus mengerahkan energi untuk berpikir, mengendalikan pikiran, dan memilih kata-kata yang tepat supaya apa yang dipikirkan keluar dengan baik dan dapat dimengerti orang.

Orang yang gemar maota adalah orang yang berusaha memelihara kemampuan otaknya, walaupun tidak mereka sadari. Makin sering mereka maota otaknya makin terlatih, tutur-katanya makin baik. Demikian pula kontrol terhadap masalah yang di-ota-kan, makin tinggi. Sederhananya, mereka makin menjadi komunikator yang bagus.

Sekarang orang cenderung menghindari maota ketika duduk di lapau. Apalagi kalau duduk di kafe yang dilengkapi dengan wifi gratis. Mereka sibuk saja sendiri dengan gadgetnya untuk menonton video atau mendengar lagu.

Otaknya tentu bekerja juga sedikit, tapi mereka menjadi orang yang pasif, kemampuan bertutur kata tidak terasah, dan orang seperti itu rentan termakan propaganda. Mereka yang tidak suka maota mungkin tidak menyadari manfaat maota bagi diri mereka sendiri.

Dengan maota mereka melatih kemampuan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi itu sekarang penting sekali untuk keberhasilan di berbagai bidang pekerjaan: jadi pemimpin, penjual, politisi, penceramah, pengacara, penulis, pengajar, dan lainnya. (*)