Perempuan Berpendidikan, Perlukah?

78

Sri Gema Dirga Putri

( Mahasiswa Magister Ekonomi Universitas Andalas)

“Jika anda mendidik seorang laki- laki berarti anda telah mendidik seorang person, namun jika anda mendidik seorang perempuan maka anda telah mendidik seluruh anggota keluarga “(Nyerere, Presiden Tanzania (1964-1985))

Setiap manusia pada dasarnya terlahir memiliki hak yang sama. Salah satu hak mendasar di dalam nilai kehidupan manusia dewasa ini adalah pendidikan.

Di Indonesia pendidikan merupakan suatu cara dalam mewujudkan cita-cita luhur para pendiri bangsa yang tertuang di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di era Sustainable Development Goals (SDGs), pendidikan yang berkualitas menjadi tujuan global yang keempat yaitu menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua sehingga pendidikan menjadi tumpuan upaya pemerintah untuk mendorong pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan berkelanjutan hingga 2030.

Dengan adanya peningkatan pendidikan bagi masyarakat Indonesia akan memacu pencapaian terhadap tujuan dan sasaran lainnya dalam 17 poin SDGs, terutama untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia Indonesia.

Untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia perlu adanya Pembangunan dalam pendidikan yang merupakan faktor utama dalam upaya mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, memiliki kompetensi dan keahlian yang berdaya saing, serta memiliki karakter dan budi pekerti yang unggul.

Pembangunan pendidikan diselenggarakan untuk menjamin tersedianya akses pendidikan yang merata dan meningkatnya kualitas, relevansi serta daya saing pendidikan.

Salah satu aspek dalam pembangunan pendidikan yang tidak bisa dinafikan begitu saja adalah bias gender, sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945 bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam pembangunan termasuk dalam bidang pendidikan.

UU No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia juga menyebutkan bahwa wanita berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran di semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.

Lebih lanjut dijelaskan dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa sistem pendidikan harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Salah satu pendidikan yang sangat perlu dilihat adalah pendidikan pada perempuan, dan seberapa perlunya perempuan memiliki pendidikan yang layak.

Perempuan dan pendidikan adalah dua hal yang kerap menjadi sebuah perbincangan yang menarik. Bagaimana tidak, perempuan memiliki kelemahan yang senantiasa diidentikkan sebagai karakteristik kudrati baginya dan masih dominannya budaya patriarki membuat perempuan selalu dinomor duakan setelah laki-laki tidak terkecuali dalam bidang pendidikan.

Padahal, puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita telah dikumandangkan oleh RA Kartini sebagai kritik sosial pada realitas bahwasanya perempuan juga perlu pendidikan.

Salah satu pokok substansi yang disuarakan oleh Kartini adalah upaya mewujudkan kesetaraan perempuan dalam mendapatkan pendidikan. Namun pada kenyataannya perempuan kerap tertinggal dari laki-laki dalam hal pendidikan.

Baca Juga:  Yakin Lai, Kok Picayo Antah Lah…

Berdasarkan data Susenas tahun 2018 angka melek huruf laki-laki berumur 15 tahun keatas lebih tinggi dari pada angka melek huruf perempuan berumur 15 tahun keatas, yaitu sebesar 97,33% untuk laki-laki dan 93,99% untuk perempuan.

Berdasarkan rata-rata lama sekolah penduduk berusia 15 tahun keatas laki-laki yaitu 8,90 tahun dan perempuan 8,26 tahun. Hal ini menunjukkan masih adanya gap antara laki-laki dan perempuan dalam hal pendidikan.

Padahal perempuan memliki peran yang sangat penting dan lakon yang paling vital dalam pendidikan terutama dalam keluarga. Presiden Tanzania Nyerere, pernah mengatakan “Jika anda mendidik seorang laki-laki berarti anda telah mendidik seorang person, namun jika anda mendidik seorang perempuan maka anda telah mendidik seluruh anggota keluarga”

Berbicara tentang keluarga berarti bicara tentang perempuan sebagai ibu, seorang ibu merupakan elemen terpenting dalam pembentukan dan pengembangan karakter seorang anak yang memiliki peran dan fungsi strategis dalam keluarga dan masyarakatnya.

Untuk membentuk hal tersebut, pendidikan sangat penting untuk perempuan karena ibu sebagai sekolah pertama bagi anak dan pendidikan seorang anak dimulai di dalam keluarga.

Dari ibulah seorang anak belajar mengenal segala hal baru dalam hidupnya. Anak mulai belajar berbicara, makan, minum, bergaul, atau bersosialisasi dengan ibu.

Ibu juga paling mengerti karakter anak sehingga mampu memberikan pendidikan yang sesuai. Di sampingitu, ibu sebagai pilar utama dalam proses pendidikan bagi anaknya. Prestasi dan kesuksesan anak sangat berkaitan erat dengan peran ibu sebagai sekolah pertama bagi anaknya.

Selain itu, investasi pada pendidikan anak perempuan menghasilkan tingkat pengembalian paling tinggi dari semua investasi pembangunan dan memberikan manfaat yang besar tidak hanya untuk perempuan itu sendiri tapi juga keluarga dan masyarakat secara luas.

Beberapa manfaat investasi pada perempuan yaitu mengurangi tingkat fertilitas, menurunkan angka kematian bayi dan anak, menurunkan angka kematian ibu, melindungi perempuan dari infeksi HIV/AIDS, meningkatkan tingkat partisipasi dan pendapatan angkatan kerja perempuan, dan menciptakan manfaat pendidikan antar generasi.

Dengan demikian perempuan yang berpendidikan tidak hanya sekedar perlu, tapi sangat penting. Bagaimanapun pendidikan berawal dari keluarga, disanalah peran perempuan sebagai ibu sangat signifikan karena ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Selain itu investasi dalam pendidikan anak perempuan memberikan banyak manfaat yang tidak hanya untuk perempuan itu sendiri tapi juga keluarga dan masyarakat secara luas.

Oleh karena itu, seyogiyanya setiap perempuan mendapatkan pendidikan yang layak. Perlu peran pemerintah dalam mendukung pendidikan untuk perempuan. Apabila perempuan memilki pendidikan yang baik niscaya tujuan pembangunan yang berkelanjutan akan mudah tercapai. (*)

Previous articleSiap Back Up, Mentan Dorong Kawasan Khusus Pengembangan Buah di Solok
Next articleAktivitas Merapi: Jarak Luncur Guguran Awan Panas Capai 1.300 Meter