Trust dan Modal Sosial Menghadapi Pandemi Covid-19

229
Ilustrasi pandemi Covid-19. (Foto: IST)

Al Mukhollis Siagian
Presiden Wadah Pejuang Penegak Solusi Politik

Hingga sejauh ini, lebih dari 6 juta jiwa populasi dunia dikonfirmasi positif kasus Covid-19 dengan angka mortalitas lebih dari 370.000, pandemi Covid-19 telah memukul suasana kehidupan dengan keras.

Begitu juga dengan dampak yang ditimbulkannya melanda ketidaknyamanan aktivitas sehari-hari, terjadinya krisis sosial, ekonomi, dan politik berskala besar. Setiap harinya, ancaman ini masih saja berkembang dan sampai kapan masih misteri.

Mengulas dari belakang, pandemi telah mengejutkan kita semua dan bahkan terasa bagaikan mimpi buruk. Walaupun demikian adanya, melalui kesadaran kita menyatakan bahwa pandemi dan seluruh dampaknya merupakan keadaan nyata yang harus dihadapi.

Pun muncul kesadaran, betapa kita lengah dan tidak siap menyelesaikannya. Kita diperingatkan tentang risiko panjang pandemi selama bertahun-tahun, tetapi apakah kita siap? Tidak.

Kita tidak benar-benar berpikir itu akan terjadi. Selalu ada masalah yang lebih mendesak. Dan sementara beberapa mungkin berpikir tentang persediaan aktual dan rencana kesiapsiagaan yang kita butuhkan menghadapai pandemi, kebanyakan dari kita tidak benar-benar menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan unsur-unsur yang diperlukan sebagai bagian dari rencana dan kekuatan utama, mulai dari kolektivitas, kebersamaan, kepercayaan, kepemimpinan, masyarakat sipil, dan modal sosial.

Ada banyak pembicaraan tentang perlunya membangun kembali tatanan kehidupan dengan seluruh seluk beluknya dengan lebih baik. Sasaran seperti itu mengagumkan dan ambisius, tetapi apakah capainnya realistis? Sebelum penguncian maupun pengetatan aktivitas dilakukan banyak negara, uang hampir habis begitu juga dengan kesabaran masyarakat. Miliaran pekerjaan terdampak, akut kelaparan, dan ketimpangan semakin meningkat.

Pandemi Covid-19 mungkin tidak diskriminatif, tetapi tidak  dengan pengaruh dan kebijakannya. Ada perbedaan besar, di satu sisi “kesengsaraan” elit berjuang di rumah besar mereka, dan di sisi lain drama untuk para pekerja yang menganggur atau bergaji rendah tinggal di rumah-rumah kecil perkotaan, kamp penghuni liar dan pinggiran.

Ketidaksetaraan sangat mencolok bahkan sebelum Covid-19 menyerang dan semakin memburuk selama pandemi. Tidak hanya itu, xenophobia, polarisasi, dan kemarahan meningkat pada berbagai negara.

Lantas, bagaimana kita dapat mereflektifkan spirit gotong royong menghadapi Covid-19 dan menata kehidupan lebih baik pasca pandemi dengan modal dan kerja sama minim, institusi lemah dan banyak ketegangan? Jawabannya dengan investasi dalam kepemimpinan, kepercayaan, dan modal sosial.

Ini tidak mudah dan perubahan tidak terjadi dengan cepat. Tapi kita tidak punya pilihan. Kita harus berinvestasi tentang seluruh dampak dan benar-benar membangun ketahanan serta keberlanjutan. Investasi harus dilakukan melalui kepercayaan terhadap pemimpin, lembaga, dan pemerintah.

Hanya dengan demikian kita dapat mengharapkan orang untuk bekerja sama, mengikuti aturan, banding, dan rekomendasi pemimpin mereka. Hanya dengan begitu kita dapat benar-benar mengharapkan orang di negara-negara pada seluruh dunia untuk berperilaku kolektif dan saling membantu.

Hanya dengan begitu kita dapat benar-benar berharap memadamkan kemarahan terhadap elit, dan keresahan sosial yang berkembang di banyak bagian dunia menjadi sepi. Hanya dengan begitu kita benar-benar percaya diri dan siap menghadapi krisis.

Tindakan penguncian telah menjadi alat integral dalam menghadapai Covid-19, terutama untuk negara-negara yang kekurangan stok peralatan dan sistem kesehatan. Sebagaimana Sekolah Kesehatan Masyarakat Prancis memperkirakan bahwa satu bulan kurungan dapat mencegah sekitar 60.000 kematian.

Namun tindakan ini tidak dengan harga murah, berdampak buruk pada ekonomi, lapangan kerja, pendapatan, sistem pangan, kesehatan mental, dan meningkatkan potensi kerusuhan masyarakat. Kita bisa belajar dari negara-negara Skandinavia, Jerman dan beberapa negara lainnya dengan modal sosial dan kepercayaan yang sama dapat membantu mereka melalui krisis, mengurangi tindakan penguncian dan karantina mahal.

Indikatornya jelas, bahwa negara-negara yang mengelola terbaik krisis bergantung pada kombinasi sistem, peralatan kesehatan yang lengkap dan terorganisir, perlindungan sosial, kepemimpinan dan komunikasi yang baik, serta sejumlah besar modal sosial dan kepercayaan (trust).

Kepercayaan pada pemimpin, lembaga, dan satu sama lain merupakan bagian penting dari apa yang sering kita sebut sebagai modal sosial. Modal sosial hanya berbicara rasa identitas bersama, norma dan nilai-nilai. Modal ini memberikan masyarakat berfungsi lebih baik, banyak inovasi, kinerja ekonomi lebih baik, dan juga hasil kesehatan lebih baik. Masyarakat dengan rasa kepercayaan yang kuat lebih mampu merespons krisis.

Kepercayaan adalah yang terpenting untuk menyebarkan informasi penting dan rekomendasi berdasarkan fakta. Tapi perlu diketahui bahwa modal sosial dan kepercayaan bukanlah barang yang bisa ditarik begitu saja. Dua hal ini merupakan fondasi bangunan masyarakat yang diperoleh dengan susah payah dan bukan dari perbaikan murah atau cepat saji. Kepercayaan pada institusi dan kepemimpinan tergantung pada bagaimana dan apa yang diberikan oleh institusi dan pemimpin pada masyarakat. Kita tahu bahwa itu tergantung pada apakah orang percaya bahwa sumber daya yang mereka peroleh didistribusikan secara adil.

Dan apakah orang percaya informasi yang mereka dengar atau tidak. Kita juga tahu bahwa kepercayaan dan dukungan meningkat ketika pemerintah dan lembaga mempromosikan nilai-nilai dan mencapai tujuan seperti perdamaian, keadilan, inklusi, dan kesetaraan. Membangunnya bukan perbaikan cepat, tetapi apa yang dibangun hari ini akan menghasilkan beberapa pengembalian dalam jangka pendek dan bahkan jangka panjang.

Cara para pemimpin berkomunikasi dan bertindak sekarang, akan menentukan bagaimana mereka dinilai dalam jangka panjang, dan bagaimana mereka maju dalam pemilihan mendatang. Dapat dikatakan bahwa para pemimpin di banyak tempat telah gagal menghadapi pandemi. Secara keseluruhan, pemerintah melakukan sedikit investasi dalam persediaan dan rencana kesiapan. Ke depan, kita perlu membangun kepercayaan kolektif bahwa pemerintah dapat berbuat lebih baik, bahwa mereka siap menghadapi krisis, secara simultan berinvestasi dalam kebijakan, serta tindakan yang mempromosikan perdamaian, keadilan, inklusi, dan kesetaraan.

Jika kita melakukan ini dengan benar, melalui bahasa yang jujur dan berbasis fakta, kita dapat membangun kepercayaan, mengelola krisis saat ini, dan secara bersamaan mempersiapkan pemulihan. Jika tidak, kita akan memasuki medan yang tidak pasti dan benar-benar berbahaya dengan siklus baru kerusuhan sosial dan kekerasan kolektif.
Banyak institusi bekerja dengan mengesankan meskipun ada banyak tekanan selama pandemi ini. Walikota dan gubernur mengambil tindakan, mengeksplorasi solusi inovatif untuk melindungi populasi paling rentan. Ribuan tokoh masyarakat, serikat pekerja, mahasiswa, profesional, lingkungan, organisasi, dan yayasan akar rumput mengambil peran demikian.

Semua upaya ini membangun modal sosial yang kita butuhkan untuk menghadapi krisis. Melalui kepercayaan dan modal sosial, bersama dengan rencana kesiapsiagaan yang kuat dan stok peralatan medis dan perlindungan sosial, kita mungkin tidak perlu terkunci ketika pandemi berikutnya menghantam. (*)