Andaikan Presiden Sakit

42
ilustrasi. (net)

Reza Indragiri Amriel
Pemilik Polis Asuransi Kesehatan

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump positif terjangkit Covid-19. Semua media di permukaan bumi mewartakan jatuh sakitnya orang nomor satu di negeri adidaya itu. Ini pertanda betapa jantung dunia seketika berdegup lebih kencang, membaca semua kemungkinan.

Pertengahan tahun 1965, kondisi kesehatan Bung Karno kian buruk. Tim dokter dari Tiongkok bahkan membuat ramalan yang amat merisaukan tentang seberapa lama sang presiden akan sanggup mempertahankan cahaya fajarnya. Seketika jagat perpolitikan tanah air mendaki mendekati titik didih.

Buku-buku sejarah mencatat betapa DN Aidit, ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), menginjak gas pol menghadapi situasi kritis itu. Khawatir kehilangan momentum untuk menjadi penguasa, Aidit langsung menggerakkan mesin-mesin partai lebih kencang. Puncaknya, apa lagi kalau bukan tragedi Gerakan 30 September.

Aksi pengganyangan biadab terhadap musuh-musuh utama PKI yang, mengacu dokumen Brigjen Subardjo yang dijadikan sebagai bahan utama buku John Roosa, penuh sesak dengan groupthink. Groupthink yang mewujud ke dalam petualangan ugal-ugalan yang menumpahkan tinta darah di atas kanvas sejarah Indonesia. Kegilaan PKI merupakan manifestasi betapa sakitnya Presiden Soekarno telah turut menenggelamkan Indonesia kian dalam ke pusaran krisis.

Sekian puluh tahun kemudian, giliran Presiden Soeharto yang jatuh sakit. Kurang lebih, kata Moerdiono, ada batu kemih yang harus selekasnya dikeluarkan dari tubuh Pak Harto. Namun, hanya beberapa waktu sebelum operasi dilangsungkan, batu kemih ternyata keluar dengan sendirinya. Pak Harto kembali sehat; Indonesia tak terkena krisis.

Lalu, tiba masa Presiden Abdurrahman Wahid. Gus Dur juga disebut-sebut mengidap kondisi kesehatan yang tidak bisa dianggap enteng. AM Fatwa bahkan sempat menyarankan agar Gus Dur diperiksa komprehensif oleh dokter. Saran itu merefleksikan kekhawatiran wakil ketua MPR tersebut akan konsekuensi politik zig-zag yang diciptakan Gus Dur. Tak pelak, kondisi kesehatan kepala negara terbukti berpengaruh terhadap stabilitas negara.

Di luar negeri cerita serupa bertebaran. Ada Woodrow Wilson. Presiden AS itu tengah sengit-sengitnya bernegosiasi dengan David Lloyd George (perdana menteri/PM) Inggris dan Georges Clemenceau (PM Perancis) mengenai situasi pasca-Perang Dunia I. Pada waktu genting, Woodrow tiba-tiba jatuh sakit di Paris. Ia sakit amat-sangat parah, terpapar flu Spanyol (Spanish flu). Flu berat, terkapar dan tidak dapat bergerak di atas pembaringan.

Proses berpikir Woodrow kacau. Mengetahui bahwa mitra (lawan?) negosiasinya sakit serius, Clemenceau bahkan mengajak Lloyd George untuk menyogok dokter agar memengaruhi Woodrow sehingga menyepakati titik kompromi yang menguntungkan Perancis dan Inggris. Ujung negosiasi alot itu, termasuk langkah lanjutan Woodrow, bisa dibaca di buku-buku sejarah.

Sakitnya kepala negara atau kepala pemerintahan memang bisa bikin negara dan kebijakannya oleng. Tapi tidak selalu demikian. Contoh kebalikannya adalah Dwight D Eisenhower. Kendati terkena serangan jantung serius pada 1955, kemudi tetap kukuh dalam genggamannya. Meski jantungnya empot-empotan, Eisenhower sendiri yang, catat Robert E Gilbert (2012), memanipulasi tim medis, mengamankan reputasinya, mengelabui staf, membuat pers bingung, mengelola para penasihat, menguasai partai, dan menggerakkan sekian banyak manuver lainnya guna menutup celah bagi lawan politik untuk melakukan serangan.

Baca Juga:  Di Mentawai, 6 Orang lagi Sembuh Covid-19

Jeffrey M Jones dan Joni L Jones, dalam publikasi tahun 2006, mencatat 11 dari 43 presiden AS terkena stroke. Sebagian membuat negara limbung; sebagian lainnya tetap perkasa mempertahankan supremasi kepemimpinannya.

Tidak melulu kondisi kesehatan yang parah atau kronis yang dapat berdampak terhadap keputusan-keputusan kepala negara. Gangguan kesehatan yang “lebih ringan” juga bisa tiba-tiba menyergap orang nomor satu di pemerintahan. Sakit kepala atau migrain misalnya.

Presiden Jefferson dikenal mengidap sakit kepala parah. Grant dan Lincoln juga demikian. Adams dan Truman pun diduga mengidap masalah kesehatan serupa. Bahkan jangankan sang presiden. Ketika yang terjangkit penyakit adalah first lady, dampaknya pun bisa nyata mengena ke kualitas kepemimpinan suami yang notabene berkedudukan sebagai kepala rumah tangga sekaligus kepala negara.

Walau migrain atau sakit kepala relatif dapat cepat diatasi, namun ketika kepala seperti mau pecah, kepemimpinan tetap bisa dialihkan secara temporer. Amandemen ke-25 konstitusi AS memungkinkan dilakukannya transfer kekuasaan dari presiden kepada wakil presiden untuk sementara waktu. Aturan main semacam itu pernah diterapkan, antara lain, dari Ronald Reagan ke George Bush. Penyebabnya, Reagan harus menjalani pembedahan dan menerima anestesi.

Sekali lagi, kendala kesehatan yang dialami kepala negara atau kepala pemerintahan bisa memantik spekulasi atau bahkan krisis stabilitas nasional. Namun, selama wakil dan jajaran kabinetnya kuat, gejolak akan dapat diredam. Pada poin ini, masuk akal perkataan Donald Trump ketika menyebut dirinya sebagai wartime president. Presiden di masa perang, diasumsikan, akan memimpin sebuah kabinet yang juga perkasa di waktu penuh gejolak (war cabinet).

Kini dunia dilanda pandemi Covid-19. Indonesia tidak imun dari pagebluk tersebut. Tentu harapan kolektif adalah negara kita tidak terperosok ke situasi ekstrem. Namun, sebagai pemikiran realistis, kemungkinan presiden jatuh sakit, terkena virus korona, misalnya, tetap sepatutnya masuk dalam inventaris langkah antisipasi.

Bukan terkait prosedur alih kepemimpinan dari presiden ke wakil presiden, karena ihwal ini toh sudah ada ketentuannya. Melainkan, baik ketika Presiden Jokowi harus rehat untuk sementara waktu maupun untuk seterusnya, apakah wakil presiden dan seluruh jajaran menteri benar-benar siap bertarung dalam situasi ”perang”?

Terlalu horor untuk membayangkan yang bukan-bukan. Alhasil, tulisan ini saya tutup dengan doa: semoga Presiden Jokowi dan segenap masyarakat, termasuk saya anak-beranak, Allah SWT kuatkan menempuh masa berat ini. (*)