Hentikan Diskriminasi Terhadap Oypmk

21
Qaira Anum Dosen FK Unand

Kusta atau lepra adalah penyakit yang sudah ada berabad-abad lamanya, dan masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Walaupun data 7 tahun terakhir menunjukkan tren penurunan, baik prevalensi maupun angka penemuan kasus baru kusta, meskipun penurunannya sangat lambat.

Salah satu faktor yang menyebabkan sangat lambatnya penurunan angka ini antara lain karena masih adanya stigma dan diskriminasi di kalangan masyarakat terhadap pasien kusta atau pun OYPMK (orang yang pernah menderita kusta ) dan keluarganya.

Hal ini tentu saja akan menimbulkan masalah yang kompleks, bukan hanya dari segi medis tetapi juga mengenai seluruh sektor kehidupan, baik masalah sosial, ekonomi, ataupun budaya.

Kusta itu sendiri disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penularan kusta melalui kontak erat dan lama dengan penderita kusta yang tidak diobati. Bakteri ini membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak dan tidak mudah menular ke orang lain.

Kusta tidak menular dengan salaman, duduk bersama ataupun tidak melalui hubungan seksual. Penyakit ini ditandai dengan bercak kulit berwarna putih atau kemerahan dengan mati rasa (baal), tukak pada kaki yang tidak berasa, rontok alis dan bulu mata.

Pada kondisi berat dapat disertai dengan disabilitas di tungkai seperti jari-jari tangan/kaki kiting, drop hand/drop foot, ataupun kelopak mata atas tidak dapat menutup. Disabilitas ini dapat bersifat permanen, sehingga akan bertahan seumur hidup.

Stigma yang berkembang bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui kontak dengan penderita misalnya berjabat tangan. Demikian juga stigma kusta sebagai kutukan dan menular bila duduk bersebelahan dan bersentuhan dengan penderita atau orang yang pernah menderita kusta (OYPMK).

Stigmatisasi ini kerap membuat penderita/OYPMK diisolasi oleh masyarakat. Isolasi sosial ini adalah disabilitas pertama dan terberat yang harus ditanggung oleh penderita kusta.
Orang yang menderita kusta atau keluarganya seringkali diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi, misalnya diasingkan atau hak-haknya diabaikan, dirugikan, dibatasi atau dilanggar, baik sebagai anggota keluarga, sebagai warga masyarakat dan warga negara.

Pola diskriminasi sosial yang terjadi pada penderita kusta seperti tidak mendapatkan pekerjaan, dipecat dari pekerjaan, berpisah dari pasangan, diejek, tidak bisa sekolah, bahkan ada yang ditolak di tempat ibadah.

Hal ini tentu saja tidak kita inginkan terus berlansung pada penderita kusta. Karena ini akan memengaruhi tingkat keberhasilan untuk mengobati penyakit kusta dan tentu juga program eliminasi kusta di Indonesia. Bagaimana sikap dan tindakan kita sebagai masyarakat?

Baca Juga:  Optimislah

Selanjutnya, apa yang dapat kita lakukan untuk memberantas ”Leprosy-phobia” ini ? Untuk mencapai eliminasi kusta pada tahun 2024. Apakah akan tercapai? Untuk itu sejalan dengan program pemerintah dalam peringatan hari kusta sedunia yang jatuh pada tanggal 31 Januari 2022 kemarin, mengangkat tema ”Mari bersama hapuskan stigma dan diskriminasi kusta.”

Sudah saatnya kita bersama-sama untuk memulai langkah ini. Tindakan konkret sudah dilakukan oleh pemerintah dengan menyediakan pengobatan kusta secara gratis dan dapat diakses di layanan primer. Peran aktif keluarga dan tenaga kesehatan berupa pendampingan selama pengobatan sangat penting untuk keberhasilan terapi kusta.

Strategi pengobatan kusta dan upaya memutus mata rantai penularan adalah satu bagian yang harus dilakukan secara berkesinambungan. Pengobatan multi drug therapy (MDT) dengan minum obat selama 6-9 bulan pada kusta pausibasiler dan 12-16 bulan pada kusta multibasiler terbukti efektif dalam eradikasi bakteri kusta.

Pengobatan dini pada reaksi kusta dapat mencegah terjadinya disabilitas dan kerusakan saraf yang berat. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan skrining lingkup terdekat penderita seperti keluarga dan orang sekitarnya. Deteksi dini, pengobatan tepat dan profilaksis adalah bagian dari upaya memutus mata rantai penularan.

Keterlambatan pengobatan menyebabkan munculnya disabilitas permanen. Beban kesehatan dan diskriminasi ataupun tekanan sosial akibat stigmatisasi masyarakat menjadikan penderita semakin terpuruk.

Penderita kusta sering mengalami depresi, hal inilah yang membuat penderita kusta maupun keluarga tidak mau untuk berobat karena malu jika diketahui oleh lingkunganya. Ketakutan akan dikucilkan dan mengalami diskriminasi baik di lingkungan tempat tinggal, lingkungan kantor ataupun lingkungan sekolah.

Kondisi ini terus berlanjut dan berakhir pada tidak tuntasnya pengobatan, peningkatan kasus, serta timbulnya kecacatan. Sebagai masyarakat dan juga tenaga kesehatan, kita harus ambil bagian dalam menuntaskan pengobatan kusta, serta memutus mata rantai penularan.

Langkah nyata yang dapat kita lakukan adalah menjadi kader-kader penggerak pencegahan kusta di tempat kita masing-masing. Mari kita kampanyekan peduli kusta melalui media sosial, berbagi informasi untuk menghentikan diskriminasi, stigma, dan prasangka terhadap OYPMK.

Kusta adalah tanggung jawab kita bersama, mari mengajak teman, sahabat dan seluruh lapisan masyarakat bergabung menjadi penggerak pencegahan kusta dan menghentikan diskriminasi terhadap OYPMK. See the person, not the disability. (*)