CSR-Corporate Governance dan Ketahanan Perusahaan 

171

Oleh: Asniati—Dosen Fakultas Ekonomi Unand

COVID-19 sudah menjadi pandemi yang menyebar di seluruh benua. Tanggal 30 Januari 2020 lalu, WHO sudah menetapkannya sebagai Public Health Emergency of International Concern. Pandemi Covid-19 memberikan tekanan pada kondisi ekonomi dan sosial dunia, termasuk Indonesia dan Malaysia. Krisis keuangan global Covid-19 bervariasi berdasarkan asal, skala dan tingkat keparahan dari masalah sebelumnya.

Beberapa pemerintah mengamanatkan jarak sosial untuk menghindari atau setidaknya membatasi penyebaran Covid 19 yang dilembagakan dengan karantina, pembatasan perjalanan yang ketat, dan berbagai pembatasan lainnya di suatu negara yang berdampak pada aktivitas ekonomi. Peraturan ini berdampak langsung pada tenaga kerja, rantai pasokan, dan penjualan produk dan layanan (Cheema-fox et al., 2020). Hal ini mengakibatkan harga saham jatuh karena ketakutan akan ketidakpastian. Gelombang kedua Covid-19 ini bahkan lebih parah dibandingkan gelombang pertama di Indonesia dan Malaysia.

Badan Koordinasi Penanaman Modal mengungkapkan bahwa dampak pandemi tidak hanya di satu  bidang tetapi juga di hampir semua kegiatan yang ada,  termasuk jatuhnya  pasar saham  yang tak terhindarkan akibat  Covid-19. Per 5 Maret l 2020, tiga hari setelah kasus pertama virus korona diumumkan di Indonesia, hingga diumumkannya  Covid-19  sebagai pandemi global, IHSG sempat anjlok 30% hanya dalam 14 hari perdagangan titik terendahnya. Penurunan tahun ini bahkan lebih parah dari krisis 1997-1998, yang saat  itu turun 30% dalam 20 hari. Akibatnya,  tindakan orang-orang  yang  berbondong-bondong menjual sahamnya  sangat merusak aktivitas ekonomi, dan rantai pasokan global yang  diperpanjang  putus,  berakhir dengan berkurangnya kepercayaan terhadap kinerja perusahaan. Kendali akibat peristiwa tak terduga ini hilang, tetapi dapat menjadi alasan pentingnya  membangun ketahanan perusahaan dan meningkatkan sistem kekebalan perusahaan yang membantu menahan perubahan dan segera  pulih dari krisis.

Covid-19 menekan bisnis untuk cepat beradaptasi dengan pandemi dan menunjukkan ketahanan mereka kepada investor. Ketahanan menjadi semakin penting seiring dengan berkembangnya dunia pasar yang kompleks  dan bergejolak.  Pandemi virus korona memungkinkan bisnis untuk menggambarkan seberapa stabil, fleksibel, dan mampu mereka menangani ancaman dan menyesuaikannya  dengan keadaan baru  untuk membuktikan ketahanan mereka. Gallopín (2006) membahas ketahanan  perusahaan yang  dianggap sebagai kapasitas dan kemampuan tangguh organisasi untuk mengatasi, menanggapi dan pulih dari gangguan. Dia juga  membahas bagaimana sebuah organisasi  dapat  mengurangi eksposurnya  terhadap  risiko yang diantisipasi dan tidak dapat diprediksi, seberapa tangguh organisasi  untuk mengatur dirinya sendiri melalui dunia yang berkembang dan  seberapa  suksesnya  dapat pulih dengan jumlah waktu dan biaya yang  minimal.

Definisi resiliensi dieksplorasi sebagai hal yang esensial untuk mengatasi gangguan eksternal, seperti bencana alam, krisis ekonomi, dan penyakit yang  meluas, dan banyak lagi dalam berbagai literatur tentang studi organisasi (DesJardine et al., 2019). Bisnis yang tangguh lebih siap untuk kejadian yang tidak terduga, menderita kerusakan yang lebih ringan, dan kemungkinan pulih dari kerugian dengan lebih mudah (Wilson et al., 2010). Diyakini bahwa  pengungkapan  Corporate Social Responsibility (CSR) yang saling  berhubungan  dalam  hal ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan sosial, mendesak bisnis untuk lebih bertanggung jawab secara sosial dan ekologis, akhirnya  akan menguntungkan perusahaan. Dalam bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya seperti Covid-19, aspek praktik tanggung jawab sosial ini digabungkan sebagai satu tindakan CSR akan membantu perusahaan  mempertahankan ketahanannya. Di sisi lain, perusahaan yang memiliki prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik akan dapat menciptakan peningkatan produktivitas dan efisiensi bisnis, peningkatan kemampuan operasional perusahaan, dan akuntabilitas kepada publik.

Baca Juga:  Pabrik Pakan Mandiri

Berdasarkan fenomena di atas, muncul ide untuk melakukan penelitian kolaborasi antara  dosen Fakultas Ekonomi Unand dengan dosen Universiti Malaysia Sabah. Tim peneliti Unand yang diketuai Assoc Prof Dr Asniati SE MBA Ak CA CSRA beserta anggota penelitian Assoc Prof Dr  Yuskar  SE MA  Ak  CA  dan Silvy Astari SE  MSc.  Sedangkan dari  Univeristi Malaysia Sabah diwakili oleh Lim Thien Sang PhD. Tujuan dari penelitian yang didanai oleh Dana Penelitian Fakultas Ekonom Unand ini adalah untuk membandingkan pengaruh CSR dan Corporate Governance (CG) terhadap Corporate Resilience (CR) selama  gelombang  pertama dan kedua Covid-19 di Indonesia dan Malaysia. Data untuk penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan di IDX80 Bursa  Efek Indonesia dan FTSE  Bursa Malaysia 100 dari  Bursa Malaysia. Data dikumpulkan dari  Laporan Keberlanjutan, Laporan Tahunan, dan Return Saham  dari  Maret-Juni  2020 dan 2021. STATA 14.2 digunakan untuk menganalisis data.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama gelombang pertama Covid-19 tahun 2020, CSR  dan CG di Indonesia berpengaruh positif terhadap CR, namun tidak di Malaysia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Indonesia, pengungkapan lingkungan, pengungkapan sosial, ukuran dewan direksi, dan ukuran komite audit berpengaruh signifikan terhadap CR, tetapi tidak terhadap pengungkapan ekonomi dan ukuran dewan komisaris. Di Malaysia,  hanya ukuran komite audit yang berpengaruh signifikan terhadap CR. Di sisi lain, selama  l gelombang kedua pandemi tahun 2021, CSR dan CG tidak mempengaruhi CR untuk Indonesia  dan Malaysia. Studi ini menunjukkan bahwa faktor internal seperti CSR  dan  GC  tidak mempengaruhi keputusan investor untuk membeli saham selama pandemi. Penelitian selanjutnya sebaiknya mempertimbangkan untuk memasukkan variabel tambahan, tidak terbatas pada faktor internal saja, tetapi l juga  mempertimbangkan faktor eksternal seperti tingkat inflasi dan tingkat  suku l bunga. Peneliti masa depan mungkin perlu lebih lanjut untuk menggabungkan data keuangan dan  non-keuangan untuk memeriksa apakah faktor-faktor ini mempengaruhi keputusan investor untuk membeli saham selama  pandemi. (*)