Siaga Korona, Waspada Cuaca

Pandemi global virus korona merebak menjangkiti hampir seluruh negara yang ada di planet bumi dengan tingkat persebaran yang tinggi namun masih belum diketahui bagaimana pola sebarannya. Pemerintah Indonesia dari tingkat pusat hingga daerah-daerah pun telah mengambil tindakan-tindakan nyata, baik berupa aturan, imbauan, perintah, larangan berupa tindakan tegas dan nyata untuk mencegah merebak luasnya sebaran virus yang juga disebut Covid-19 ini. Setiap otoritas, mempunyai kebijakan masing-masing terkait dengan penanganan virus korona, terutama terkait dengan penyebaran dan penularannya karena mempunyai tingkat kompleksitas yang berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhinya, termasuk salah satunya adalah faktor cuaca dan iklim. Namun dalam artikel kali ini, penulis tidak membahas kaitan cuaca dan iklim dengan sebaran corona, tetapi lebih pada literasi tentang cuaca ekstrem untuk meningkatkan pemahaman terutama bagi mereka yang termasuk dalam kategori rentan akan cuaca ekstrem sebagai pemicu bencana hidrometeorologi. Mengingat wilayah Sumatera Barat merupakan wilayah dengan potensi bencana alam hidrometeorologi yang sangat besar, pun demikian dengan ancaman penularan wabah virus korona.

Iklim, khususnya curah hujan di wilayah Sumatera Barat dikendalikan oleh beberapa faktor baik yang bersifat dinamis ataupun statis dengan skala lokal hingga global. Faktor yang secara dominan mempengaruhi terjadinya hujan di wilayah Sumatera Barat tersebut diantaranya adalah: (1) El Nino Southern Oscillation (ENSO), lebih familiar dengan El Nino dan La Nina. Fenomena El Nino menyebabkan terjadinya pengurangan curah hujan di wilayah Indonesia, sedangkan La Nina, fenomena yang menyebabkan kejadian sebaliknya. Fenomena ini akan berpengaruh di wilayah Sumatera Barat jika mempunyai indek dengan kategori kuat. (2) Indian Ocean Dipole (IOD), fenomena yang mirip dengan kejadian ENSO yang terjadi di Samudera Pasifik, sedangkan IOD terjadi di Samudera Hindia. Kendali IOD terhadap curah hujan di wilayah Sumatera Barat, khususnya yang daerah-daerah yang berada di belahan bumi selatan lebih kuat dibandingkan ENSO.

Fenomena IOD terjadi pada saat suhu permukaan laut (sea surface temperature/SST) di Samudera Hindia sebelah barat Pulau Sumatera lebih dingin dan di sebelah timurnya Benua Afrika pada kondisi lebih hangat sehingga menyebabkan terjadinya pergerakan massa udara basah dari baratnya Pulau Sumatera ke arah timurnya Benua Afrika. Pergerakan massa udara basah ini menyebabkan sebagian besar wilayah Pulau Sumatera akan kekurangan hujan, demikian juga jika kondisi terjadi sebaliknya. (3) Kondisi SST di wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI), khususnya SST di perairan di sebelah barat Pulau Sumatera. (4) Pola medan angin yang terbentuk karena adanya pola tekanan tertentu yang mempengaruhi sirkulasi atmosfer di Sumatera Barat. Pola tekanan rendah di perairan sebelah barat Sumatera Barat adalah pola tekanan yang membentuk sirkulasi siklonik yang paling sering menyebabkan cuaca buruk dan hujan lebat di beberapa beberapa daerah pesisir pantai Sumatera Barat. (5) Madden Julian Oscillation (MJO), sebuah fenomena rambatan atau osilasi gelombang konvektive dari arah barat (Samudera Hindia) ke timur (Samudera Pasifik) melintasi wilayah Indonesia. MJO akan signifikan berpengaruh terhadap curah hujan di Sumatera Barat jika mempunyai amplitudo kuat dan berada di fase 2 dan 3.

Faktor pengendali ke-6 adalah posisi geografi dan topofisiografi wilayah Sumatera Barat. Jika faktor-faktor pengendali curah hujan yang disebutkan sebelumnya bersifat dinamis dan berskala global, maka faktor pengendali terakhir ini bersifat statis dan berskala lokal. Posisi geografi wilayah Sumatera Barat yang berada disekitar garis equator, akan dilalui oleh gerak semu matahari sebanyak dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret dan September, sehingga pada bulan-bulan tersebut wilayah Sumatera Barat akan mendapatkan pemanasan yang maksimum dari matahari. Akibat dari pemanasan tersebut, terjadilah pembentukan awan-awan konvektif hingga satu atau dua bulan setelahnya. Tentunya dengan dukungan faktor-faktor lainnya, awan-awan konventif akan menjadi hujan dengan intensitas yang tinggi. Topografi wilayah Sumatera Barat merupakan faktor pengendali lokal terhadap distribusi spasial curah hujan, sehingga daerah-daerah yang berada di sebelah barat Bukit Barisan (daerah tangkapan hujan) mendapatkan curah hujan yang lebih banyak dibandingkan daerah-daerah yang berada di sebelah timur Bukit Barisan di Sumatera Barat (daerah bayangan hujan).

Bulan Maret-April merupakan salah satu puncak musim hujan di Sumatera Barat, selain bulan Oktober-November. Pola ini mengikuti gerak semu matahari yang telah disebutkan sebelumnya, sering disebut pola hujan equatorial, merupakan pola hujan yang terjadi di wilayah tropis seperti Sumatera Barat. Pada saat puncak musim hujan peluang untuk terjadinya cuaca ekstrim (curah hujan > 100 mm/hari) lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Hasil pengolahan data pos-pos hujan di Sumatera Barat menunjukan bahwa curah hujan ekstrim terjadi sebanyak 1035 kejadian di seluruh wilayah Sumatera Barat, dengan kejadian rata-rata tahunan sebanyak 207 kejadian selama periode data lima tahun terakhir. Jika ditinjau kejadian per bulannya, curah hujan ekstrim paling banyak terjadi pada bulan November, diikuti bulan  Desember dan Maret. Secara spasial, curah hujan ekstrim lebih banyak terjadinya di daerah-daerah yang berada di bagian barat Bukit Barisan Sumatera Barat. Dengan jumlah kejadian curah hujan ekstrim terbanyak terjadi di sekitar Indarung, Teluk Bayur dan Limau Manis, sebanyak 25-45 kejadian. Jika dilakukan regionalisasi wilayah kejadian curah hujan ekstrim, daerah-daerah di sebelah barat Bukit Barisan Sumatera Barat terdapat kejadian antara 15 – 20 kejadian, bagian tengah antara 10 – 15 kejadian dan bagian timur terdapat kurang dari 10 kejadian selama periode waktu tersebut. Frekuensi terjadinya curah hujan ekstrem bervariasi terhadap waktu dan lokasi. Sering terjadi, pada suatu ketika terjadi hari tanpa hujan yang sangat panjang, kemudian terjadi hujan sangat lebat dalam sehari dengan jumlah hujan kadang dapat mencapai 50% dari jumlah curah hujan bulanannya. Variabilitas curah hujan semakin tinggi dari tahun ke tahun seperti ini semakin banyak kita rasakan terjadi di wilayah Sumatera Barat akhir-akhir ini.

Memasuki bulan April 2020, curah hujan ekstrim kembali terjadi di beberapa daerah Sumatera Barat seperti di Malalo, Sicincin, Gunung Tuleh, dan Sangir serta beberapa  daerah lainnya diguyur hujan lebat pada tanggal 5 April 2020. Kejadian curah hujan ekstrim tersebut ada yang memicu terjadinya banjir dan tanah longsor seperti yang terjadi di Malalo. Curah hujan di Malalo pada saat terjadinya bencana tersebut dilaporkan sebesar 115 mm. Tidak semua curah hujan ekstrem dapat memicu terjadinya banjir dan longsor. Misalnya pada saat terjadinya longsor di Malalo beberapa bulan yang lalu, curah hujan yang tercatat tidak termasuk dalam kategori ekstrim. Banyak faktor yang dapat memicu terjadinya banjir dan longsor, lahan kritis, kemiringan lahan, drainase yang sempit dapat juga menyebabkan terjadinya banjir dan longsor meskipun curah hujannya tidak ekstrem. Dan yang paling penting adalah peran serta masyarakat untuk selalu waspada, bencana hidrometeorologi mempunyai faktor ketidakpastian yang tinggi. Peran serta masyarakat untuk melakukan penilaian kerentanan mandiri dapat meningkatkan tingkat kewaspadaan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan introspeksi diri terkait ancaman (treat) yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi dirinya. Misalnya, jika rumahnya berada di tepi sungai, kerentanan yang paling mengancam adalah terjadinya banjir jika hujan lebat, kondisi tersebut diantisipasi dengan menempatkan barang-barang elektronik pada tempat yang lebih tinggi dan selalu update informasi cuaca ekstrem di daerah tersebut. Penilaian kerentanan mandiri diharapkan dapat meminimalkan terjadinya kerugian tersebut, karena sebenarnya kita sendirilah yang tahu kerentanan apa yang mengancam diri kita. Siaga korona dan waspada cuaca ekstrem! (*)

*Sugeng Nugroho – Peneliti Stasiun Klimatologi Padang Pariaman dan Mahasiswa Program S3 Ilmu Pertanian, Faperta Unand