Mikoriza, Solusi Optimal Serapan Hara Esensial pada Tanah Ultisol 

65

Reswita

(Mahasiswa S2 Program Studi Biologi, Universitas Andalas)

Tanah ultisol merupakan salah satu jenis tanah yang mendominasi lahan kering sub optimal. Lahan kering di Indonesia diperkirakan seluas 60,7 juta Ha atau sekitar 88,6%. Tanah Ultisol umumnya berwarna kuning kecoklatan hingga merah yang tersebar hampir di 25% dari total daratan Indonesia.

Kuantitas tanah ultisol yang banyak, jarang dimanfaatkan oleh masyarakat luas dikarenakan kandungan unsur hara yang rendah dan sifat fisik tanah yang tidak mendukung untuk dijadikan media tanam.

Salah satu upaya untuk menanggulangi permasalahan tanah ultisol adalah dengan memanfaatkan agen hayati yang mampu mengoptimalisasi penyerapan hara esensial tanaman. Salah satunya adalah mikoriza.

Mikoriza merupakan simbiosis mutualistik antara jamur dan akar tanaman. Diketahui hampir 97% jenis tanaman tingkat tinggi terdapat simbiosis ini.

Umumnya mikoriza dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu: endomikoriza atau FMA (Fungi Mikoriza Arbuskula) yang biasa terdapat pada tanaman pertanian, ektomikoriza yang biasa ditemui pada akar tanaman kehutanan dan yang terakhir adalah ektendomikoriza.

Peranan mikoriza dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman telah banyak dilaporkan dan dari hasil penelitian belakangan ini banyak laporan yang memuat aplikasi dan usaha produksi inokulan mikoriza khususnya FMA yang diusahakan secara komersil.

Pemanfaatan mikoriza pada tanaman sangat berguna dalam meningkatkan serapan hara esensial pada tanaman, Khususnya unsur fosfat (P).

Penelitian dari Bolan (1991) melaporkan bahwa kecepatan penyerapan unsur hara fosfat ke dalam hifa CMA dapat mencapai enam kali lebih cepat pada akar tanaman dibanding tidak adanya mikoriza, hal ini dikarenakan mikoriza mampu memperluas bidang serapan pada akar sehingga kapasitas serapan tanaman lebih banyak dibanding tidak adanya mikoriza.

Baca Juga:  Mudik, Wisata dan Pandemi

Selain fosfat, mikoriza juga meningkatkan jumlah serapan pada unsur Nitrogen dan Kalium, hal yang sama pada unsur hara mikro seperti Cu dan Zn.

Mikoriza menghasilkan enzim fosfatase yang dapat melepaskan unsur P yang terikat dengan unsur AI dan Fe pada lahan masam dan Ca pada lahan berkapur sehingga ketersediaan unsur P terpenuhi.

Mikoriza juga berperan dalam menggemburkan tanah. Pada akar eksternal yang terdapat mikoriza akan menghasilkan senyawa glikoprotein glomalin dan asam-asam organik yang mampu mengikat bulir-bulir tanah menjadi agregat mikro yang nantinya melalui proses mekanis oleh hifa eksternal akan berubah menjadi agregat makro yang mudah diserap oleh tanaman.

Peranan mikoriza antara lain yakni mikoriza dapat mengoptimalisasi penyerapan nutrisi atau hara esensial tanaman, peneliti menyebutkan akar tanaman yang terinfeksi mikoriza mampu menyerap NH4+ dan NO3- serta Mg.

Selain itu mikoriza mampu mangatasi stres kekeringan pada tanaman melalui peningkatan penyerapan hara. Mikoriza juga banyak dimanfaatkan sebagai bioprotektor dimana mampu meningkatkan ketahanan tumbuhan terhadap patogen akar dan parasit akar karena tumbuhan yang bermikoriza mengandung isofalvonoid yang menjadi perlindungan akar tanaman, selain itu mikoriza juga dapat membantu pertumbuhan tanaman pada tanah yang tercemar logam berat seperti lahan bekas tambang.

Melalui aplikasi mikoriza pada lahan ultisol dapat menjadi solusi cerdas untuk memberdayakan lahan kering sub optimal. Karena mikoriza merupakan agen hayati yang mampu mengoptimalkan penyerapan hara esensial tanaman. (*)

(Tugas Mata Kuliah Interaksi Mikroba dengan Tumbuhan, Dosen Pengampu Dr. Fuji Astuti Febria)

Previous articleSambut Ramadan, Masyarakat Balimau Paga di Pantai Carocok
Next articleProkes Ketat Harga Mati, Patuhi Aturan Pemerintah