Covid-19 dan Ramadhan

Elfindri
Profesor Ekonomi SDM dan Direktur SDGs Unand

Setelah 100 tahun, pandemi Covid-19 kembali terulang. Masanya di Indonesia kira-kira tiga bulan menjelang memasuki bulan Ramadhan.

Kalau dulu tahun 1918 angka kematian flu Spain, HINI, mencapai 50 juta penduduk. Kalau sekarang insya Allah tidak sebanyak itu. Namun, angka penderitanya cukup beragam. Kematian, akibat Covid-19 di dunia sudah lebih di atas 200 ribu orang.

Tetapi, bagaimana akibat berikutnya untuk Indonesia misalnya cukup banyak taksiran. Setidaknya dua hal yang menarik, pertama angka kemiskinan akan meningkat menjadi kisaran 13-14 persen, dari semula 9%. Justru, pertambahan orang miskin baru bisa mencapai 8,45 juta orang.

Angka kelaparan dan kekurangan gizi belum ada yang menghitungnya. Tetapi, anggaplah kemiskinan itu akan identik dengan kelaparan, miskin harta jiwa dan kurang kalori protein. Inilah yang dirasakan oleh umat manusia.

Kita bersyukur tentunya pandemi Covid-19 datang tiga bulan sebelum datangnya Ramadhan. Apa sebenarnya pelajaran yang ada di belakang itu, tentu dimaknai beragam oleh masing-masing kita.

Ramadhan dan Korban Pandemi
Jika sebelumnya Ramadhan datang tidak didahului oleh pandemi Covid-19, kalau tahun ini justru kita disuguhi tontonan pandemi yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata.

Banyak aktivitas agama yang tetap dilaksanakan, namun dengan tidak biasanya. Misalnya, tidak lagi meramaikan masjid-masjid. Tahun ini masih kita tunggu, ibadah haji apakah masih dibuka atau tidak. Yang sementara waktu untuk uimrah sudah ditutup.

Ibadah bulan puasa hanyalah antara kita dengan Allah SWT. Ibadah dari berbagai cara sambil menahan lapar dan haus, menahan hawa nafsu, dan menahan dari segala yang membatalkan puasa. Kesemuanya ini urusan kita dengan Allah SWT. Kemudian, diakhirnya kita dijanjikan menjadi orang yang bertakwa.

Di balik itu proses pembelajaran kita beribadah tidak hanya itu. Puasa kita merasakan bagaimana kita merasakan lapar. Begitulah rasa lapar yang dialami oleh warga yang selama Covid-19 mereka mengalaminya. Banyak diantara warga yang berkurang konsumsinya.

Kajian kami dengan kuota sampel sebesar 300 yang mengisi google form, untuk wilayah perkotaan Sumatra Barat ditemukan bahwa pengeluaran warga lapisan pertama, yang menerima penghasilan di bawah Rp 500 ribu per minggu mengalami penurunan konsumsi tajam sekali.

Ada masih peningkatan untuk kelompok kedua pengeluaran mereka untuk berjaga jaga. Sebanyak 51 persen warga hanya memiliki persediaan tidak lebih selama 1 minggu.

Pada masa pandemi ini, selain masalah virus bermigrasi melalui batuk, droplet, maupun lewat udara, yang juga perlu diantisipasi adalah bagaimana masyarakat yang juga mulai merasakan kelaparan. Jumlah mereka yang mengurangi konsumsi juga mengalami peningkatan.

Makna apa yang bisa kita ambil ketika kita memasuki bulan Ramadhan? Jelas kajian di atas menunjukkan seharusnya umat Islam selain tetap melaksanakan ibadah di rumah masing-masing, namun yang mesti ditingkatkan adalah bagaimana implementasi dari ibadah itu untukkepentingan sosial.

Fungsi Virtual Masjid di Bulan Ramadhan
Memang kita sebaiknya tidak pergi ke masjid selama masa pandemic. Karena dikhawatirkan akan dapat membuat perpindahan virus dari mereka yang datang ke masjid.
Fungsi masjid selama bulan Ramadhan ldapat secara virtual.

Bagaimana kita mewujudkan peranannya untuk berbagi kasih dengan keluarga yang korban pandemi dan mereka yang terimbas. Mereka lapar, dan mereka perlu mendapatkan pertolongan.

Kajian kami menemukan 19% dari rumah tangga sample, mendapatkan bantuan sembako. Artinya, hampir keseluruhan dari warga miskin tahap pertama sudah mendapatkan bantuan (survei pertengahan bulan April 2020). Selama ini kajian ini menunjukkan peranan dan emphati warga muslim terhadap keluarganya srelative ada, namun belum optimal.

Namun aktivitas ini masih terbatas dan merupakan aktivitas yang basisnya di luar masjid. Dua hal yang seharusnya dapat direfleksikan. Aktivitas untuk pengumpulan ’semangat berbagi” untuk menolong sesama.

Kedua adalah semangat untuk membantu berinfak dan sedekah tenaga dan pikiran bahu membahu meningkatkan kedisiplinan.

Jika saja fungsi virtual masjid itu sudah direfleksikan selama bulan Ramadhan, maka kita tidak perlu menunggu mengimpelemntasikannya di bulan Syawal kelak. Justru bisa dimulai semenjak sekarang implementasinya.

Kita justru mesti terketuk hati untuk membantu keluarga kita yang sedang kesusahan dan kelaparan mulai bulan Ramadhan ini.

Ayo kumpulkan zakat, ayo kumpulkan sedekah, dan segera bagikan kepada warga yang terimbas Covid-19. Di beberapa masjid yang ada, seperti di masjid kami Iqra, upaya mengumpulkan infak warga sedang berjalan.

Nampaknya dengan gerakan seperti itu akan dapat mengatasi masalah yang tengah dihadapi oleh keluarga di sekeliling masjid. Pendataannya ternyata mudah, mengingat bapak RT dan RW sudah hafal siapa anggota keluarga di kawasan mereka yang terganggu pekerjaanya selama pandemi.

Lewat WA saja nama-nama keluarga bisa didaftarkan, tidak lebih satu hari sudah diperoleh mana keluarga yang dapat dibantu. Semoga makna Ramadhan kali ini diperlihatkan dengan tindakan yang lebih nyata. Kita tentunya lebih banyak bersyukur.(*)