Daring Vs Turbulensi Ekonomi

ilustrasi. (jawapos.com)

Tak ada yang sempurna kecuali ciptaan Allah SWT. Realita dalam kehidupan ini selalu saja menghadirkan dua sisi. Ada baik dan ada pula buruknya. Ada untung dan ada pula ruginya. Itulah takdir kehidupan. Kehadiran teknologi di era pandemi Covid-19 ini pun seperti itu.

Sistem daring alias online dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) disadari atau tidak sudah mereduksi aspek lain dalam kehidupan termasuk di bidang ekonomi. Secara prinsip dunia pendidikan bukanlah dunia bisnis.

Sebab, dunia pendidikan merupakan jawaban atas konstitusi. UUD 1945 dalam pembukaannya menjelaskan tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu dalam Pasal 31 ayat 1 juga kembali menegaskan tentang pendidikan. Artinya, kalaupun ada nilai ekonomi dari dunia pendidikan tak lebih sebatas penghargaan atas jasa dan fasilitas yang diberikan oleh dunia pendidikan pada anak bangsa.

Bila kita bicara Kota Padang pasti kita semua sepakat bahwa Kota Padang merupakan kota pendidikan. Label ini menjadi sangatlah benar adanya karena kota yang terletak di bibir pantai barat pulau Sumatera ini terdapat banyak pergurunan tinggi. Mulai dari bentuk universitas, institut, sekolah tinggi hingga ke akademi/diploma.

Beragam programpun tersedia. Mulai dari diploma, strata satu, magister hingga program doctoral pun tersedia. Tak ada tingkatan pendidikan yang tak tersedia di Kota Padang, tak ada program studi yang tak ada di Kota Padang. Kalaupun universitas negeri tak menyediakan, pergurunan tinggi swasta pasti menawarkannya. Intinya, kalau urusan pendidikan Kota Padang bolehlah dikatakan “super maket” pendidikan.

Jika kita tarik ke belakang, Kota Padang sudah menjadi pilihan utama bagi warga di pulau Sumatera untuk menyekolahkan anaknya. Selain lingkungan yang relatif lebih aman dan nyaman, biaya hidup di Kota Padangpun terbilang rendah jika dibandingkan daerah lain terutama di Pulau Jawa. Mayoritas anak Provinsi Riau, Jambi dan Bengkulu dimasa lalu bersekolah di Kota Padang.

Bahkan untuk program atau jurusan tertentu dari negara jiran Malaysiapun datang belajar ke Kota Padang. Ikonik inilah yang menstigmakan Kota Padang sebagai Kota Pendidikan. Kalaupun belakangan berkembang ke perdagangan dan pariwisata MICE, itu tak lebih dari faktor pendukung dan pengembangan usaha saja.

Walau tak berfungsi sebagai dunia bisnis murni namun sektor pendidikan termasuk salah satu lokomotif ekonomi Kota Padang. Berbekal jumlah mahasiswa yang mencapai lebih kurang 170 ribuan dan tersebar ke sejumlah perguruan tinggi. Mulai dari PTN hingga ke PTS. Mulai dari program Diploma hingga ke program Strata III. Jumlah sebesar 170 ribuan bukanlah jumlah yang sedikit. Daya ungkit dan dobrakan ekonominya sangatlah luar biasa.

Jika seorang mahasiswa saja membelanjakan uangnya sebesar Rp 50.000/hari maka dalam seharinya akan ada putaran uang lebih kurang Rp 8,5 Miliar. Jika itu dikalikan perbulan maka setara dengan Rp 225 miliar per bulannya. Itu kita baru berbicara untuk sektor konsumsi saja, belum lagi untuk belanja sewa rumah (kost), peralatan pendidikan, kendaraan dan BBM. Intinya, sangat besar multiplier efect ekonominya.

Bagaimana saat ini? Inilah yang tereduksi disaat pandemi. Peralihan sistem pembelajaran dari tatap muka ke sistem daring secara tidak langsung mereduksi putaran uang tersebut. Terhitung semenjak April 2020, tepatnya semenjak dilakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dunia pendidikan di Sumbar tak lagi menggelar pertemuan tatap muka. Mahasiswa tak perlu datang ke kampus. Civitas akademik melakukan Work/Study For Home. Intinya semua dilangsungkan dari rumah masing-masing dengan menggunakan layanan internet.

Baca Juga:  Keberadaan RSUD Sungai Dareh Berdampak Ekonomi bagi Masyarakat

Efektif atau tidak tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Kalau dari kaca mata ekonomi Kota Padang sistem daring adalah detonator turbulensi ekonomi. Ratusan ribu mahasiswa yang selama ini mengikuti Proses Belajar Mengajar di Kota Padang kembali ke kampungnya masing-masing.

Toh, dari sudut kamar tidurnya aktivitas daring dapat dilaksanakan. Untuk apa bertahan di Kota Padang, untuk apa menyewa tempat tinggal, untuk apa bayar katering, laundry dan kebutuhan lainnya. Ada multiplier efect ekonomi yang hilang. Ratusan miliar uang yang selama ini terdistribusi ke banyak sektor dari kehidupan mahasiswa ini menjadi hilang.

Jika dalam sebulan saja putaran uang dari mahasiswa mencapai Rp 225 miliar maka semenjak April sampai saat ini sudah lebih dari Rp 1 triliun uang yang tak lagi beredar dari mahasiswa. Angka ini kalau dipersandingkan dengan APBD Kota Padang sangatlah besar sekali. APBD Kota Padang tahun 2020 hanya Rp 2,7 triliun. Artinya, perputaran uang dari mahasiswa selama lima bulan ini saja sebesar Rp 1,02 trilun itu setara dengan 50 persen dari setahun APBD Kota Padang.

Lalu siapa yang diuntungkan? Penyedia jasa internet dan provider adalah pihak yang paling diuntungkan dengan daring akibat pandemic Covid-19 ini. Memang jumlah yang mereka dapatkan tidak sebanyak putaran uang dari mahasiswa setiap bulannya. Namun, secara bisnis terjadi peningkatan jumlah pendapatan bagi penyedia jasa internet dan provider selama pandemi.

Indihome mencatatkan pertumbuhan bisnis pada semester I Tahun 2020 sebesar 31,4 persen dengan total pelanggan mencapai 7,3 Juta pelanggan. Sedangkan Telkomsel selaku provider terbesar mencatatkan pertumbuhan pendapatan 16,3 persen dengan pelanggan 162,6 juta. Dari 162,6 juta pelanggan 105,1 jutanya merupakan pengguna data internet. Selain mencatatkan pertambahan pelanggan, pengguna data Telkomsel juga meningkat dengan re rata per 6.533 MB/pelanggannya.

Begitu juga dengan Indosat Oreedo. Selama semester pertama tercatat pertumbuhan pendapatan 9,4 persen dengan jumlah pelanggan 57,2 juta. Sementara itu XL juga berhasil memanfaatkan pandemi ini sebagai sumber pendapatan. Selama semester pertama 2020 usaha mengalami pertumbuhan double digit. Semester pertama 2020 ini tercatat pertumbuhan pendapatan sebesar 10,95 persen dengan total pelanggan 56,6 juta. Kondisi yang hampir sama juga terjadi pada Biznet, Smart Frend, Axis dan penyedia layanan internet lainnya.

Memang dari triliunan pendapatan jasa internet dan provider tadi ada sebagian kecil yang terdistribusi ke masyarakat Kota Padang. Namun, dari sisi jumlah dan sebaran manfaatnya masih sangat jauh dibandingkan dengan kehadiran mahasiswa di Kota Padang bila belajar tatap muka. Jika kebutuhan konsumsi mahasiswa selama ini terdistribusi dan uangnya beredar langsung di Kota Padang kepada banyak pihak, maka dengan daring ini terdistribusi ke beberapa sektor saja.

Jika selama ini kebutuhan konsumsi civitas akademik berputar dan beredar di Kota Padang, kini uang itu menjadi capital “out flow” ke luar Kota Padang. Bahasa kerennya uangnya mengalir ke Jakarta. Inilah yang penulis maksud dengan Daring Vs Turbulensi ekonomi di Kota Padang. Tak selamanya dan tak semuanya dipukul Knock Out (KO) oleh Corona. Ada bisnis yang terpuruk dan ada pula bisnis yang melambung. Alam memang bijak.

Teknologi memang memudahkan kita di tengah keterbatasan keadaan, namun teknologipun mereduksi aspek kehidupan lainnya. Semoga saja pandemic ini segera berakhir dan rebound ekonomi dari kehadiran dunia pendidikan ini kembali bisa menghidupkan Kota Padang. (*)