Desa Wisata bukan Objek Wisata di Desa

1670
M. Zuhrizul

Pegiat Wisata/ Ketua Umum DPW IATTA Sumbar

Ada sedikit pergeseran pemahaman beberapa teman-teman yang sudah di-SK-kan desa dan nagari wisatanya oleh bupati/ wali kota.

Bahwa desa wisata dimaknai pengelolaan destinasi atau objek wisata di desa atau nagari-nagari. Ini pemahaman yang salah kaprah terhadap tujuan dari pengembangan desa/ nagari wisata.

Pengembangan desa wisata itu mencakup seluruh potensi desa/ nagari. Baik nagari yang telah di-SK-kan sebagai desa wisata maupun nagari-nagari pendukung  di luaran desa wisata tersebut. Bila memiliki daya tarik dan keunikan, maka dapat dikolaborasikan antar-desa/ nagari itu.

Wisatawan yang berkunjung ke desa wisata bukan hanya ke objek wisata yang berada di desa. Tapi,  apapun yang menjadi daya tarik dan keunikan setiap sudut desa/ nagari menjadi “jualan wisata” termasuk kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Mulai dari kebersihan, keindahan nagari, penduduknya, lapau-lapaunya hingga aktivitas dari subuh hingga malam di desa/ nagari. Wisatawan mengunjungi daya tarik /atraksi wisata yang ada, budaya lokalnya, merasakan menginap dan memasak di dapur warga serta bercerita bak keluarga pulang dari rantau bersama pemilik rumah/ homestay yang disewakan.

Artinya berkunjung ke objek wisata adalah bagian kecil dari program desa wisata sesungguhnya.

Experiential learning/ pembelajaran dari pengalaman menjadi tren wisata dunia hari ini. Wisatawan ingin melihat apa yg mereka belum pernah lihat.

Wisatawan ingin mendengar apa yang belum pernah mereka dengar, termasuk musik tradisi dan cerita-cerita rakyat.

Baca Juga:  Tirulah Italia

Wisatawan ingin merasakan apa yang belum pernah mereka rasakan, termasuk kuliner dan feel lainnya di desa.

Jadi desa wisata bukan objek wisata di desa/ nagari.

Maka, kita dudukkan pondamennya dulu dan satukan pemahaman seluruh perangkat nagari mulai dari wali nagari, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai dan bundo kanduang.

Namun, bila ada yang ditonjolkan iya, jadilah dia desa wisata tematik yang menjadi branding dari desa/ nagari wisata, seperti Desa Penting Sari Yogya. Homestay dengan program tur Rumah Mbah Marijan dengan jeep ke kawasan bekas letusan  Gunung Merapi.

Nagari Sungai Batang dengan tema religi. Nagari Sarugo dengan tema agro wisata jeruk dan budayanya. Kemudian Sumpu dengan tema  budaya serta Simarasok, Padangtarok dengan wisata minat khusus dan Nagari Kotogadang dengan kerajinan perak dan songketnya. Dan, lainnya.

Namun yang paling penting adalah bagaimana wisatawan bisa menginap dan berlama lama di desa/ nagari. Apa saja kegiatan mereka selama 1-2 hari  hingga kalau perlu berbulan-bulan tinggal di rumah warga atau homestay.

Inilah sebenarnya ujung dari desa/ nagari wisata sesungguhnya.

Jadi apa yg harus di siapkan? Jelas seluruh amenity yang dibutuhkan wisatawan selama di desa harus disiapkan, terutama kebersihan, keindahan, sanitasi dan rumah-rumah warga atau homestay serta program-program yang akan dipromosikan secara masif dan terus-menerus sambil mengikuti  tren minat wisata dunia.

Jadi, desa wisata bukan objek wisata di desa/ nagari.(*)