Mampukah Puasa Ramadan Menghentikan Covid-19?

Marhaban yaa Ramadhan.

Sesuai prediksi banyak ahli, jutaan kaum muslimin di seluruh dunia tahun ini harus menjalankan ibadah Ramadhan dalam bayang-bayang virus korona. Sampai tulisan ini dibuat dilaporkan lebih 3 juta jiwa telah terjangkit penyakit Covid-19 di dunia dan telah menelan korban 210.842 jiwa.

Di Indonesia sendiri, per 27 April 2020 dilaporkan angka 9.096 kasus konfirmasi positif dan 743 angka kematian dikarenakan wabah ini. Adalah sebuah kenyataan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya jika Ramadhan tahun ini akan berjalan sangat berbeda.

Amalan-amalan yang selama ini bisa dilakukan secara berjamaah atau bersama-sama selama Ramadhan, sekarang tidak dibolehkan lagi. Namun apakah ini akhir dari segalanya? Tidak bisakah kita Didi pergi ke Jakarta lantaran ingin sukses seperti kakaknya yang merupakan anggota Srimulat tersebut. Meski memang bidang seni yang ditekuni dua putra seniman tradisional Ranto Edi Gudel itu berbeda.

Didi meniti impian keterkenalan tersebut dengan kemauan dan kerja keras. Tak pernah malu atau gengsi kendati harus bergelantungan dari bus ke bus, di bawah sengatan matahari Jakarta, meski sebenarnya punya kakak seorang pelawak terkenal.

“Anaknya memang rajin sekali,” kata Polo, memuji pencipta dan pelantun Kalung Emas, Pamer Bojo, Banyu Langit, dan banyak hit lain itu.

Didi, lanjut Polo, juga pintar mengajak orang untuk bergabung dengan dirinya. Karena itulah, dia punya kelompok ngamen di Slipi. Hariyono, kawan Didi mengamen sejak di Solo sampai Jakarta, menyebutkan, Didi bersama dirinya, Dani Pelo, Comet, dan Rian Pentul memang pernah membentuk kelompok musik.

“Mas Didi yang bikin lagu buat kami, salah satunya Sentir Lengo Potro. Jadi, semua materi, yang memperhalus aransemen Mas Didi,” kata Hariyono kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres).

Setelah mengamen seharian, Didi biasanya kembali ke rumah kontrakan di Kampung Makasar sekitar pukul 21.00. Namun, Didi tidak takluk pada rasa lelah.

Malam hari biasa dia habiskan dengan mengajak nyanyi orang-orang sekitar rumah kontrakan. Di rumah kontrakan Kampung Makasar itu juga kreativitas Didi terasah. Sejumlah karya Didi lahir di sana. ”Mas Mamiek itu salah satu motivatornya Didi lho. Hubungan mereka sebagai kakak adik itu sangat dekat,” terang Polo.

Wejangan, kritik, dan motivasi selalu Mamiek berikan kepada sang adik selama mereka tinggal seatap di Jakarta. Waktu luang biasanya mereka habiskan dengan berbicara dari hati ke hati sebagai saudara kandung yang sama-sama mengadu nasib di ibu kota. “Didi itu orangnya pendiem. Nah, Mas Mamiek ini yang nggacor (banyak bicara, red) kasih masukan,” jelas Polo tentang koleganya yang telah berpulang pada 2014 dalam usia 53 tahun itu.

Selain memberikan wejangan untuk sang adik, Mamiek menjadi salah satu orang yang diberi kesempatan pertama untuk mendengarkan lagu-lagu ciptaan Didi. Kalau lagunya enak, kata Polo, dipuji. Kalau ada yang kurang pas, diingatkan dan diberi masukan. Sesekali bahkan Mamiek dan Didi berdebat sebelum sebuah lagu yang apik tercipta.

Konsistensi Didi dalam bermusik dan semangat yang diturunkan oleh sang kakak membuat major label Musica Studio’s meliriknya. Menjelang akhir dekade ’80-an, Didi berkesempatan merekam salah satu lagu pertamanya, Modal Dengkul, berduet dengan Viara R. Polo, sosok yang sering memberi Didi uang saku untuk ngamen, menjadi pemain kendang. Itulah awal mula masuknya Didi ke industri musik yang lebih besar.

Siapa sangka, sekitar dekade dari titik awal itu, Didi Kempot menembus puncak ketenaran. Menjadi penanda paling dikenal dari musik campursari/pop Jawa. Digemari generasi milenial sampai orang-orang sepuh, dicintai warga kampung padat sampai kalangan gedongan, mulai Indonesia hingga Suriname.

Polo menuturkan, dengan uang hasil rekaman dan manggung sana-sini, Didi mulai berpisah dengan dia, Mamiek, dan kawan-kawan lain. Didi indekos di sebuah rumah yang terpisah di kawasan Kampung Dukuh, Jakarta Timur. Sebagian teman pengamen Didi ikut serta.

Meski demikian, hubungan Didi dengan Polo masih terjalin. Mereka pernah mengisi acara bersama-sama. Di antaranya, program Kamera Ria di TVRI dan sejumlah acara off air lain. Didi -yang masih rendah hati dan apa adanya- kerap menyapa Polo dan bercengkerama mengenai kabar terbaru mereka. Terakhir, Polo sempat meminta Didi untuk menjaga kesehatan lantaran padatnya jadwal manggung.

Tarzan yang juga tinggal di Kampung Makasar tak bisa lupa bagaimana Didi kerap memperdengarkan lagu-lagu karyanya. “Saya ingat, dulu Didi itu membawakan lagu We Cen Yu. Saya pikir lagu Mandarin, eh lha kok lagu Jawa, judulnya Kowe Pancen Ayu, ha ha,” kenang Tarzan seraya tertawa.

Tarzan kali terakhir bertemu Didi pada Oktober 2019 di Universitas Muhammadiyah Solo. Tarzan hendak show ketoprak, sedangkan Didi bakal nyanyi. “Pas itu kami ngobrol sedikit. Didi pas capek banget saat itu, show-nya buanyak,” kenang Tarzan dengan logat Jawa-nya yang kental.

Dalam kesempatan itu juga Tarzan melihat Didi yang dulu pengamen dan Didi yang kini bintang besar tak berubah karakter. “Andhap asor (berbudi luhur, red). Meski capek, kalau ada orang yang lebih tua, selalu disamperin sama dia,” ujar pelawak yang bernama lahir Toto Muryadi itu.

Kepergian Didi Selasa pagi lalu (5/5) pun mengejutkan Tarzan dan Polo. “Lha wong saya itu nggak pernah lihat dia sakit kok. Dia itu antara lapar atau sakit biasanya sama, dikeroki aja pasti enakan lagi, he he,” kenang Polo.

Sementara itu, Tarzan juga mengaku kehilangan sahabat sekaligus teman bersua jika kebetulan satu acara. “Karena sekarang nggak bisa ngelayat, saya kirim doa aja, mudah-mudahan Didi diterima di sisi Allah,” ucap Tarzan. (***)

*Ronaldi Noor – Pengurus IDAI Sumbar/Sekretaris IDI Cabang Solsel