Mampukah Puasa Ramadhan Menghentikan Covid-19?

Ilustrasi

Ronaldi Noor
Pengurus IDAI Sumbar/Sekretaris IDI Cabang Solsel

Sesuai prediksi banyak ahli, jutaan kaum muslimin di seluruh dunia tahun ini harus menjalankan ibadah Ramadhan dalam bayang-bayang virus korona. Sampai tulisan ini dibuat dilaporkan lebih 3 juta jiwa telah terjangkit penyakit Covid-19 di dunia dan telah menelan korban 210.842 jiwa.

Di Indonesia sendiri, per 27 April 2020 dilaporkan angka 9.096 kasus konfirmasi positif dan 743 angka kematian dikarenakan wabah ini. Adalah sebuah kenyataan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya jika Ramadhan tahun ini akan berjalan sangat berbeda.

Amalan-amalan yang selama ini bisa dilakukan secara berjamaah atau bersama-sama selama Ramadhan, sekarang tidak dibolehkan lagi. Namun apakah ini akhir dari segalanya?

Tidak bisakah kita menjadikan momentum Ramadhan ini sebagai media untuk mempercepat perlambatan bertambanhnya kasus positif setiap hari?

Kehadiran Ramadhan harus kita jadikan ajang untuk mengeruk pahala sebanyak-banyaknya. Sekaligus membuat penyebaran virus yang bernama Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2 (SARS CoV 2) ini semakin melambat, dan bisa hilang dari bumi kita.

Sangat banyak publikasi ilmiah dalam bentuk penelitian dan jurnal-jurnal yang menyatakan bahwa puasa mempunyai pengaruh sangat luar biasa terhadap kesehatan.

Puasa di bulan Ramadhan mampu membuat setiap individu menjadi lebih sehat dan bugar. Sebuah review yang diterbitkan oleh New England Journal Medicine (NEJM) pada Desember 2019 lalu disebutkan, bahwa puasa memberikan efek dengan memperbaiki beberapa faktor risiko penyakit metabolik, yaitu dapat menurunkan berat badan dan juga menurunkan risiko resistensi insulin pada penderita Diabetes melitus.

Puasa juga akan meningkatkan indikator kesehatan jantung dan pembuluh darah, yaitu dengan menurunkan tekanan darah, menurunkan laju denyut jantung, meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL Kholesterol), menurunkan kadar lemak jahat (LDL Kolesterol) dan memperbaiki kadar gula dan insulin dalam darah.

Lantas, apakah puasa Ramadhan bisa membuat kita kebal dari penyakit Covid-19 ini? Ada baiknya kita simak baik-baik sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Annals of Thoracic Medicine pada April 2020 ini yang berjudul “Ramadhan Intermitten Fasting and Immunity: An Important Topic in the Era of Covid 19”.

Pada pasien yang terjangkit Covid-19 terjadi peradangan sistemik yang ditandai dengan terjadinya ’badai sitokin’. Sitokin adalah protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh untuk melakukan berbagai fungsi dan penting dalam penanda sinyal sel.

Ketika sitokin dikeluarkan dalam jumlah banyak akan membuat paru sangat padat dan kaku, inilah yang disebut badai sitokin. Kondisi ini yang akan menyebabkan ketidakseimbangan komponen pertahanan tubuh untuk melawan virus korona.

Sedangkan tercukupinya komponen-komponen pertahanan tubuh merupakan faktor penting dalam penyembuhan pasien Covid-19, karena sampai saat ini antivirus untuk penyakit baru ini belum ditemukan. Puasa Ramadhan mempunyai efek anti peradangan, neuroprotektif (perlindungan tehadap sel saraf ) dan kemampuan melawan infeksi kuman.

Puasa juga mampu memperbaiki imunitas tubuh dengan menurunkan faktor-faktor yang melemahkan imunitas tubuh. Dalam beberapa penelitian dalam jurnal di atas juga disebutkan bahwa kadar sitokin yang menyebabkan terjadinya peradangan karena infeksi ditemukan lebih rendah selama puasa Ramadhan dibandingkan dengan sebelum ataupun sesudah puasa Ramadhan.

Jelas sudah bahwa dengan berpuasa di bulan Ramadhan akan meningkatkan sistem imunitas tubuh, sehingga mempunyai kemampuan lebih untuk melawan segala bentuk infeksi, termasuk infeksi virus.

Faktor penting lain yang tidak boleh kita lupakan untuk bisa bertahan dan melawan pandemi global ini adalah kesehatan mental. Mental yang tidak sehat cenderung akan menurunkan sistem daya tahan tubuh kita.

Depresi yang ditimbulkan karena takut akan terjangkit penyakit ataupun sudah terjangkit penyakit ini akan membuat penderitanya mengalami kesulitan tidur, malas untuk makan dan tidak punya keinginan untuk beraktivitas.

Keadaan ini akan membuat sistem pertahanan tubuh semakin lemah yang akan membuat tubuh tidak bisa melawan virus yang telah masuk ke dalam tubuh.

Apakah puasa dapat memperbaiki kesehatan mental kita sehingga bisa melawan virus? Banyak jurnal dan penelitian yang menyebutkan bahwa puasa mampu mengurangi emosi negatif dan meredakan mood negatif seperti marah dan kebingungan.

Puasa juga memberikan pengalaman perasaan yang positif dengan meningkatkan rasa menerima, penghargaan, kebanggaan dan kontrol diri. Hal ini sejalan dengan ajaran agama kita untuk bisa menahan emosi dan menahan diri selama menjalankan ibadah puasa.

Penulis yakin jika kita semua mematuhi anjuran pemerintah dalam melaksanakan
PSBB dan anjuran para ahli untuk meredam penyebaran Covid-19 dengan rajin cuci tangan, memakai masker, physical distancing dan benar-benar melakukan ibadah puasa sesuai anjuran bukan tidak mungkin setelah Ramadhan virus ini bisa hilang di tengah-tengah kita.

Tapi jika kita masih ngeyel, masih merasa sok hebat, dan abai terhadap semua peraturan maka kurva perjalanan penyakit ini akan terus meninggi dan akan semakin lama untuk melandai dan menghilang.

Marilah kita jadikan Ramadhan yang sangat spesial ini sebagai momen untuk menghentikan penyebaran virus korona. Berpuasa dengan mengikuti kaidah-kaidahnya sudah terbukti akan meningkatkan sistem daya tahan tubuh, dimana sistem imun adalah satu-satunya senjata yang dimiliki tubuh kita untuk melawan virus ini.

Semoga korona ini segera pergi dan kita bisa kembali hidup normal seperti sebelumnya. Amin. “…Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS Al Baqarah: 184). (*)