Sehatkan Diri sebelum Menyehatkan yang Lain

ilustrasi. (jawapos.com)

Rima Semiarty
Dosen FK Unand

Tahukah kita sejarah bermula ditetapkannya 12 November sebagai Hari Kesehatan Nasional? Sejarah mencatat hari kesehatan nasional diciptakan dalam rangka memperingati momen bersejarah upaya pemberantasan wabah malaria yang ditandai penyemprotan DDT (senyawa insektisida yang digunakan untuk memberantas nyamuk, penggunaannya sudah lama ditinggalkan) oleh Presiden Soekarno tanggal 12 November 1959.

Setelah itu, dilakukan penyuluhan kesehatan masyarakat oleh para tenaga kesehatan kala itu. Lebih setengah abad setelah itu, berbagai perayaan menyambut hari kesehatan dilakukan dengan mengambil tema yang berbeda-beda. Kalau pada awalnya peringatan ini karena peristiwa pembasmian wabah malaria, maka kini mungkinkah akan menjadi momen pembasmian wabah virus korona?

Menyimak dinamika pandemi korona ini, dari mulai munculnya di Wuhan, Tiongkok sampai berkembang ke seluruh dunia, maka pantaslah rasanya kita berharapan besar agar semua ikhtiar menemukan obat ataupun vaksin yang ampuh segera menjadi kenyataan. Namun, bukan hal tersebut yang menjadi solusi paling penting.

Terjadinya hiruk pikuk penanganan korona memang paling nyata terasa di sekitar rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Semua kalangan profesional medis, berlomba-lomba mencari therapy yang paling tepat, melakukan riset dengan mencoba berbagai regimen pengobatan, dengan uji coba yang langsung maupun tidak langsung kepada manusia.

Demikian halnya dengan uji coba vaksin yang sudah tahap ke-3, mencapai final. Demikian bergairahnya kalangan peneliti di negara-negara maju untuk mencapai hasil optimal yang dapat meredakan virus korona ini.

Bagaimana dengan di negeri kita?Geliat para peneliti dalam menguji coba regimen pengobatan dan juga vaksin sudah tersiar sejak beberapa bulan belakangan ini. Memang untuk menguji coba ini tidak seperti membalikkan telapak tangan, perlu waktu lama dan kehati-hatian yang ekstra agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan dikemudian hari.

Berbagai center pendidikan yang mempunyai labor-labor canggih berupaya menganalisa hasil-hasil pemeriksaan terhadap pasien covid ini. Dengarlah penuturan seorang dokter yang mengabdikan dirinya 24 jam di laboratorium, berupaya mengejar target sebanyak-banyaknya agar mampu segera memberikan hasil untuk ketepatan penanganan kepada pasien.

Tentu akan fatal andai hasilnya salah, jadi tidak heran kalau melihat penampilan sang dokter ini tersirat keletihan yang amat sangat. Meski suaranya sudah serak, namun dia tetap memberikan semangat dengan menebarkan ilmu kemana-mana. Kemudian juga seorang dokter, yang dengan gagah perkasa langsung terjun memeriksa pasiennya, melakukan swab sampai beribu orang.

Namun karena terlalu amat semangat, sang dokter lupa akan keterbatasan yang dipunyai yaitu usia yang tidak muda bahkan sudah boleh dikatakan berisiko tinggi. Sudah dapat diduga sang dokter ini terkena perangkap virus korona.

Dokter lain dengan spesialisasi yang mengharuskan dia kontak langsung menolong jalan nafas pasiennya, sungguh tidak ada pilihan lain untuk wajib melakukan tindakan dengan risiko keterpaparan. Apakah memang tidak ada pilihan lain?

Pilihan antara menolong dengan konsekuensinya bisa terpapar sebenarnya bisa dikurangi dengan pemakaian alat yang khusus mengurangi keterpaparan virus. Hanya alat ini bisa jadi langka, sulit didapat mengingat seluruh dunia sekarang tengah berebut memakainya. Apalagi, kalau di daerah di mana sarana fasilitas memang masih terbatas.

Berbicara soal keterbatasan ini, menjadi pilihan sulit untuk para tenaga kesehatan di pinggiran yang jauh dari sarana fasilitas canggih, untuk memenuhi standar saja sudah lebih dari cukup. Inilah yang kerap dikeluhkan para dokter, tenaga paramedis dan lainnya. Di luar pandemi saja mereka bekerja dalam keterbatasan sarana fasilitas melayani pasien, sehingga angka rujukan ke kota menjadi meningkat.

Baca Juga:  Pasien Sembuh Covid-19 di Mentawai Bertambah 18 Orang

Apalagi di musim pandemi begini, bisa dibayangkan bagaimana mereka melayani dengan keterbatasan yang ada. Para dokter, perawat puskesmas, atau pun RSUD dilaporkan banyak yang terpapar. Sampai-sampai puskesmas dan rumah sakit harus tutup dan mengalihkan pelayanan ke fasilitas kesehatan lainnya.

Pernah di awal pandemi dulu, seorang direktur rumah sakit mengeluhkan betapa sulit meyakinkan stafnya untuk menetapkan rumah sakitnya sebagai rujukan pasien covid. Ketika dilakukan riset, ternyata lebih separuh menyatakan menolak. Begitulah realita di lapangan, bukan saja masyarakat, namun tenaga kesehatan sendiri merasakan ketakutan, kecemasan yang sama.

Hanya bedanya, sebagai tenaga kesehatan yang telah disumpah pada saat diangkat menjadi pegawai. Maka mau tidak mau, suka tidak suka, tugas melayani pasien ini harus dijalankan tanpa memandang pasiennya covid atau tidak. Disinilah perlu disadari bahwa menjadi tenaga kesehatan baik medis, para medis, atau tenaga penunjang lainnya adalah tenaga-tenaga yang siap menghadang apapun termasuk yang mengancam jiwa.

Kemarin mendapat kabar seorang dokter senior yang sudah sangat dikenal dan pasiennya banyak, tiba-tiba saja pingsan tak sadarkan diri dan tak tertolong ketika dilarikan ke rumah sakit. Sebelumnya juga beberapa dokter senior usia pensiun namun masih aktif berpraktik, juga ada yang terpapar, dan sampai berpulang ke Rahmatullah.

Satu per satu tenaga medis berguguran. IDI sudah membuat imbaun pada anggotanya antara lain agar tidak berpraktik dalam kondisi tanpa APD lengkap. Juga disarankan bagi yang telah usia lanjut dan mempunyai comorbid (penyakit tambahan yang memberatkan gejala) agar tidak lagi berpraktik selama kondisi belum mereda.

Namun, namanya profesi medis ini yang sudah melekat dalam jiwa raganya, para dokter seperti disiksa layaknya disuruh diam-diam saja di rumah tanpa menolong pasiennya yang tiap sebentar menghubungi, meminta konsul kepadanya. Memang sudah ada telemedicine. Namun, prinsip kedokteran memakai panca indra dalam pemeriksaan pasien, kurang mengena melalui telemedicine ini.

Ditambah terbatasnya tenaga medis, terutama spesialis membuat yang pensiun pun masih dikaryakan di era pandemi ini. Jadi dalam rangka Hari Kesehatan Nasional ini, mungkin kita khususnya para tenaga kesehatan perlu untuk mawas diri dalam arti mengetahui batas kemampuan diri kita sendiri, dan mampu menjaga kesehatan diri.

Teringat saya seorang mantan bupati pernah berseloroh, begini ”Nampaknyo dokter-dokter ko menyehatkan urang sajo, yang dirinyo indak bisa disehatkan”. Beliau juga menyebutkan nama-nama para dokter dari tingkat kementerian sampai dokter-dokter yang melayani pasien yang berumur pendek akibat sakitnya.

Hingga saat ini, berdasarkan pelaporan dari Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tercatat jumlah kematian per 15 Oktober 2020 total kematian dokter 136 orang, dengan rincian dokter umum sebanyak 71 dokter, 63 dokter spesialis, serta sisanya dokter residen.

Merujuk angka tersebut, kematian tenaga medis yang semakin mengkhawatirkan dalam bertugas melayani pasien Covid-19. Ya, dokter pun manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya, semoga para dokter, perawat dan seluruh tenaga kesehatan dapat menerapkan prinsip ”sehatkan dirimu, sebelum menyehatkan orang lain”. Seperti halnya dipesawat selalu dikatakan, selamatkan dirimu dulu dengan memakai alat pelampung, atau oksigen baru ditolong orang lain.

Selamat Hari Kesehatan Nasional 12 November 2020, semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan melalui upaya maksimal semua pihak, baik tenaga kesehatan maupun tenaga tenaga lainnya yang berkaitan menyehatkan anak bangsa.Semoga momen Hari Kesehatan ini menjadi momen bersejarah dalam keberhasilan membasmi virus korona. (*)
(Momentum Harkesnas Di Era Pandemi, 11 November 2020)