Empati dan Pandemi Covid-19

(Foto: Jawa Pos)

Rika Febriani
Dosen Filsafat, Program Studi Ilmu Sosial Politik, Universitas Negeri Padang.

Pandemi Covid-19 nampaknya akan terus berlangsung sepanjang tahun ini. Berbagai ramalan tentang kepastian kapan akan berakhirnya pandemi ini banyak kita lihat di media. Peneliti dari ITB memprediksi bahwa puncak pandemi akan terjadi pada bulan Mei dan Juni kemudian akan diikuti oleh stagnasi jumlah korban.

Sementara itu penelitian dari Singapore University of Technology and Design memprediksi wabah pandemi Covid-19 akan berakhir pada bulan Oktober.

Keduanya menggunakan pemodelan matematika dengan mengasumsikan bahwa variabel tetap seperti pada saat sekarang ini. Di wilayah Sumatera Barat sendiri, perlahan namun pasti terjadi penambahan jumlah korban dengan kemunculan kasus-kasus baru.

Permasalahan pandemi Covid-19 ini tidak lagi hanya menjadi masalah sosial, tetapi juga sudah masuk kepada tahap yang substansial dari diri manusia yaitu: permasalahan nilai dan moral.

Perubahan yang mendadak telah memaksa manusia melakukan penyesuaian dan perubahan di berbagai sisi kehidupannya. Namun ada hal yang sebenarnya tidak semestinya berubah di dalam diri manusia yaitu: nilai kemanusiaan itu sendiri.

Masyarakat global pada saat ini sedang diuji rasa solidaritasnya terhadap sesama. Seberapa kuat kita sebagai manusia mampu untuk saling berempati terhadap kesusahan hidup orang lain.

Memudarnya rasa saling tolong menolong dan goyahnya prinsip moral masyarakat pada saat ini sudah mulai tampak, alih-alih kita sebut sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan.

Para filsuf dunia sudah mulai berefleksi atas fenomena ini, salah satunya adalah: Slavoj Zizek. Filsuf kontemporer ini melihat bahwa solidaritas di era pandemi berpeluang menciptakan suatu kemanusiaan jenis baru, yang akan membuat kita terhindar dari jebakan penghancuran diri dan sikap barbarisme (Zizek, 2020).

Salah satu kejadian yang bisa dijadikan refleksi atas rendahnya sikap empati kita terhadap sesama misalnya saja adalah stigma yang dilekatkan kepada orang yang terkena virus Covid-19.

Rilis-rilis yang dikeluarkan oleh pemerintah dan di sosial media dengan gamblang menyebutkan identitas korban, lengkap dengan alamat tempat mereka tinggal. Ini tentunya tidak menjadi masalah apabila tujuannya adalah untuk kehati-hatian. Namun kita lupa, di satu sisi hal ini juga menimbulkan stigma terhadap para korban.

Padahal mereka membutuhkan dukungan dan optimisme bahwa peluang hidup dan sembuh juga sesuatu yang dimungkinkan.

Namun sepertinya rasa ketakutan telah mengalahkan rasa kemanusiaan kita sehingga yang tersebar hanyalah kepanikan dan prasangka terhadap para korban.

Kejadian lainnya misalnya baru-baru ini ada seorang ibu hamil yang akan melahirkan bayinya ditolak oleh 3 rumah sakit di salah satu daerah di Sumbar. Ibu tersebut harus menjalani prosedur yang panjang saat akan masuk IGD.

Hal ini disebabkan karena protokoler kesehatan Covid-19 yang mengharuskan pihak RS menjadi sangat berhati-hati ketika ada pasein baru datang. Sang ibu tersebut ditolak dengan alasan dia pernah kontak dengan orang yang berasal dari luar daerah tersebut.

Kejadian ini memperlihatkan bahwa tingkat kecurigaan masyarakat sudah sangat tinggi, terlepas dari protokoler kesehatan yang harus dilalui.

Namun kita cenderung melihat orang lain sebagai sesuatu yang negatif, siapa saja kita lihat sebagai ancaman. Kita seolah-olah lupa bahwa masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang sangat menjunjung budi.

Akal budi berarti kesanggupan batin merasakan perasaan orang lain pada diri kita. Orang yang berbudi memiliki kesucian hati dan kesempurnaan akal pikiran, bersifat peduli pada orang lain serta baik tingkah laku perbuatannya (pekertinya).

Di samping itu, alangkah baiknya kita menggunakan akal budi sebagai alat batin untuk berpikir, menimbang dan menyaring antara yang benar dan yang buruk, serta mungkin dan patut pada masa pandemi ini.

Di dalam filsafat moral terdapat tiga prinsip utama (Magniz-Suseno, 1987); pertama, bersikap baik; kedua, adil dan ketiga, hormat terhadap diri sendiri. Bersikap baik mengandaikan bahwa orang lain tidak akan langsung mengancam atau merugikan kita.

Bersikap baik berarti memandang seseorang tidak hanya sejauh berguna bagi saya, melainkan menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung kehidupan dan mencegah kematiannya demi dia itu sendiri. Sementara itu bersikap adil harus diletatakkan dalam konteks, dalam persoalan ini adalah keadilan sosial.

Prinsip keadilan mengandaikan kewajiban untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap orang lain dalam situasi yang sama dan untuk menghormati semua pihak yang bersangkutan.

Bersifat adil dapat dilakukan dengan tidak perlu memberikan stigma negatif terhadap orang yang terinfeksi virus Covid-19. Walaupun tujuannya adalah baik, yaitu ingin terhindar dari virus namun tujuan yang baik ini tidak perlu melanggar hak orang lain.

Bukankah kalau kita memberikan stigma negatif terhadap korban justru akan mengakibatkan orang lain yang belum terinfeksi virus akan menjadi takut untuk berobat atau yang sering terjadi, tidak mau bersikap jujur terhadap riwayat penyakitnya?

Tentu risikonya akan lebih berbahaya lagi bagi kita semua. Sikap yang ketiga menghormati diri sendiri juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Kita tidak dapat mencintai sesama apabila kita tidak mencintai diri sendiri. Sehingga terdapat hubungan timbal balik diantara sesama manusia.

Di tengah kepesimisan ini, ada secercah harapan yang tersisa bahwa kita adalah bangsa yang peduli. Beberapa waktu yang lalu, 130 KK warga masyarakat Kecamatan Malalak Kabupaten Agam mengembalikan bantuan beras yang diberikan oleh pemerintah Kabupaten Agam. Hal ini mereka lakukan karena rasa empati yang tinggi terhadap saudara lain yang lebih membutuhkan.

Tentunya perasaan empati seperti ini tidak datang secara tiba-tiba. Sikap seperti ini berasal dari tradisi dan nilai yang sudah kuat mengakar di dalam diri masyarakat Minangkabau. Alangkah baiknya kita mengembangkan sikap-sikap yang toleran dan empati seperti ini.

Kita patut kembali berefleksi apakah tindakan kita sudah mampu mencerminkan rasa kemanusiaan? Jangan sampai krisis di bidang kesehatan dan ekonomi menjalar menjadi krisis nilai dan moral yang mematikan perasaan kita sebagai manusia. (*)