Tangis Orang Beriman dan Harapan

Hari ini adalah rentetan peristiwa masa lalu. Dan hari ini juga adalah sebagai penentu hari esok. Kebahagiaan dan keselamatan masa depan juga akan ditentukan oleh sikap dan perilaku masa kini. Perubahan besar terjadi saat ini dalam segala bidang kehidupan manusia. Setiap kejadian yang ada, alam takambang jadikan guru, mencaliak jauh-jauh, tukiakkan mato ka nan dakek, kok siang lah baganti jo malam (semua kehidupan menjadi gelap dan suram), beban barek singguluang batu (sangat berat tantangan hidup dan penderitaan). Semuanya merasakan dan datangnya pada bulan puasa pula. Berjamaah tarawih, Shalat Jumat pindah ke rumah, bertemu dengan saudara handai dan taulan jadi terbatas, silaturahmi semakin jarak, sampai kapan masanya penderitaan ini? Bila masanya akan berakhir? Wallahualam bisshowab.

Kepastian Allah yang menentukan. Namun, sebagai muslim tidak boleh berputus asa. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir (Yusuf: 87). Kekeliruan, kesalahan demi kesalahan dan dosa-dosa masa lalu barangkali penyebab semuanya. Harus kita antisipasi dengan nilai-nilai iman dan takwa di bulan ampunan ini. Nilai agama, iman dan takwa itu harus kita perkuat, kita letakan kembali pada posisi semula dengan formula yang tepat dan benar bagi setiap diri. Ujian yang terjadi sudah diingatkan oleh Allah, tinggal sampai di mana posisi dan kekuatan batin kita dalam menghadapi. Dalam Al Quran jelas: ”Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al Baqarah: 155)

Sedih memang sedih, ratapan dan tangis semakin nyata. Bulan puasa datang, dia datang dan pergi disusul lagi dengan Lebaran Hari Raya Id. Setiap puasa datang, didapatinya kita dalam keadaan dan suasana yang berbeda. Tahun ini puasa datang di saat kita dalam keadaaan sulit dan menderita, malah ada yang kehilangan pencarian. Puasa datang di saat kita sedang menghadapi tantangan berat wabah korona dan krisis dalam segala bentuk yang berkepanjangan. Keadaan erosi nilai yang mencemaskan, terjadinya pelapukan sosial menggeser kesalehan sosial.

Walau dalam keadaan yang bagaimanapun, setiap datang bulan yang penuh berkah dan ampunan. Tetap kita agungkan dan perbanyak isthigfar, membaca Al Quran, selalu zikir dan doa semoga penderitaan dan cobaan ini akan cepat berlalu.

Ratapan tangis dan derita orang yang beriman akan mampu membuka harapan dengan balasan yang berlipat ganda. Setelah ombak menghempas laut pasti akan tenang. Allah tidak akan biarkan hambanya larut dengan tangis dan derita. Di kampung saya Danau Maninjau tidak selamanya ombak dan riak itu menghempas, setelah itu air danau tenang kembali. Setelah menaiki kelok 44 yang berliku dan terjal, tak lama sampai kita di suatu kota yang indah dengan Jam Gadangnya, itulah Kota Wisata terkenal, Bukittinggi namanya.

Seorang Nakhoda muda dalam laut lepas, dihempaskan oleh gelombang besar, senjatanya hanya doa dan sabar, akhirnya sampai jugalah dia di pulau harapan. Senjata orang yang beriman itu adalah shalat, doa dan sabar dilanjutkan dengan berulang-ulang kali khatam Al Quran. Memang setiap derita dan kesulitan itu sesudahnya pasti ada kemudahan, ini jaminan Allah dalam firmannya. Yang pokok marilah kita selalu bersabar dan tawakal, shalat berjamaah di rumah, berdoa dan istighfar dengan penuh keimanan. Kita bersama untuk mengubah nasib kita. Sesuai dengan yang dijanjikan Allah SWT, artinya: ”Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” ( Al Baqarah: 153).

Satu bulan penuh kita manfaatkan untuk membuka jendela batin kita, mensucikan dan bersihkan hati secara tulus lahir dan batin dalam upaya bertaqarrub kepada Allah, seraya mengukir kepribadian, menanamkan akhlak, adab dan budi, mengejar ampunan Allah untuk mendapatkan derajat takwa. Perlombaan hidup saat ini adalah untuk mengejar ampunan Allah. Disinilah tumpuan kokoh iman dan takwa yang sangat mahal nilainya sebagai benteng kuat untuk bersama-sama kita mengusir wabah penyakit korona yang berbahaya ini.

Semua yang dianjurkan oleh pimpinan dan fatwa majelis ulama marilah kita patuhi dan kita perkuat dengan kekuatan iman, doa dan banyak istighfar, serta shalat yang khusuk. Kita yakin Allah akan mengubah nasib dan penderitaan kita kepada yang lebih baik. Semua wabah dan penyakit yang berbahaya itu akan diangkat oleh Allah. Sesuai dengan firman Allah: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka berusaha mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Ar Rad: 11).

Tidak akan bisa pemerintah dan satu kelompok saja yang akan mengubah nasib bangsa ini. Kalau tidak kita bersama-sama. Semoga ujian yang didatangkan Allah ini akan membuka pintu keberkahan untuk umat Islam, meningkatkan harkat dan martabat takwa. Dan di hari kemenangan Idul fitri Allah berikan ampunan-Nya. Dan semua wabah yang berbahaya Covid-19 akan lenyap di negeri yang kita cintai ini, kita saling bermaafan, masjid kembali kita makmurkan dan ukhuwah semakin terpadu dengan silaturahmi yang penuh kegembiraan. Aamiin. (*)

*Dalimi Abdullah – Mantan Anggota DPR/MPR RI