Bermimpilah yang Hebat (Merantau 4.0). “Manggaleh Lado di Pasa Kain”

686

Oleh : Dr Romeo Rissal Pandji Alam

Ada dua kenikmatan yang manusia lalai memanfaatkannya: Kesehatan dan Kesempatan (Hadist Bukhari Muslim).

Tahun 2000-an, Kami di Bank Indonesia berdiskusi untuk mendorong perbankan Syariah tumbuh di BPD secara nasional. Kami melihat sebuah kesempatan. Tapi tak ada terbetik niat sebesar biji bayam pun untuk Bank BPD meninggalkan bank konvensional.

Alasannya? Pertama, Provinsi, Kabupaten/Kota dan bahkan semua Pemda pada dasarnya adalah konvensional. Istilah ekonominya, habitat atau ekosistem ekonomi masih sistem konvensional. Itu fakta.

Kedua, rumusan Semester I ilmu Perbankan adalah: Bank follows business. Bank itu mengikuti bisnis. Jadi kalau lingkungan bisnis masih konvensional, dalam ukuran apapun adalah sebuah kekeliruan besar bila bank meninggalkan lingkungan tersebut. Konversi berarti tutup bank konven, buka bank Syariah. Bukankah itu mirip dengan “Manggaleh Lado di Pasa Kain”.

Berpikir Global, Berprestasi Gemilang di Ekonomi Sumbar

Baru saja kita menyaksikan bahwa tiga (3) bank Syariah besar, Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRIS) & BNI Syariah, milik pemerintah pula, dilipat jadi satu (1). Tanda-tanda zaman itu perlu kita baca. DPRD dan Pemda perlu juga mencermati perjalanan Perbankan Syariah sebagai sebuah kegiatan ekonomi tidak salah bila kepikir bahwa habitat ekonomi Indonesia belum sepenuhnya mendukung perbankan Syariah. Baik di Indonesia maupun di ranah ABS-SBK. Di Indonesia, perkembangan perbankan Syariah melalui proses yang terjal dan berliku. Dalam dua kepemimpinan Gubernur BI, 1991-2000, ia merayap bagaikan tronton di pendakian Lembah Anai. Ke depan? Melihat konstelasi politik negeri ini, Alahuwa’lam Wassawab.

Di Sumbar tidak berbeda. Awal Juli 2009, minggu pertama saya menjabat Kepala BI Sumbar. Saya meminta seluruh Komisaris dan Direksi Bank Nagari berpikir panjang. Pertanyaan saya: Apakah mereka bersungguh dengan Perbankan Syariah ?“ Apa pasal? Perbankan Syariah di Ranah ABS-SBK bagai karakok tumbuah di batu. Aset hanya Rp 80 miliar. Sejujurnya, ada niat saya untuk melakukan Fit & Proper test waktu itu agar UUS tersebut bisa berkembang.

Bulek aie ka pambuluah. Pengurus berikrar untuk fokus pada perbankan Syariah. Mereka rekrut Account Officer baru, rancang program pelatihan, promosi dll. Sayapun ikut jadi Trainer. Pendek kata UUS mulai berkibar. Assetnya meningkat tajam. Tapi tetap tak ada niat meninggalkan bank konvensional. Faktanya kemudian, UUS mulai merangkak lagi. Kembali ke “pendakian Lambah Anai”. Karena ia berada di habitat konvensional.

Merantau 2.0: Ciptakan Habitat Global

Harusnya Sumbar 2021 jauh lebih berani dari pada Sumbar 1996. Bayangkan 25 tahun lalu (1996), Sumbar bukan hanya visioner tapi jadi pemberani, Menerobos dinding cadas pembatas wilayah operasi BPD. Bank Nagaripun merantau. Nah kenapa para anak muda Sumbar sekarang seolah tak bernyali? Tak berani Merantau 2.0. Keluar negeri.

Baca Juga:  "Ratok Anak Rantau"

Kesalahan Pemda adalah studi bandingnya selingkaran provinsi. Jadi imajinasinya hanya sekadar ubah-ubah nama bank jadi Syariah. Warna ganti dengan hijau dan akad kredit ditambahi Bismillah dalam tulisan Arab. Secara konsep dan prakteknya, tanya sama rumput yang bergoyang benarkan betul bertul sesuai konsep Syariah itu sendiri. Karena tidak mudah memang mengkonversikan hati ribuan karyawan. Apalagi para nasabah yang sudah terbiasa dengan system konven.

Merantau 2.0. Bank Nagari (konven) beroperasi di Sumbar dan daerah-daerah lain di Indonesia. Bank Nagari Syariah memantapkan karakter Minang, Sang Perantau. Bila konversi, Bank Nagari Syariah akan terbebani oleh kegiatan yang berhubungan dengan pemerintahan. Biarkan itu menjadi tugas Bank Nagari Konven. Manfaatkan kemajuan ekonomi Islam dunia, Halal Economy, Halal Tourism, Halal Foods dan lain-lain di dunia. Bangun Halal Tourism di Sumbar. Degan dukungan Bank Nagari Syariah, Sumbar berpeluang besar jadi motor Halal Tourism dunia. Jangan menyerah pada habitat. Saatnya Sumbar menciptakan habitat baru. Merantau ke Malaysia, ke Timur Tengah dll. Dengan teknologi digital, Bank Nagari Syariah bisa lincah menjangkau hampir-hampir miliar Muslim di dunia.

Hai pemuda Minang, bermimpilah yang hebat. Lampaui diri mu. Sebagai mantan Komisaris Utama Lintasarta, saya sangat bahagia melihat mimpi anak perusahaan kami, Artajasa (pemilik ATM Bersama) jadi kenyataan. Artajasa sudah terhubung secara digital dengan Al-Raji Bank, Arab Saudi. Bank Nagari Syariah, tidak beranikah?

Kesempatan yang Tak akan Datang Dua Kali

Sampai saat ini, saya sangat meyakini bahwa spin-off lebih menguntungkan ekonomi Sumbar ketimbang konversi. Sumbar punya dua bank. Tandem antara kedua sistem perbankan itu akan sangat bagus bagi ekonomi Sumbar. Ya kalau kita berpikiran jernih untuk kepentingan ekonomi Sumbar, bukan yang lain. Misalnya kepentingan pencitraan atau penciptaan legacy ,mendulang suara pada pilkada ataul ainnya.

Sirka 2016/2017, saya menulis di harian Padang Ekspres dengan berbagai judul: “Akankah Sumbar Bersungguh dengan Perbankan Syariah?”. Dan adalagi: Bank Nagari: Spin 0ff atau Konversi?” dan lain-lain. Intinya kalau akan bersungguh dengan perbankan Syariah, Sumbar jangan berpikiran untuk menutup bank konven (konversi). Hilang kesempatan besar karena kedua system itu akan saling mendukung untuk pembangunan ekonomi. Untuk saat ini dan mungkin 20 tahunan ke depan. Spin off adalah pilihan terbaik. Hindari khufur nikmat. Menutup usaha yang sudah berjalan dan bermanfaat bagi umat.

Nah, dengan Gubernur baru, kita berharap agar Sumbar berpikir kembali tentang keputusan untuk “mengalmarhumkan” Bank Nagari Konvenitu. Inok-inok-an banalah. Sumbar dengan Bank Nagari dan Bank Nagari Syariah atau Bank Ummat Nagari, apapun namanya, harusnya jadi pilar kekuatan ekonomi ke depan. Perlu diingat, kata orang bijak: “Kesempatan pertama tidak akan datang dua kali”. (***)

Previous articleLagu Malereang Tabiang
Next articlePanen Raya Tiba, Andre Rosiade Minta Bulog Beli Beras Petani