Covid-19 Mendorong Penyempurnaan Ibadah

Ilustrasi

Werry Darta Taifur
Guru Besar Fakultas Ekonomi Unand

Keistimewaan bulan Ramadhan bagi umat Islam telah diajarkan sejak kita menduduki bangku sekolah dasar. Sampai saat ini, kita tidak henti-hentinya mendengar keistimewaan bulan Ramadhan tersebut melalui pengajian, ceramah, majelis tablig dan acara lainnya. Informasi dan penjelasan tentang keistimewaan bulan Ramadhan tersebut semakin mudah diperoleh dengan kemajuan teknologi informasi dan melalui media elektronik yang tersedia saat ini.

Selanjutnya, karena istimewanya bulan Ramadhan tersebut, kita diminta berdoa pada setiap akhir bulan Ramadhan agar dapat bertemu lagi dengan bulan Ramadhan tahun berikutnya. Alhamdulillah kita masih diberi nikmat hidup untuk melaksanakan ibadah bulan Ramdhan 1441 H sedang berlangsung saat ini.

Dengan rentetan pengajian, ceramah dan pelajaran tentang keistimewaan bulan Ramadhan yang telah diperoleh sejak dari usia dini, sulit untuk mempercayainya kalau umat Islam tidak mengetahui keistimewaan bulan tersebut dibandingkan dengan bulan lainnya.

Namun dalam praktiknya yang kita alami dan saksikan setiap bulan Ramadhan dari tahun ke tahun adalah keistimewaan tersebut belum direbut secara maksimal oleh sebahagian umat Islam dengan menyempurnakan ibadah puasa sampai bulan suci tersebut berakhir. Salah satu fakta yang kita saksikan dan tidak dapat pungkiri selama ini adalah jumlah jamaah yang menunaikan ibadah Shalat Tarawih dan Witir di masjid-masjid baik di daerah perkotaan maupun di daerah perdesaan semakin berkurang ke ujung bulan Ramadhan. Tapi sebaliknya intensitas dan jumlah kunjungan orang ke pusat-pusat perbelanjaan, pasar-pasar dan lokasi-lokasi tertentu semakin meningkat pada pengujung bulan Ramadhan.

Selanjutnya, intensitas pergerakan dan mobilitas orang pada siang dan malam hari yang melaksanakan tradisi mudik dan pulang kampung pada penggal ketiga 10 hari bulan Ramadhan juga mengalami peningkatan yang luar biasa. Agar gelombang mobilitas orang mudik dan pulang kampung tersebut terlaksana dengan aman dan selamat, pemerintah harus menurunkan ribuan petugas dari kepolisian yang siap siaga di pos-pos pengamanan yang terdapat pada jalur-jalur perjalanan utama.

Berbagai kesibukan dan kegiatan yang dilaksanakan untuk menyambut hari Raya Idul Fitri, mudik dan pulang kampung selama ini telah meyebabkan sebagian dari kita dengan mudahnya meninggalkan atau mengabaikan pelaksanaan ibadah pada penggal ketiga 10 hari terakhir Ramadhan.

Padahal, pelajaran, ceramah dan majelis tablig yang kita ikuti sejak usia dini menegaskan bahwa pahala atau ganjaran yang dijanjikan Allah SWT berlipat ganda pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Namun, pada bulan Ramadhan selama ini dengan mudah dapat kita saksikan di lingkungan masing-masing bahwa upaya merebut ganjaran yang telah dijanjikan Allah SWT pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sering dikalahkan oleh kesibukan untuk memenuhi persiapan menyambut hari Raya Idul Fitri dan merawat tradisi pulang kampung dan mudik yang lebih banyak bersifat duniawi.

Apa yang telah kita lalui dan saksikan setiap 10 hari terakhir bulan Ramadhan selama ini akan mengalami perubahan drastis pada bulan Ramadhan 1441 H yang sedang berlangsung saat ini. Kesibukan, intensitas dan volume mobilitas orang yang akan menyerbu pusat-pusat perbelanjaan, pertokoan, mudik dan pulang kampung dipastikan akan mengalami penurunan drastis dengan diberlakukannya pembatasan sosial bersakala besar (PSBB) dan penutupan jalur penerbangan, angkutan darat, laut dan jenis angkutan jenis tertentu lainnya melalui Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi selama mudik Idul Fitri tahun 1441 H dalam rangka pencegahan pencegahan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sampai tanggal 2 Juni 2020.

Sejak awal bulan Ramadhan 1441 H sampai saat ini, setiap hari kita disuguhkan dengan berbagai berita tentang keganasan dan aneka kesulitan yang dihadapi oleh pemerintah, tenaga kesehatan dan petugas pemakaman dalam menangani penyebaran dan penularanan serta pemakaman korban Covid-19 yang meninggal. Sampai tanggal 29 April 2020, telah tercatat sebanyak 219.464 orang yang meninggal akibat positif terpapar Covid-19 di seluruh dunia (https://www.worldometers.info/coronavirus/).

Jumlah 219.464150 orang yang meninggal akibat positif Covid-19 tersebut tidaklah jumlah yang sedikit. Kalau dikumpulkan semua orang yang meninggal tersebut pada satu daerah, jumlahnya lebih dari empat kali penduduk Kota Padangpanjang, Sumbar yang saat ini penduduknya berjumlah sekitar 52.994 orang. Bayangkan lagi, yang meninggal positif terpapar Covid-19 tersebut tidak pandang status sosial ekonomi. Di antara yang korban meninggal tersebut adalah pejabat negara, tenaga kesehatan, diplomat, orang kaya dunia, salah satunya miliarder Portugal, Antonio Vieira Monteiro yang meninggal tanggal 18 Maret 2020 (https://www.thestar.com.my/news/).

Berdasarkan dampak yang begitu besar, cepat dan sangat membahayakan, maka pemerintah Indonesia sangat beralasan mengeluarkan peraturan PSBB, pembatasan jalur transportasi dan peraturan pendukung lainnya. Namun penerapan PSBB dan pengendalian transportasi sampai tanggal 1 Juni 2020 telah ditanggapi dengan beragam pendapat oleh masyarakat, ada yang pro dan ada yang kontra dengan mengeluarkan pernyataan menyusahkan, menghalangi kesempatan untuk melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadahan dan umpatan yang bernada negatif lainnya. Tapi sadarkah kita, terutama umat Islam bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak ada yang terlepas dari pengetahuan oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, dalam siatuasi yang sangat mengerikan ini dan penuh ketidakpastian tentang kapan berakhirnya penyebaran wabah Covid-19, salah satu yang wajib dilakukan secara individu pada bulan suci Ramadhan ini adalah merenung dan bertanya-tanya pada diri sendiri tentang makna kejadian Covid-19 dan mengambil hal-hal yang positif dari hasil perenungan tersebut.

Kalau kita hanya memikirkan kesusahan saja atas dampak pandemi Covid-19, maka akan terbentang panjang aneka kesusahan dihadapan mata kita. Akibatnya, pemikiran kita terkooptasi dengan hal-hal yang menyusahkan, sehingga peluang untuk memikirkan hal-hal yang positif untuk keluar dari kesusahan tersebut menjadi semakin sedikit. Yang mengalami kesusahanan atau dampak Covid-19 tidak hanya keluarga yang bekerja pada sektor informal, tetapi para manager dan eksekutif juga menghadapi kesusahan yang tidak kalah beratnya karena harus memikirkan bagaimana usahanya tidak bangkrut dan bagaimana ribuan pekerja agar tidak tejadi PHK dan penurunan kesejahteraan karyawan dan pekerjanya. Jadi, pada dasarnya Covid-19 dapat menyusahkan semua lapisan masyarakat dengan kadar dan beban yang bervariasi.

Sebaliknya, jika dari hasil perenungan tersebut keluar hal-hal yang postif, insya Allah berbagai jalan akan terbuka luas untuk keluar dari kesusahan dampak pandemi Covid-19. Selama ini, kita telah menyadari dan percaya bahwa setelah pendakian terdapat penurunan dan di balik kesusahan akan ada kebahagiaan. Berpegang pada prinsip ini, maka bagi kita yang terpenting saat ini adalah mengambil makna positif dari suatu kejadian yang menimpa diri kita.

Dari perspektif pikiran positif, selama ini belum ada orang yang mampu mengatasi kesibukan orang yang bersifat duniawi dan pola pikir yang cenderung mengabaikan pelaksanaan ibadah pada 10 hari terakhir Ramadhan secara masif. Tetapi pandemi Covid-19 mampu merubah keadaan yang selama ini sudah menjadi kebiasaan yang sulit diubah dengan cara-cara biasa. Apa yang sedang terjadi dan yang akan kita lalui sampai akhir bulan Ramadhan 1441 H akan berbeda dengan situasi bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Kita juga tidak boleh secara membabi buta untuk menyatakan pandemi Covid-19 menghalangi orang untuk menyempurnakan ibadah puasa bulan Ramadhan. Justru sebaliknya apa yang kita lalui dan rasakan saat ini dapat mendorong kita untuk lebih menyempurnakan pelaksanaan ibadah sampai akhir bulan Ramadhan.

Kita sudah pasti akan lebih banyak berada di rumah dan tidak akan melaksanakan perjalanan mudik dan pulang kampung pada rentang waktu 10 hari akhir Ramadhan. Dengan lebih banyak berada di rumah, maka kita mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menyempurnakan amal ibadah puasa pada 10 hari terakhir Ramadhan tahun ini yang selama ini belum dapat kita laksanakan secara sempurna karena berbagai kegiatan yang bersifat dunia. Kegiatan untuk menyempurnakan amalan ibadah tersebut dapat dilaksanakan baik secara individu maupun dengan melibatkan seluruh anggota keluarga kita.

Bayangkan selama ini pola pikir kita sudah terbebani dengan berbagai upaya untuk memenuhi keperluan menyambut Hari Raya Idul Fitri dan persiapan mudik dan pulang kampung pada 10 hari terakhir Ramadhan. Kita harus mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk menutupi berbagai keperluan menyambut Hari Raya Idul Fitri dan persiapan mudi dan pulang kampung dengan beragam motif dan tujuannya. Sekarang dengan penerapan PSBB, pikiran kita tidak perlu lagi terbebani dengan urusan-urusan yang belum tentu akan dicatat malaikat sebagai amal ibadah. Pola pikir kita yang selama ini terbebani dengan yang tidak ada kaitannya untuk keperluan bekal hidup di akhirat pada akhir bulan Ramadhan, sekarang lebih difokuskan untuk meningkatkan amal ibadah pada 10 hari ketiga bulan Ramadhan.

Selama ini kita disibukan dengan berbagai kegiatan atas nama berbuka bersama, reuni, silaturahmi dan temu kangen dengan pengeluaran belanja yang tidak sedikit jumlahnya, sekarang kita bisa lebih banyak bersama keluarga dan uang tersebut dapat disalurkan untuk membantu saudara-saudara dan tetangga kita yang tedampak ekonomi Covid-19. Insya Allah, pengalihan alokasi belanja berbuka bersama tersebut untuk keluarga yang lebih membutuhkan akan dicatat sebagai amal ibadah.

Selanjunya berdasarkan pemahaman kita selama ini bahwa puasa bulan Ramadhan bukan hanya puasa dari makan dan minum saja, tetapi mata, telinga dan mulut juga harus puasa dari melihat, mendengar dan membicarakan hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Kalau pada bulan-bulan Ramadhan sebelum, kita masih keluar rumah seperti biasa, sehingga mata, telinga dan mulut masih sulit dikontrol, apalagi tidak ada pengaturan jarak (social distancing) dan memakai masker seperti sekarang. Mata kita masih mempunyai kesempatan yang cukup besar untuk melihat yang tidak baik, mulut kita masih membicarakan orang dan telinga kita masih mendengar hal yang tidak seharusnya dibicarakan karena masih berdekatan satu sama lainnya baik itu di tempat kerja maupun dalam perjalanan. Hal-hal yang dapat membatalkan puasa kita selama ini juga terbatasi. Dengan demikian peluang meningkatan kualitas Ibadah puasa semakin besar dibandingkan dengan situasi bulan Ramadhan sebelumnya.

Bagi keluarga yang kurang mampu juga tidak harus terlalu khawatir. Untuk memenuhi kebutuhan dasar, pemerintah telah menyiapkan berbagai skim jaringan pengaman sosial dan dalam suasana bulan Ramadhan yang penuh rahmat ini, keluarga yang mempunyai kemampuan akan lebih bersemangat lagi untuk mengeluarkan sebahagian rezekinya untuk meringankan beban dampak ekonomi pandemi Covid-19. Berbagai lembaga, yayasan, perusahaan dan berbagai entitas bisnis telah diimbau pemerintah menyalurkan bantuan kepada penduduk yang mendapat dampak ekonomi Covid-19. Dengan demikian, tidak cukup juga alasan bagi keluarga kurang mampu untuk merasa khawatir selama diberlakukannya PSBB.

Tentu kita semua mempunyai keinginan yang tinggi agar masa penyebaran dan penularan Covid-19 ini cepat berakhir dengan mendukung dan mematuhi semua peraturan yang telah ditetapkan untuk memutus rantai penyebaran dan penularan Covid-19. Kita diminta untuk tetap berada di rumah (stay at home), melaksanakan pola hidup sehat dan social distancing. Kita harus menyadari bahwa peraturan pemerintah untuk menerapkan PSBB adalah untuk kebaikan bersama dan untuk kepentingan yang lebih besar. Kalau kita berniat untuk tinggal dan bekerja di rumah dengan ikhlas untuk mendapat ridho dari Allah SWT, insya Allah juga akan dicatat sebagai amal ibadah. Sebagai umat beragama, kita harus meyakini bahwa hasil dan dampak kegiatan yang kita lakukan sangat tergantung dari niat yang diikrarkan. Oleh sebab itu, marilah kita tetap berada di rumah dan mematahui semua yang digariskan pemerintah untuk mencapai kebaikan bersama dengan niat untuk mendapat ridho Allah SWT. (*)