Pandemi Covid-19 dan Stres Perempuan Bekerja di Luar Rumah

Ilustrasi. (sumber: IST)

Farah Anindya Zalfikhe dan Ike Revita
Mahasiswa Prodi Psikologi FK Unand Dosen Prodi Linguistik Unand dan Peneliti Masalah Perempuan

Pandemi virus korona sepertinya membuat banyak orang kemudian menjadi sadar bahwa mereka harus patuh kepada regulasi yang dibuat pemerintah. Ketidakpatuhan atas rule ini menjadikan banyak korban berjatuhan. Contohnya adalah sebagaimana yang terjadi di negara Italia. Pengabaian imbauan dari banyak pihak untuk menahan diri dan mengurangi interaksi langsung menyebabkan korban virus Covid-19 di Italia meningkat dengan cepat. Pemerintah Italia sempat kewalahan menghadapi serangan makhluk tidak kasat mata ini. Dalam beberapa video terlihat tim medis pun sudah mulai letih karena harus bekerja nonstop.

Sementara itu, masyarakat sepertinya juga terkesan cuek dengan tetap beraktivitas seperti biasa seakan-akan keadan masih normal. Hingga kemudian banyak negara memberlakukan lockdown. Negara yang cepat bertindak dan masyarakat yang patuh aturan cenderung cepat mengatasi pandemi ini. Masyarakat benar-benar tidak ke luar rumah jika tidak urgent. Bahkan, jalan raya terkesan seperti mati karena tidak ditemukan kendaraan. Hanya patroli dari pihak-pihak bertugas yang mengawasi keadaan terlihat mondar-mandir. Kepatuhan ini berujung pada hal yang membahagiakan.

Hanoi di Vietnam misalnya, sudah memulai aktivitas masyarakat sebagaimana keadaan normal. Anak-anak sudah diperbolehkan untuk ke sekolah. Hal ini sudah mulai berlaku lebih kurang dua minggu terakhir ini. Meskipun demikian, kewaspadaan mereka tetap dijaga. Terbukti dari semua anak-anak sekolah dan masyarakat yang berada di luar rumah benar-benar memakai masker. Patuh yang berbuah manis.

Pertanyaan timbul. Bagaimana dengan di Indonesia? Bagaimana dengan masyarakat di Padang? Sumatera Barat termasuk provinsi di luar Pulau Jawa yang tergolong banyak korban menderita Covid-19. Sumatera masuk ke dalam 10 besar jumlah korban terbanyak di Indonesia. Bagaimana hal demikian bisa terjadi? Salah satunya adalah ketidakpatuhan ini. Dikatakan demikian karena meskipun Pemerintah Daerah Sumatera Barat sudah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua kali 14 hari, bukannya semakin menurun tetapi jumlahnya semakin banyak. Padang termasuk kota yang jumlah pasien penderita Covid-19 tinggi di Sumatera Barat. Hal demikian tidak bisa dihindari karena Padang adalah ibukota provinsi dimana menjadi daerah tujuan orang dari berbagai daerah. Bahkan penambahan yang cukup siginifikan berawal dari Pasar Raya Padang.

Pasar merupakan titik dimana beragam orang bertemu dan berinteraksi. Tidak ke pasar merupakan hal yang agak mustahil dilakukan karena di pasar disediakan kebutuhan pokok. Tidak hanya untuk membeli, penjual pun harus ke pasar agar kebutuhan pokok mereka juga terpenuhi. Penjual ini, khususnya pedagang kecil yang dapat sore habis pagi atau from hand to mouth, tidak bisa tidak berdagang. Karena kalau tidak, dapur mereka tidak mengepul. Bagaimana mereka akan memberi makan anak-anak. Jangankan untuk kebutuhan tambahan, memenuhi kebutuhan ‘perut’ saja belum tentu bisa tercapai. Pedagang from hand to mouth ini didominasi oleh kaum perempuan atau amai-amai. Dapat kita perhatikan di pasar tradisional, pedagang pada umumnya adalah perempuan. Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan Pusat Statistik menyebutkan dari data yang ada di tahun 2018, pekerja perempuan tidak tetap jauh lebih banyak dari laki-laki. Artinya, secara perekonomian perempuan terpaksa harus ke luar rumah untuk mencari tambahan.

Bagaimana halnya dengan kondisi pandemi Covid-19 sekarang? Ada atau tidak ada Covid-19, perempuan sudah bekerja di luar rumah. Apalgi mereka yang berada dalam kelompok ekonomi kelas bawah. Pekerjaan yang ditekuni pada umumnya adalah terkait dengan rumah tangga, seperti pencuci pakaian dari rumah ke rumah, buruh, atau pedagang kecil atau keliling. Dengan modal yang sangat minim, mereka berharap dapat keuntungan yang setidaknya bisa pembeli beras dan cabai untuk dimakan keluarga.

Dalam sebuah observasi kecil yang penulis lakukan, perempuan-perempuan seperti ini merasakan kekhawatiran juga saat harus meninggalkan rumah. Terlebih ketika mereka mengetahui ada orang dari lingkungan dekat yang terpapar Covid-19. Akan tetapi, mereka hanya menutup mata dan telinga. Dengan niat untuk mencari nafkah, mereka tetap langkahkan kaki meninggalkan rumah dengan membawa setitik harapan ada rezeki yang diperoleh.

Saat pulang ke rumah, selain membawa sedikit rezeki dari keuntungan berdagang, perempuan ini juga membawa kekhawatiran ketika berinteraksi dalam pekerjaanya, mereka bertemu orang tanpa gejala (OTG). Artinya, mereka berpotensi untuk tertular. Akibatnya, mereka sedikit banyak akan menjadi stres karena berada dalam dua pilihan berat. Stres ini dapat diperparah dengan beban harus mendampingi anak-anak saat belajar dari rumah.

Inilah yang di’curcolkan’ seorang pedagang sayur di sebuah pasar tradisional kepada penulis. Setiba di rumah, dia harus memastikan anak-anaknya mengerjakan tugas yang diberikan sekolah. Belum lagi tugas harus dikirim menggunakan media sosial. Tidak jarang beberapa perempuan ini terpaksa menumpang di gadget tetangganya. Bagi yang tidak bisa mencari pinjaman, hanya pasrah dengan keadaan. Menghubungi guru sekolah dan mengabari bahwa tugas anak mereka akan diserahkan saat sekolah atau diantar ke rumah guru anak-anaknya.

Perjuangan yang luar biasa dari perempuan-perempuan seperti ini. Saat keluar rumah, mereka sudah khawatir, menuju ke rumah juga ada kecemasan, sampai di rumah dihadapkan pada persoalan berbeda. Keadaan ini jika tidak disikapi dengan tenang dan emosi yang stabil dapat menyebabkan tekanan psikologis yang berdampak pada turunnya stamina ibu-ibu ini. Stres yang dirasakan berpotensi pada memburuknya daya tahan tubuh. Selain itu, timbul perasaan cemas yang ditandai dengan emosi yang tidak stabil, perasaan berdebar-debar, kepala pusing, tangan berkeringat, dan napas mungkin sesak. Semua ini adalah indikator dari stres yang mendera para perempuan ini. Meskipun demikian, stres bisa diminamilisir, salah satunya dengan patuh dan disiplin pada regulasi.
Memakai masker, sarung tangan jika memungkinkan, menghindari menggosok bagian wajah, dan mencuci tangan atau mandi begitu sampai di rumah dapat dilakukan. Selain itu, memasrahkan diri pada Allah adalah cara yang tidak kalah penting. Saat ikhtiar dilakukan karena Allah, maka perempuan ini Insya Allah akan dilindungi. Yang pasti, Allah sudah mengatur segalanya. Patuh, disiplin, dan berdoa adalah ikhtiar yang dapat dilakukan manusia. Selebihnya diserahkan kepada Allah. Tetap semangat dan jaga diri perempuan yang bekerja ke luar rumah! Semoga pandemi ini cepat menghilang. Aaamiin. (*)