Mambaco Bayang

105

Oleh: Two Efly, Wartawan Ekonomi

Pandai mambaco bayang, mambaco nan tasirek di baliak nan ta surek (bisa menangkap atau memprediksi apa yang akan terjadi, mampu mengambil makna dari sebuah peristiwa atau momentum). Begitu pituah usang di Minangkabau diwariskan dari generasi ke generasi.

Seorang anak Minang mestilah pandai membaca gelaja dan tanda-tanda. Seorang anak Minang mesti tahu kapan bertindak dan kapan pula untuk menahan diri.

Dalam dunia bisnis, pituah usang ini juga sangat dibutuhkan. Seorang pelaku bisnis haruslah mempunyai instuisi berbasis analisis yang jelas dan terukur. Seorang pelaku bisnis juga harus cakap dan pintar membaca peluang bisnis. Satu lagi yang tak kalah penting adalah potensi dan peluang apa yang mungkin dimaksimalkan. Ingat tak semua potensi dan peluang bisa kita ambil dan belum tentu pula potensi dan peluang yang terbentang cocok untuk bisnis kita. Ukua bayang-bayang sapanjang badan.

Sama halnya dengan pelaku bisnis keuangan (Bankir). Seorang bankir haruslah jeli dan pandai membaca peluang pasar. Kapan seorang bankir harus memaksimalkan dana dan kapan pula seorang bankir harus melepas dana. Kepada siapa dana dilepaskan dan seberapa besar dana yang harus dilepaskan. Diperlukan mitigasi, perlu tindakan yang prudent agar terhindar dari risiko kredit.

Bank Nagari selaku banknya urang awak mampu membaca itu. Di saat masyarakat dan nasabahnya membutuhkan peluang mendapatkan dana, Bank Nagari hadir dengan program menguntungkan. Program turun bunga bernama Reward Cashback Pinjaman menjadi solusi yang jitu. Sudahlah prosesnya mudah, bunganya pun relatif ringan.

Reward Cashback Pinjaman secara rate ditawarkan dengan bunga 10,25% persen per tahun atau 0,85% per bulan, dengan cash back maksimal Rp1.000.000 (satu juta rupiah) per debitur. Besaran bunga nyaris sebanding dengan bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Selain bunga yang rendah, cara untuk mendapatkannya pun relatif mudah. Nasabah cukup mendatangi petugas bank dan memberikan beberapa data penting seperti Legalitas Kepegawaian dan identitas diri.

Rewad Cashback Pinjaman adalah sebuah kecerdasan. Manajemen Bank Nagari mampu membaca peluang dan potensi pasar kredit dengan tepat dan dalam momentum yang tepat pula. Kenapa? Periode Juni dan Juli adalah periodenisasi tahun ajaran baru bagi dunia pendidikan. Dua bulan ini merupakan beban puncak bagi orang tua untuk mempersiapkan bekal pendidikan anaknya untuk masa yang akan datang.

Pendidikan saat ini tidaklah gratis seperti yang digemborkan. Kalaupun SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) tak ada lagi namun masih ada sederetan biaya lain yang mesti dipikul. Ada kewajiban untuk pembelian pakaian, pembelian buku dan biaya lainnya. Memang biaya itu tidak dikoordinir dan disetor ke sekolah. Pembiayaan itu berlangsung secara mandiri dan ditunaikan langsung oleh wali murid.

Itu untuk Sekolah Dasar hingga SLTA. Berbeda jauh dengan Perguruan Tinggi. Di sinilah kendalanya. Tak ada pendidikan tinggi yang gratis selain sekolah ikatan dinas. Di sini orang tua membutuhkan biaya lebih. Ada beban biaya di luar kondisi normal dibandingkan Sekolah Dasar dan SLTA. Ada beban biaya yang terbilang besar. Peluang besar inilah yang ditangkap Bank Nagari.

Bank Nagari mencoba hadir menjadi mitra bagi nasabahnya. Terkhususnya nasabah yang berlatar belakang aparatur sipil Negara dan atau pensiunan. Berbekal legalitas aparatur pegawai negerinya, Bank Nagari menghadirkan kemudahan. Ini murni bisnis dan simbiosis mutualisme. Bank Nagari terbantu dalam memasarkan kredit dan orang tua pun terbantu karena mendapatkan kredit dengan bunga yang rendah.

Baca Juga:  Pabrik Pakan Mandiri

Menarikkah? Jelaslah sangat menarik. Dari data Bank Nagari terlihat semenjak program itu dipasarkan di awal Juni 2022 hingga minggu pertama Juni 2022 sudah banyak nasabah yang mendapatkannya. Tercatat 2.184 nasabah. Plafond kredit yang dicairkan pun terbilang tinggi. Hingga minggu pertama Juni 2022 tercatat sebesar Rp334,6 Miliar. Diperkirakan mendekati akhir Juli akan terus melambung. Besar kemungkinan program Reward Cashback Pinjaman ini baru akan melandai memasuki akhir Agustus 2022.

Barang Baru dan Usang-usang Dipabaharui

Ada dua cara untuk memaksimalkan pasar dalam dunia bisnis perbankan. Pertama membuka pasar baru (ekspansi membuka pasar baru) dan kedua memaksimalkan pasar lama (memaksimalkan pasar yang sudah ada alias usang-usang dipabaharui).

Pertama, membuka pasar baru (ekspansi). Ekspansi dan membuka pasar baru dalam kondisi ekonomi yang belum begitu stabil seperti saat jelaslah sebuah risiko.

Data menunjukkan dua tahun terakhir ekonomi Sumbar tak kunjung bangkit dan pulih. Pertumbuhan ekonominya tak pernah mampu menyentuh angka 4 persen. Selain itu dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Sumbar pun selalu di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Ingat bank itu Follow to Business.

Sepanjang ekonomi sulit maka bank pasti akan wait and see. Kalaupun harus ekspansi demi mempertahankan diri maka prinsip Prudent haruslah diaplikasikan. Program dan target kerja kreditnya pun harus terencana dan terukur. Intinya mitigasi risiko haruslah betul-betul terukur.

Kedua, memaksimalkan pasar lama. Reward Cashback Pinjaman yang berlangsung hari ini adalah bentuk lain dari memaksimalkan pasar yang ada. Data membuktikan mayoritas Aparatur Sipil Nenaga (ASN) dan pensiunan ASN adalah mitra atau nasabah utama dari Bank Nagari. Selama ini para nasabah ini juga sudah saling bersinergi. Baik dalam menempatkan dana maupun dalam mendapatan sumber dana berbentuk kredit.

Dari Konsumtif ke Produktif

Secara cluster program Reward Cashback Pinjaman jelaslah berada dalam bilik kredit konsumtif. Kredit “sanang” istilah orang perbankan ini tentulah tidak sekuat kredit investasi daya ungkit ekonominya. Multiplier effect-nya reratif berjalan lambat. Tapi relatif lebih lambat masih lumayan dibanding tidak beringsut sama sekali.
Bisakah konsumtif berubah menjadi produktif? Bisa. Reward Cashback ini buktinya. Dalam pengajuan dan pengelompokan kredit jelaslah program ini masuk ke ranah konsumtif. Berbekal proses dan legalitas ASN, kredit dapat dicairkan. Pascapencairan kredit disinilah metamorfosa-nya terjadi.

Kredit yang semula terkategori konsumtif dalam perjalanan berubah arah menjadi kredit produktif. Debitur dari ASN ini menggunakan program Reward Cashback ini untuk membiayai pendidikan anak anak mereka. Bukahlah pendidikan itu adalah investasi penting untuk keperluan jangka panjang. Selain untuk pendidikan tak sedikit pula dana kredit konsumtif berubah penggunaannya untuk produktif. Sebut saja untuk pembangunan rumah, pembangunan ruko, tambahan modal kerja usaha dan beberapa bentuk usaha lainnya.
Selamat untuk program kreatifnya, teruslah jaga kearifan Ranah Minang itu. Berpandai pandailah mambaco bayang. Semoga reward cashback pinjaman ini bisa menjadi jembatan untuk menyiapkan “generasi emas” bagi Ranah Minang di masa mendatang. (***)