Jan Sampai Tahambua di Nan Panjang

355

Dr. Fajri Muharja

(Dosen dan Peneliti Fakultas Ekonomi Unand)

Penulis jadi ingat pengalaman masa kecil dahulu di kampung ketika bermain bersama kawan-kawan sebaya. Ada pesan filosofis yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang dalam mengambil sebuah keputusan.

Untuk melompati sebuah parit bersama kawan “Jan Sampai Tahambua di Nan Panjang”. Maknanya adalah keputusan untuk melompati bandar/parit, carilah rentang risiko yang paling pendek baru melompat.

Kalau tidak, bisa terlompati rentang parit yang panjang, kita masuk parit sendiri, terguling dan berlunau, sedangkan kawan sampai di seberang. Makanya berhati-hatilah melompat. Hal inilah yang ingin penulis kritisi dari rencana Bank Nagari Sumatera Barat untuk melakukan konversi menjadi bank syariah.

Kemauan untuk terus mengembangkan bank syariah di Sumatera Barat oleh berbagai komponen masyarakat merupakan sebuah semangat yang patut diacungkan jempol. Hal ini sangat sesuai dengan animo masyarakat yang ada saat ini bahwa Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandikan Kitabullah (ABS-SBK) makin terus melekat di hati dan telah sampai di tahap sektor keuangan.

Bermodal kepemilikan saham pemerintah daerah secara total sangat dominan. Keputusan mengkonversi Bank Nagari (konvensional) menjadi Bank Umum Syariah (BUS) tidak banyak menemui hambatan. Namun mencermati kondisi sekarang, perubahan-perubahan lingkungan bisnis yang ada dan konstelasi politik dan ekonomi secara nasional.

Keputusan tersebut harus dilakukan secara hati-hati dan difikirkan secara matang. Masih ada pilihan lain yang bisa membesarkan perbankan syariah di Sumatera Barat tanpa harus mengorbankan Bank Nagari konvensional “Sakali aie gadang, sakali itu pulo tapian barubah”.

Perlu dimaknai bahwa kata “konversi” dalam pengertian bahasa sederhana adalah “mengganti”. Ibarat kita berkeinginan mengkonversi lima belas ribu rupiah ke dalam Dollar tentu kita kehilangan uang Rp 15.000 dan sekarang punya uang dalam bentuk Dollar.

Artinya kita tidak bisa menggunakan dollar secara leluasa dalam konteks belanja di Indonesia secara keseluruhan, pasti ada banyak keterbatasan. Begitu juga mengkonversi Bank Nagari konvensional menjadi bank syariah. Jelas memiliki banyak keterbatasan dalam habitat ekonomi dan bisnis di Sumatera Barat yang faktanya lebih didominasi aktifitas konvensional.

Perlu disadari bahwa Bank Nagari telah tumbuh dan berkembang sejak lama meskipun belum optimal, namun jangan dibuang untuk mengejar sebuah indentitas yang dalam kalkulasi bisnis dan ekonomi belum menjanjikan.

Jika tidak ingin konversi seperti itu, apa solusi alternatifnya yang bisa dilakukan untuk pengembangan bank syariah di Sumatera Barat? Banyak cara yang bisa dilakukan, salah satu diantarannya adalah melakukan spin-off unit syariah dari Bank Nagari konvensional dan bergabung (merger) dengan ratusan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Sumatera Barat untuk bersatu untuk membuat bank syariah baru.

Artinya, dengan semangat syariah tersebut bisa menjadikan BPR-BPR di Sumatera Barat naik kelas dalam mengurus usaha finansial yang lebih besar. Pasar bank syariah baru ini jadi makin lebih jelas bermain di tingkat mikro yang secara semangat dimiliki masyarakat di pelosok daerah tanpa membuang Bank Nagari konvensional.

Baca Juga:  Refleksi Pandemi Covid-19 Menjelang Lebaran 1442 H

Seandainya tetap melakukan konversi Bank Nagari konvensional ke bank syariah, dapat diperkirakan dana pihak ketiga yang cukup besar berada di Bank Nagari konvensional akan lompat pagar dan pindah ke bank lain (capital flight).

Kinerja perbankan baru ini akan mengalam penurunan tajam dalam beberapa tahun ke depan. Bisa jadi akan ada kebijakan rasionalisasi karyawan karena pasar keuangan masih sangat terbatas secara syariah.

Beberapa pihak mengatakan bahwa di Provinsi Aceh Bank Syariah terus berkembang, meskipun di awal terjadi penurunan kinerja. Tapi perlu dicatat bahwa tali nafas politik di Aceh sedikit berbeda dengan Sumatera Barat. Aceh adalah daerah istimewa (DI) dan Sumatera Barat bukan daerah istimewa. Terbukti, di Aceh bisa menutup bank konvensional yang ada.

Namun di Sumatera Barat hal tersebut mustahil bisa dilakukan sama sekali saat ini. Artinya, antara bank konvensional dan bank syariah dalam konteks ini masih bisa menjadi barang substitusi bagi dunia usaha dan masyarakat.

Kemauan spin-off unit syariah dari Bank Nagari konvensional sebetulnya bisa memanfaatkan momentum Gubernur dan Wakil Gubernur Baru Provinsi Sumatera Barat saat ini. Dengan slogan “Membina Citra dan Membangun Negeri” dari Bank Nagari konvensional bisa tercapai.

Bersama Membina Citra yang dimaksud adalah citra mengembangkan bank syariah sudah bersama-sama kita dapatkan identitasnya. Membangun negeri yang dimaksud juga segera terwujud yaitu dengan semangat “ingin mancaliek lilin wak tarang, indak ma ambuih lilin kawan”. Ingin perbankan syariah maju sesuai segment pasarnya, tidak membuang Bank Nagari konvensional yang sudah ada.

Aspek lain yang harus menjadi perhatian bagi pengambil keputusan atau Gubernur baru yang didampingi oleh Wakil Gubernur dari anak muda milenial, bahwa Bank Nagari harus terus dikuatkan baik secara status, kemampuan manajerial dan kapasitas teknologi informasi dalam membidik pasar finansial lokal, nasional maupun global.

Beberapa usaha masa lalu untuk bisa menjadikan Bank Nagari naik kelas menjadi bank devisa. Perlu kiranya kembali dibangkitkan semangat dengan menghimpun para perantau Minang (NDC di era 1990an) untuk membentuk konsorsium pembiayaan untuk Bank Nagari.

Hal ini sebetulnya dipraktikkan oleh Bank Jatim dengan membuat konsorsium pembiayaan pengusaha lokal dan nasional dan melakukan penyertaan. Dengan status bank devisa, Bank Jatim sebagai leader mampu melakukan pembiayaan pembangunan proyek nasional antara lain pengembangan mega proyek pelabuhan Tanjung Perak (integrated harbor system) dengan menggandeng bank asing seperti Sumitomo Bank, Hongkong Bank dan bank BUMN lainnya.

Perihal penghimpunan konsorsium pendanaan perantau ini adalah momentum besar yang perlu segera dibangkitkan kembali. Jika itu terlaksana maka proyek-proyek besar yang ingin dibangun di Sumatera Barat seperti pengembangan pelabuhan Teluk Bayur, pembangunan Jalan Tol Padang-Pekanbaru, Pengembangan Kawasan Wisata bisa kita lakukan secara mandiri dan tidak tergantung kepada pihak lain (dicupak-an urang).

Selamat Ulang Tahun Bank Nagari Sumatera Barat ke-59. Semoga terus menjadi perbankan yang mampu Membina Citra dan Membangun Negeri. (*)

Previous articleSelama Dua Hari, 177 Personel Satpol PP dan Damkar Ikuti Vaksinasi
Next articleASN Golongan I-IV Naik Pangkat, PPPK Terima SK Pengangkatan