Tafakur di Dua Momentum

Ilustrasi.

Ali Mukhni
Bupati Padangpariaman

Bulan suci Ramadhan 1414 H membuka kesempatan untuk berhenti sejenak untuk bertafakur. Lebih-lebih bersamaan dengan bulan penuh berkah ini kita diserang oleh wabah, begitu banyak hal yang harus kita renungi, pikirkan, rasakan, di bawa ke relung hati paling dalam. Ajaklah jiwa bercakap-cakap untuk mendapatkan energi baru.

Hal ini sering saya ungkapkan kepada jajaran Pemerintah Padangpariaman. Pada kesempatan terbatas, mengajak para aparatur negara bertanya ke dalam diri, apa yang sudah dan telah dilakukan sebagai ladang amal dalam kehidupan ini. Saya mengajak dan menganjurkan agar, selesai Shalat Subuh, sebelum berangkat kerja atau beraktivitas, tafakurlah. Duduklah lebih lama di atas sajadah.

Ajaklah bathin berdialog tentang kehidupan. Jangan lupa berdoa setelah itu. Itu belum cukup. Setiap selesai Shalat Isya’ duduklah agak lama, pejamkan mata, pikirkan sejenak apa yang sudah dilakukan dalam pekerjaan selama satu hari tadi. Apakah sudah melaksanakan tugas dengan cara yang terbaik, apakah memiliki manfaat bagi orang banyak? Pertanyakanlah ke dalam. Hal ini sangat baik untuk kesehatan jiwa.

Dua momentum ini sangat penting agar setiap pekerjaan memiliki nilai kebajikan terhadap kehidupan. Punya nilai ibadah, bukan menghabiskan waktu secara mubazir. Alangkah meruginya kehidupan dijalankan tanpa ada nilai-nilai yang berguna untuk diri, keluarga dan masyarakat. Sebagai aparatur yang diamanatkan, hendaknya kegiatan tafakur menjadi sumber energi yang terbarukan dari jiwa yang bersih.

Langkah Kejujuran

Dua momentum itu jalan baik untuk menata hati, menata jalan kejujuran dan keikhlasan dalam berbuat. Rutinitas sering membutuh dan matinya akal. Sehingga pekerjaan tidak dilaksanakan secara maksimal, asal jadi, jauh dari inovasi. Rutinitas adalah beban bagi mereka yang lalai bersyukur, lalai bertafakur.

Apalagi di masa pandemi sekarang. Kita lebih banyak bekerja dari rumah. Jangan diartikan lebih banyak waktu untuk bersantai. Justru ini tantangan, sejauh mana kinerja kita tetap meningkat; bekerja efisien dan efektif. Kita sering menghadapi keadaan memaksa agar bersabar ketika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan semestinya. Misalnya, ada yang punya kinerja yang buruk, motivasi kerja yang rendah, serta hal-hal yang membuat macet dan kacau sebuah sistem. Sehingga target tidak tercapai. Pola kerja yang menahun agaknya memang butuh refresh yang banyak. Pada bulan penuh berkah inilah salah satu kesempatan tersebut. Jalannya adalah tafakur!

Berpikir dalam Diam

Kenapa ada shalat malam, itulah kesempatan untuk berpikir dalam sunyi. Kenapa ada tafakur, itulah kesempatan untuk introspeksi diri. Sebagai makhluk Allah Swt. yang diberi akal, kita diwajibkan berpikir. Gunakan akal pikiran untuk sesuatu yang baik dan benar.
“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia’.” (QS.3:191).

Ayat ini sering dikutip para mubalig kita, ketika mengajurkan umat untuk berpikir dengan baik, jernih, dalam menjalankan urusan dunia dan akhirat. Menurut Imam Ghazali, tafakur adalah kunci segala nur dan dasar mencari penglihatan kalbu. Pada saat tafakur itu, hendaknya memeriksa tentang kesalahan sikap yang menggiring ke maksiat; mengingat apa yang sudah diucapkan yang menggiring lukanya hati orang; mengingatkan langkah kaki ke tempat baik, mulia, atau dengan segala kesombongan dan riya’. Tafakur adalah sarana untuk menyadarkan diri.

Tafakur dan berzikir adalah kegiatan yang dibutuhkan jiwa. Sebagai orang yang belajar tentang bagaimana kesehatan jasmani dan rohani, pernah saya dapatkan pelajaran hubungkait antara kesehatan jiwa dan kesehatan rohani. Jiwa dan raga bukanlah seperti minyak dan air. Ia seperti sesuatu objek dengan bayang-bayangnya.

Sayid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalilquran menerangkan ayat di atas tadi, orang-orang yang berpikir dengan baik dan benar. Melalui pemahaman yang kokoh terhadap iman dan amal, akan mendapatkan rasa syukur yang mendalam. Rasa syukur itulah yang mengangkat keinginan hidup menjadi lebih baik. Inilah modal awal untuk bekerja dan meningkatkan kinerja bagi seorang aparatur, atau bagi siapapun hendak hidupnya dipandang baik oleh Allah SWT. dan oleh sesama manusia.

Begitu banyak ayat yang menerangkan agar kita terus menggunakan akal dalam hidup ini sebelum menyerahkan seluruh perjuangan dan pengorbanan tersebut kepada qudrah dan iradah Allah SWT. Di antara ayat tersebut adalah, “Agar kamu memikirkan,” (QS.2:219); “Terdapat tandatanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir,” (QS.30:21) dan (QS.39:42).

“Merenung sesaat untuk (bertafakur) lebih besar nilainya daripada amal-amal kebajikan yang dikerjakan oleh dua jenis makhluk (manusia dan jin),” ini Rasulullah SAW yang dirawayat Ibnu Majah.

Tafakur adalah kegiatan berpikir dalam diam ke dalam diri. Paling tidak ada lima hal, merenungi ayat-ayat Allah; dalam rangka merenungi nikmat-nikmat Allah; dalam rangka merenungi janji-janji Allah; dalam rangka menyalakan atau menambah semangat beramal saleh; dalam rangka merenungi peringatan Allah; dalam rangka merenungi kelalaian diri dalam menjalankan perintah-Nya.

Semoga bermanfaat, awalnya tulisan ini sekadar untuk diri, untuk keluarga, untuk para aparatur, akhirnya sampai juga untuk pembaca. Niatnya, untuk saling berbagi di bulan penuh berkah ini. Wallahu’alambishshawab. (*)