WFH tak Mempan, New Normal Dijalankan, Bagaimana Nasib Pekerja Kantoran?

Ilustrasi new normal. (Foto: IST)

Nurul Hanifah
Ketua Tim Peneliti Fourtastic Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas

Mewabahnya virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Coronavirus Disease (Covid-19) telah mengubah pola perilaku manusia.

Secara global, aktivitas manusia di luar rumah berkurang drastis demi menghindari penyebaran penyakit ini. Indonesia khususnya telah menetapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah dengan zona merah.

Pemerintah Indonesia mengimbau masyarakat untuk bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) dan berkegiatan di luar seperlunya. Perkumpulan pada suatu ruangan akan memudahkan coronavirus menyebar, mengingat coronavirus dapat menyebar dengan water droplet.

Menurut sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19, dapat hidup di udara dan di permukaan benda antara beberapa jam hingga beberapa hari.

Studi ini menemukan bahwa virus dapat bertahan hingga 72 jam pada plastik, 48 jam pada stainless steel, 24 jam pada kardus, dan 4 jam pada tembaga. Virus juga bertahan di udara selama tiga jam.

Terlebih lagi pada ruangan berventilasi buruk, coronavirus ini dapat bertahan lebih lama dibanding biasanya. Akibatnya, pekerjaan yang memerlukan aktivitas berkumpul dalam ruangan diminimalisir.

Pekerja kantoran merupakan salah satu golongan terdampak oleh hal tersebut. Pekerja kantoran yang dimaksud adalah orang yang bekerja dalam ruangan atau kantor e” enam jam.

Peneliti telah melakukan survei terhadap 100 responden pekerja kantoran di Sumatra Barat. Berdasarkan survei tersebut sebanyak 75% perusahaan/institusi telah memberlakukan WFH lebih dari satu bulan. Protokol kesehatan pun dijalankan, akan tetapi hanya 75% yang menyediakan fasilitas kesehatan untuk pekerjanya secara gratis.

WFH yang dilakukan tidak efektif untuk mendukung pekerjaan. Meskipun WFH telah diberlakukan, hanya 76,4% masyarakat yang menjalankannya dengan baik. Sebanyak 30,6% masyarakat mengeluhkan fasilitas yang ada di rumah tidak bisa menunjang pekerjaan. Adanya gangguan yang berasal dari rumah pun turut dirasakan, baik tidak bisa fokus, tidak bisa melakukan pekerjaan dengan tenang, dan lainnya.

Pemerintah telah mengupayakan agar pekerjaan dapat berjalan lancar dengan membuat posko K3 Corona, akan tetapi masih ada 20% masyarakat yang tidak mengetahui hal tersebut.

Meskipun 55,6% masyarakat meyakini penularan Covid-19 dapat dicegah dengan WFH, akan tetapi hal tersebut tidak efektif untuk pekerjaan. Ekonomi terus merosot sehingga ancaman PHK dapat terjadi kapan saja.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah mulai mencanangkan tatanan hidup kewajaran baru atau new normal. Masyarakat diharapkan hidup berdampingan dengan coronavirus hingga terbentuknya Herd Immunity.

Untuk menjalani new normal tentu memerlukan aturan yang lebih mengikat dibandingkan saat PSBB, mengingat Indonesia belum dalam tahap stabil/aman terutama aturan dalam menjaga jarak/physical distancing dan protokol kesehatan.

Dalam hal ini, kita dapat mencontoh negara Jepang yang tidak melakukan lockdown karena tidak diperbolehkan oleh institusinya. Salah satu cara Jepang untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 dengan mengeluarkan peraturan “Three Cs”. Three Cs yang pertama adalah Closed Place, yaitu menghindari tempat tertutup dengan ventilasi ruangan yang buruk. Kedua, Crowded Place, yaitu menghindari tempat dengan kerumunan orang.

Terakhir ada Close-contact Settings,menghindari kontak dekat seperti mengobrol dengan jarak yang terlalu dekat. Selain Three Cs ini, Jepang juga mengimbau warganya untuk senantiasa menggunakan masker saat berada di luar rumah mau pun di dalam rumah. Hal ini dipatuhi oleh hampir seluruh warga Jepang.

Indonesia dapat mencontoh peraturan-peraturan tersebut jika ingin menerapkan new normal. Aturan Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja (K3) juga harus digalakkan. Tidak hanya dari karyawan tetapi juga dari perusahaan dan pekerja kantoran.

Dalam mencegah penularan coronavirus, perusahaan dan kantor-kantor hendaknya menyediakan fasilitas kesehatan, seperti hand sanitizer/ hand soap, masker, dan disinfektan.

Perusahaan juga harus memperbaiki sirkulasi udara agar mengurangi penyebaran coronavirus. Pemberitahuan seperti wajib masker dan penyediaan tempat sampah medis juga harus dipenuhi. Kondisi kesehatan karyawan dan pekerja kantoran pun perlu diperhatikan.

Perusahaan juga harus melakukan tindakan pencegahan seperti mengecek suhu tubuh dan riwayat kesehatan secara berkala. Karyawan dengan riwayat telah bepergian ke daerah terjangkit atas perintah perusahaan perlu diperhatikan.

Perusahaan wajib melakukan pertanggungjawaban terhadap karyawan yang telah melakukan perjalanan ke kota terjangkit meskipun tidak bergejala.

Perusahaan wajib membiayai test swab terhadap karyawan dan menganjurkan isolasi mandiri terhadap karyawan.

Apabila karyawan telah melakukan isolasi mandiri dan hasil tes negatif maka baru diperbolehkan melakukan pekerjaan. Karyawan bergejala pun demikian, perusahaan wajib melakukan pertanggungjawaban dengan membiayai test swab.

Karyawan tidak bergejala dengan riwayat keluarga terjangkit perlu dikondisikan dalam pekerjaan. Perusahaan hendaknya menetapkan batas-batas tertentu untuk berinteraksi dengan kontak dekat.

Hal ini dilakukan guna mencegah penyebaran coronavirus. Untuk mengantisipasi adanya penyebaran virus dari karyawan kepada keluarga di rumah, hendaknya keluarga pun memakai masker.

Studi yang diterbitkan dalam Jurnal American Association for the Advancement of Science memaparkan bahwa masker dapat mengurangi transmisi coronavirus. Pengurangan dapat dilakukan hingga mencapai 79%. Oleh karena itu penggunaan wajib masker dapat mengurangi penularan.

Hal-hal yang telah disebutkan juga sangat bergantung pada tingkat kedisiplinan baik dari perusahaan mau pun dari karyawan. Perusahaan harus menetapkan kebijakan dan sanksi yang tegas terhadap pelanggar protokol kesehatan. Karyawan juga harus menaati protokol kesehatan dengan baik dan benar.

Tanpa adanya kedisiplinan penyebaran sulit untuk diminimalisir. Mencontoh pada masyarakat Jepang, merekasangat menaati aturan dan kebijakan yang telah dibuat. Masyarakat pun menjalankan protokol kesehatan dengan baik dan benar. Oleh karena itu, kedisiplinan juga dapat mengurangi penyebaran coronavirus. (*)