Ancaman Musim Pancaroba selama Ramadhan

Ilustrasi

Isril Berd
Guru Besar Fateta Unand/Forum DAS Padang

Peringatan dini cuaca oleh Kepala BMKG Pusat bahwa sebagian wilayah Indonesia tengah mengalami periode peralihan dari musim hujan kemusim kemarau (pancaroba). Pada periode pancaroba ini cuaca umumnya berubah lebih dinamis cepat dan sangat dipengaruhi pemanasan permukaan oleh radiasi matahari, sirkulasi atmosfer lokal, serta ada tidaknya gangguan atmosfer di atas suatu wilayah dan sekitarnya akibat aktivitas badai tropis, pusaran angin atau gelombang atsmosfer ekuator.

Berdasarkan pemantauan dan analisis terdapat indikasi adanya perambatan gelombang atmosfer ekuator tropis MJO ( Maddem Julian Oscillation) dan sirkulasi siklonik (pusaran angin) sekitar laut Jawa, Maluku dan Papua Barat. Dan gelombang atmosfer ekuator tropis merupakan gangguan atmosfer berupa perambatan klaster udara basah yang menjalar dari Samudera Hindia menuju Samudera Pasifik melewati wilayah Indonesia dengan siklus 30-90 hari. Pada saat berada di suatu wilayah perambatan MJO dan siklonik dapat memicu pertumbuhan awan yang cepat dan besar, sehingga menghasilkan hujan dengan curah yang tinggi. (Dwikorita Karnawati, 27/4)

Sumbar dan beberapa wilayah lainnya di Indonesia diprediksi akan terpapar MJO dan Siklonik. Nantinya memicu pertumbuhan awan secara cepat dan besar, sehingga menghasilkan hujan dengan curah tinggi. Sebetulnya, sejak awal Maret 2020 lalu edaran orbit matahari sudah mulai bergeser dari garis khatulistiwa ke arah utara bumi. Artinya, dimulainya musim kemarau yang diawali dengan musim pancaroba yang terjadi mulai ini, atau bertepatan pada Ramadhan 1441 Hijrah ini. Nantinya, diprediksi terjadi berbagai bentuk cuaca ekstrem sampai masuknya musim kemarau mendatang, seperti disampaikan BMKG pusat.

Perubahan iklim global yang sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir dipicu pemanasan global. Yakni, proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi, akibat efek rumah kaca (green hause effect), gejala alam ini berdampak terhadap lingkungan dan kehidupan manusia. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah gas karbon dalam atmosfer akibat ulah dan kegiatan manusia mengeksploitasi sumberdaya alam dan kemajuan teknologi industri. Selama pemanasan global daerah bagian utara bumi memanas lebih tinggi dari daerah-daerah lainnya. Kelembaban tersebut menurunkan pemanasan lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan uap air bersumber dari gas rumah kaca. Di mana, uap air ini membentuk awan dalam skala besar. Sehingga, memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar. Kondisi ini akan menurunkan proses pemanasan dan angin badai lebih sering.

Seperti pernah penulis sampaikan pada Teras Utama Padang Ekspres awal tahun ini, wilayah Sumbar mengalami ancaman cuaca ekstrem yang menimbulkan bencana banjir dan longsor. Bencana tersebut terjadi karena biofisik Sumbar banyak gunung atau bukit dengan kelerengan sedang sampai curam, serta tutupan vegetasi hutannya sudah ada kurang berkualitas populasi tegakan pohon per hektarenya.

Berdasarkan Sumbar Dalam Angka (2018), biofisik Sumbar mencangkup luas tutupan vegetasi hutan lindung 1.203.270 ha, budidaya 2.456.970 ha, hutan produksi 398.370 ha, hutan produksi konversi 137.680 ha. Sedangkan bentangan alamnya banyak bukit, gunung, lembah berketinggian 0-500 m dpl meliputi luas 1.286.793 ha (30,41%), ketinggian 100-1.000 m dpl seluas 643.552 ha (15,21%), 1.000-1.500 m dpl seluas 767.117 ha (18,13%). Lalu, 1.500-2.500 seluas 113.116,6 ha (2,67%) dan sisanya di atas 2.500 m dpl. Selain itu, kelerengan di atas 40% tercatat seluas 1.017.000 ha dari luas daerah Sumbar 42.200 km2. Juga, diketahui pula lahan kritis sampai sangat kritis seluas 630.695 ha tersebar dan terpencar di berbagai kabupaten/ kota di Sumbar. Di mana, lebih dari 4.000 ha di antaranya terdapat di Padang.

Begitu juga terdapat enam satuan wilayah sungai (SWS) di delapan kabupaten dan enam kota. Yaitu, SWS Rokan 3.123,17 km2, SWS Kampar 1.980,77 km2, SWS Indra Giri 7.990,52 km2 , SWS Silaut 8.928,81 km2, SWS Anai Sualang 12.089,11 km2, SWS Batang Hari 8.138,42. Lalu, terbagi atas lebih 384 DAS terdapat di wilayah ( BPDAS HL Agam Kuantan 2020).

Kondisi biofisik Sumbar ini sudah barang tentu saat musim pancaroba dan isu ancaman cuaca ekstrem ini, rentan memicu angin puting beliung, angin kencang, pohon tumbang dan intensitas hujan tinggi melebihi intensitas normal sehingga memicu banjir dan longsor.

Hal lain yang juga juga perlu mendapat perhatian bahwa banyak kajian peneliti menyatakan bahwa wilayah dengan posisi lintang tinggi mempunyai kerentanan penyebaran Covid-19 lebih tinggi ketimbang negara tropis. Pasalnya virus korona menyenangi kondisi temperatur antara 8-10 derjat Celsius dan kelemban 60-90 %. Makanya, musim pancaroba yang ditandai dengan temperatur dan kelembaban relatif, disertai kecepatan angin, diduga bisa mempecepat penyebaran virus ini.

Wabah Covid-19 ini diprediksi berubah setelah memasuki musim panas selepas musim pancaroba dan cuaca berubah dengan suhu dan kelembaban tinggi umumnya berkisar antara 26-27 derajat Celsius. Di mana kondisi cuaca dan udara seperti ini, membuat virus korona tidak bisa berkembang. Namun karena adanya transmisi antarmanusia, membuat penyebaran Covid-19 masih saja bisa terjadi.

Bentuk langkah antisipasi menghadapi cuaca ekstrem ini, Forum DAS Padang akhir tahun lalu sudah mengajak warga yang tinggal di sepanjang DAS menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Pola hidup sehat tersebut harus diiringi dengan menjaga kebersihan DAS. Dengan begitu, potensi sumber penyakit bisa ditekan dan diminimalisir. Semoga. (*)