Wisata Pantai Berbasis Mitigasi Bencana dan Green Marketing

168

Oleh: Afriyeni, Mahasiswi Prodi S3 Kajian Lingkungan dan Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang

Indonesia memiliki daya tarik alam yang terindah di dunia. Menurut situs pemandu perjalanan, dari 20 negara yang masuk daftar, Indonesia berada pada peringkat keenam. Dua negara Asia lainnya, yakni India berada di peringkat ke tiga dan Vietnam di posisi ke duapuluh. Namun, posisi Indonesia juga berada di daerah ring of fire atau cincin api (Edyanto, 2014). Kondisi ini berakibat setiap tahun beberapa wilayah di Indonesia mengalami bencana alam, seperti gempa bumi, erupsi, maupun tsunami. Kondisi itu akan berpengaruh terhadap strategi pemasaran bagi industri pariwisata. Salah satunya kegiatan pariwisata yang didukung oleh tindakan ramah lingkungan (green marketing) yang diharapkan dapat mengurangi kerusakan lingkungan.

Green marketing pada destinasi pariwisata dapat menjaga keberlanjutan lingkungan, kebudayaan, dan juga komunitas pada lokasi wisata yang dikunjungi. Konsep pemasaran ini memberikan  keuntungan yang besar untuk jangka  panjang dan ketahanan bisnis tergantung pada pemeliharaan lingkungan yang menarik dan sehat, seperti menghemat biaya, menghindari terjadinya hubungan negatif dengan publik, memenuhi harapan (ekspektasi) dan permintaan pengunjung, memperoleh keuntungan yang berdaya saing, serta mengurangi  biaya operasional.

Kawasan wisata sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Kawasan wisata yang baik adalah kawasan yang lingkungannya bersih, nyaman dan safety. Aktivitas pariwisata yang mendukung upaya penyelamatan lingkungan sangat perlu dilakukan di tempat wisata seperti aksi penghijauan, tidak merusak alam, pelayanan yang ramah dari pelaku wisata. Selain itu, tindakan ramah lingkungan akan menjadi alat pemasaran yang baik bagi sebuah destinasi wisata sehingga dapat menimbulkan niat wisatawan untuk mengunjungi kembali objek wisata tersebut.

Menurut Rosyidie (2004) aspek kebencanaan dalam pengembangan pariwisata masih belum banyak dilakukan. Pengembangan pariwisata pada kawasan rawan bencana dan pengelolaan bencana pada kawasan wisata membutuhkan perhatian pihak terkait, karena sebahagian besar kawasan wisata alam berada pada kawasan yang rawan bencana, seperti erupsi gunung merapi, gempa bumi dan tsunami. Di Indonesia, tidak sedikit kegiatan wisata dikembangkan pada kawasan pantai. Namun dalam pengelolaannya masih banyak yang belum memperhitungkan aspek kebencanaan dan aspek ramah lingkungan. Mengingat pentingnya peran pariwisata dalam peningkatan kualitas hidup manusia dan pengembangan kawasan, maka berbagai upaya perlu dilakukan guna mempertahankan atau meningkatkan peran pariwisata sehingga dapat memperkecil kerentanan kawasan wisata terhadap bencana dan dapat memperkecil jumlah korban serta kerugian lainnya apabila terjadi bencana (Kusuma, Rachmawati, & Sari, 2017). Kemudian, apabila wisatawan merasakan adanya keamanan dan kenyamanan dalam aktivitas wisatanya, maka akan meningkatkan loyalitas bagi wisatawan tersebut (WU & Hayashi, 2014).

Sumatera Barat juga rentan terhadap berbagai jenis bencana. Kondisi geografis, meteorologis, dan geologisnya membuat wilayah ini memiliki banyak jenis bahaya alam. Dalam hal keadaan geologis, ditandai oleh banyak gunung berapi aktif, gempa bumi, dan tsunami. Dalam kasus meteorologi, mengalami banjir dan tanah longsor selama musim hujan dan kekeringan di musim kemarau, tidak terkecuali banjir di pantai yang merupakan muara sungai. Di beberapa lokasi di Indonesia, tujuan wisata berdekatan dengan zona bahaya. Banyak wisatawan datang ke pantai barat Sumatera di mana banyak pulau yang indah dengan pantai dan ombaknya, seperti Mentawai dan Simeulue. Namun, dekat tujuan wisata ini juga merupakan zona subduksi di mana beberapa gempa bumi dan tsunami terjadi.

Sumatera Barat adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia dan juga merupakan salah satu tujuan/destinasi utama pariwisata di Indonesia. Sumatera Barat memiliki banyak jenis objek wisata seperti wisata laut, pantai, gunung dan danau. Selain itu Sumatera Barat juga dikenal memiliki banyak budaya dan suku bangsa dan lainnya sehingga menjadikan Sumatera Barat sebagai destinasi yang sangat menarik untuk dikunjungi baik wisata pantai maupun wisata budayanya.

Pariaman sebagai salah satu kota yang ada di Sumatera Barat memiliki potensi pariwisata laut dan pantai yang cukup besar. Kota Pariaman menjadi daerah tujuan wisata di Sumbar karena memiliki objek wisata pantai yang indah, seperti Pantai Kata, Pantai Gandoriah, Pantai Tiram dan Pulau Angso Duo. Kuliner dan alam serta kebudayaan adalah magnet kuat untuk menarik wisatawan ke Kota Pariaman. Dua pertiga dari daerah yang ada di Kota Pariaman berupa wilayah pesisir, dan pada wilayah tersebut terdapat berbagai potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang sangat beragam. Ditambah lagi Kota Pariaman bisa dicapai dalam waktu 40 menit dari lokasi Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dan berjarak 70 Km dari Kota Padang. Ini adalah potensi-potensi yang tidak dimiliki oleh daerah lain selain Kota Pariaman.

Perkembangan jumlah kunjungan wisatawan Kota Pariaman baik dari dalam maupun dari luar masih rendah bila dibandingkan dengan daerah wisata lainnya yang ada di Sumatera Barat apalagi wisatawan yang berasal dari mancanegara, Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masih rendahnya minat kunjungan wisatawan pada wisata pantai di Kota Pariaman, sehingga hal ini perlu lebih ditingkatkan lagi bagaimana strategi pemasaran yang perlu dilakukan guna meningkatkan minat kunjungan ke kawasan wisata ini.

Baca Juga:  Tali Pembohong Itu Pendek

Di sisi lain, kawasan wisata pantai di Kota Pariaman sangat rentan terhadap terjadinya bencana seperti gempa bumi dan tsunami selain itu juga banjir yang terjadi karena air laut pasang. Terjadinya musibah tidak dapat diprediksi kapan dan seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut. Oleh karena itu, untuk antisipasi kejadian yang tidak diinginkan, maka perlu upaya mitigasi bencana dilokasi destinasi wisata pantai. Tindakan mitigasi bencana ini juga dapat menjadi alat promosi bagi wisatawan dan merupakan upaya pemasaran yang ramah lingkungan. Bentuk upaya ini seperti tersedianya fasilitas sarana dan prasarana di tempat wisata yang mampu memenuhi kebutuhan wisatawan berupa akses jalan yang baik dan lancar, tempat ibadah, toilet yang bersih, alat transportasi yang layak, pelayanan yang ramah, adanya petunjuk arah lokasi jalan, jaringan komunikasi yang lancar, penginapan yang nyaman, dan tersedianya shelter bagi wisatawan serta perlu adanya peta tematik kebencanaan sebagai informasi kebencanaan.

Sikap dan persepsi wisatawan terhadap risiko berbeda, ada yang bersikap netral dan ada juga yang menghindari. Sebelum memutuskan untuk mengunjungi suatu destinasi, wisatawan akan mempertimbangkan bagaimana kondisi tempat yang akan dituju, baik dari segi kenyamanan, akses jalan, keamanan, kebersihan dan pelayanan yang ada di tempat wisata tersebut. Di samping itu peran pemerintah dan masyarakat di tempat wisata sangat berpengaruh terhadap pengembangan sebuah kawasan wisata. Kemudian, green marketing dalam pariwisata atau bisa disebut sebagai green tourism marketing merupakan suatu upaya yang dilakukan dalam aktivitas memasarkan produk dan jasa wisata guna memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan. Dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan, aspek keamanan dan kenyamanan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan, sehingga mampu menimbulkan citra positif bagi sebuah destinasi wisata.

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dampak persepsi risiko, peran pemerintah, peran masyarakat dan sikap wisatawan terhadap mitigasi bencana dan green marketing dalam upaya meningkatkan daya tarik wisata dan kepuasan wisatawan serta menciptakan terjadinya revisit intention wisatawan pada kawasan wisata pantai di Kota Pariaman.

Hasil penelitian ini memberikan bukti empiris, bahwa peran pemerintah, masyarakat dan sikap wisatawan berdampak terhadap mitigasi bencana yang menunjukkan bahwa mitigasi bencana bukanlah  pilihan, melainkan konsekuensi alami dari aktivitas wisata, apalagi wisata Pantai Pariaman rentan dengan kejadian-kejadian bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami atau musibah yang dapat terjadi pada saat wisatawan melakukan aktivitas wisata di laut atau di pantai. Oleh karena itu, sudah seharusnya peran ini ditingkatkan guna menjaga kelangsungan atau keberlanjutan destinasi wisata Pantai Pariaman dan aspek keamanan serta kenyamanan bagi wisatawan dapat dijaga dengan baik. Kemudian peran pemerintah, masyarakat dan sikap wisatawan juga berdampak terhadap green marketing. Oleh karena itu, pemasaran hijau merupakan pendekatan yang paling tepat dalam pariwisata, karena dapat memberikan keuntungan bagi para pelaku wisata, masyarakat, wisatawan dan bersama dengan budaya dan sosial dengan menjaga tradisi tetap hidup dan kerusakan minimum terhadap lingkungan alam.

Variabel lain juga menunjukkan bahwa kepuasan wisatawan dipengaruhi oleh mitigasi bencana, daya tarik wisata dan green marketing di kawasan wisata Pantai Pariaman. Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya upaya mitigasi bencana, meningkatkan daya tarik wisata dantindakan pemasaran hijau dalam meningkatkan kepuasan wisatawan. Mitigasi bencana dapat meningkatkan kualitas lingkungan alam, mencegah kerusakan dan kerugian yang lebih besar. Daya tarik wisata yang dimiliki Pantai Pariaman seperti keindahan pemandangan alam dan keunikan wisata serta atraksi budaya lokal, kemudian adanya kepеdulian pengelola wisata terhadap lingkungаn, pelayanan yang ramah dan kebersihan terjaga dengan baik.

Kemudian hasil penelitian juga menunjukkan bahwa variabel mitigasi bencana berdampak terhadap daya tarik wisata dan kepuasan wisatawan. Secara teori daya tarik wisata dan kepuasan wisatawan akan berdampak terhadap meningkatnya keputusan berkunjung, maka dalam jangka panjang upaya mitigasi bencana diharapkan dapat meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Pantai Pariaman.

Green marketing dan kepuasan wisatawan berdampak langsung terhadap revisit intention wisatawan. Temuan ini menunjukkan aktivitas green marketing dan adanya kepuasan wisatawan dapat meningkatkan niat kunjungan ulang pada destinasi wisata Pantai Pariaman. Hal ini dapat menjadi perhatian bagi pengelola wisata dalam hal pengembangan wisata ke depannya. Semakin tingginya kebutuhan dan kesadaran wisatawan terhadap perlindungan lingkungan, karena kegiatan wisata pasti akan berhubungan dengan lingkungan. Lingkungan yang baik akan berdampak terhadap kepuasan dan pada akhirnya akan meningkatkan niat untuk melakukan kunjungan ulang dan mereferensikan kepada orang lain.

Bagian dari hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada Solid State Technology, Volume 63, Issue 5, 2020 dengan judul “Coastal Tourism Development Model Based on Green Marketing”. (*)

Artikel ini ditulis berdasarkan disertasi yang telah dipertahankan dalam Ujian Tertutup pada tanggal 14 Oktober 2021, dengan Promotor Prof. Dr. Yunia Wardi, M.Si, dan co-Promotor Prof. Dr. Hasdi Aimon, MSi, serta Dewan Penguji 1) Prof. Dr.Syamsul Amar B, MS, 2) Dr. Susi Evanita, MS, 3) Abror, SE.,ME.,Ph.Ddan penguji luar institusi Prof. Dr. Manat Rahim, SE., MP  dari Universitas Halu Oleo Kendari.