Bung Hatta dan Moralitas Beberapa Menteri Jokowi

14
Anwar Abbas Ketua PP Muhammadiyah

Saya benar-benar geleng-geleng kepala kalau membaca cerita tentang kepribadian dari Bung Hatta sebagai pejabat negara. Dalam buku yang berjudul ”Bung Hatta”, pribadinya dalam kenangan yang disunting oleh ibu Meutia Farida Swasono yaitu anak kandung beliau sendiri.

Dalam buku tersebut ibu Rahmi Hatta yaitu istri dari Bung Hatta bercerita bahwa pada suatu waktu uang Republik Indonesia (ORI) mengalami pemotongan.

Di masa itu, kata ibu Rahmi, saya sedang menabung karena saya berniat untuk membeli sebuah mesin jahit. Tetapi bagaimana kecewanya hati saya ketika itu, kata ibu Rahmi.

Oleh karena itu ketika Bung Hatta pulang dari kantor saya mengeluh. Ibu Rahmi berkata ”Aduh ayah…! Mengapa tidak bilang terlebih dahulu bahwa akan diadakan pemotongan uang? Yaaa, uang tabungan kita tidak ada gunanya lagi! Untuk membeli mesin jahit sudah tidak bisa lagi, tidak ada harganya lagi.

Apa jawab dan respons dari Bung Hatta yang ketika itu menjadi wapres? Bung Hatta bilang: Yuke , seandainya kak Hatta mengatakan terlebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan disampaikan kepada ibumu.

Lalu kalian berdua akan mempersiapkan diri, dan mungkin akan memberi tahu kawan-kawan dekat lainnya.

Itu tidak baik! Kepentingan negara tidak ada sangkutpautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia.

Sungguhpun saya bisa percaya kepadamu kata Bung Hatta, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapapun.

Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara, kita mencoba menabung lagi, ya ? Akhirnya sebagai seorang istri kata ibu Rahmi, saya sepenuhnya dapat memahami prinsip dari suami saya itu.

Baca Juga:  Kereta Api(k) Silokek

Demikianlah sikap Bung Hatta sebagai pemimpin dan tokoh bangsa. Beliau menyatakan bahwa kepentingan negara dan mengurus negara tidak ada sangkut pautnya dengan usaha untuk memupuk kekayaan dan kepentingan keluarga.

Bahkan untuk kepentingan dan kebaikan bangsa kata Bung Hatta, biarlah kita rugi sedikit demi kepentingan seluruh negara.

Hal inilah yang tidak atau kurang tampak dalam kabinet Jokowi hari ini. Bahkan, ada menterinya dalam masa Covid-19 ini yang sudah dijatuhi hukuman oleh pengadilan karena memanfaatkan situasi buruk dari Covid-19 untuk meraup keuntungan dan merampok uang negara, serta uang rakyat.

Di samping itu, juga ada beberapa menterinya yang diduga telah terlibat dalam bisnis PCR yang diperlukan untuk menangani Vovid-19.

Hal ini tentu jelas sangat-sangat tidak etis dan sangat patut dicela, serta disesalkan karena mereka yang semestinya menempatkan diri sebagai wasit tapi malah juga ikut bermain.

Secara moril dan hukum hal ini tentu jelas tidak bisa kita terima. Untuk itu, kita mendesak kepada pihak para penegak hukum untuk membongkar kasus ini setuntas-tuntasnya dan kepada Presiden Jokowi kita harapkan agar beliau menindak secepatnya para menterinya yang diduga telah merusak dan mencoreng nama dan citra baik dari pemerintah karena kalau tidak maka kepercayaan rakyat dan masyarakat kepada pemerintah terutama kepada presiden akan rusak dan hilang.

Hal ini tentu jelas tidak kita inginkan karena tidak positif bagi perjalanan kehidupan bangsa dan negara yang sama-sama kita cintai ini ke depannya. (*)