“Jalan Perjuangan”

223

Oleh: Benny Utama, Bupati Pasaman

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Itu jugalah yang kami lakukan dalam membangun Kabupaten Pasaman, terutama dalam membuka akses serta jalur transportasi orang dan barang.

Dari Bonjol Kabupaten Pasaman ke Bukit Manggani Kabupaten Limapuluh Kota, termasuk salah satu mata rantai sejarah perjuangan bangsa ini. Di jalur inilah eksistensi bangsa Indonesia dipertahankan pasca ditahannya Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta oleh Kolonial Belanda, waktu itu.

Sejarah mencatatkan hal ini dengan detail. Detik-detik perlawanan dan gerakan perjuangan untuk mempertahankan Pemerintahan Indonesia dilangsungkan di Sumatera Barat oleh Mister Syafrudin Prawiranegara.

Pusat Pemerintahan yang berbasis di Koto Tinggi, terus diupayakan keberadaannya oleh Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), sekaligus sebagai sinyal bagi pihak luar, bahwa Bangsa Indonesia masih berdiri, walau ke dua pemimpinnya ditahan saat itu.

PDRI lah Penyambung nyawa Indonesia pada masa itu.

Dalam tulisan ini Saya tak ingin bercerita tentang sejarah. Sebab, catatan demi catatan, ulasan demi ulasan tentang PDRI sudah sangat banyak, dengan bukti sejarah yang terdokumentasi lengkap.

Sebagai Kepala Daerah melalui tulisan ini Saya hanya ingin bercerita tentang pembangunan akses transportasi jalan yang terintegrasi dengan perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Saya mencoba mengkolaborasikan sejarah itu dengan derap pembangunan untuk kemajuan bagi masyarakat Kabupaten Pasaman.

Dari Bonjol ke Manggani tidaklah sebuah kegiatan yang mustahil. Dari Tanjung Bungo, Kecamatan Bonjol ke Manggani hanyalah terkait jarak 7,5 Km. Dan dua titik rute perjuangan ini hanya  ‘terpagar” oleh jajaran Bukit Barisan.

Sebetulnya untuk pembanguan fisik jalan dari Bonjol ke Manggani tidaklah terlalu sulit secara teknik konstruksi. Kendala utama lebih pada alih status lahan yang mesti dilewati, lantaran beberapa titik di jalur itu masuk dalam kawasan Hutan Lindung, sehingga pemakaiannya haruslah mendapat persetujuan dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Secara administasi ini memang tidak mudah. Namun demi masyarakat dan tersambungkan kembali sejarah bangsa ini, kendala administrasi tak mesti membuat kita surut. Sepanjang untuk kepentingan masyarakat Kabupaten Pasaman dan Sumatera Barat kita pasti mau melakukan kerja keras itu.

Melakukan penandatanganan kerja sama antar daerah dalam rangka mewujudkan tekad untuk membangun jalan jejak perjuangan tersebut, sudah kami awali dengan Bupati Limapuluh Kota, dan kita bersepakat untuk merintis pembangunan itu.

Pak Datuk Syafrudin Bupati Limapuluh Kota, melakukan pembangunan di wilayah administratifnya hingga ke batas wilayah Pasaman. Dan sebaliknya, Kabupaten Pasaman memulai dari Bonjol hingga ke batas wilayah Administratif Kabupaten Limapuluh Kota, sepanjang sekitar 15 hingga 20 kilometer.

Secara anggaran dan politik, pembangunan jalan dari Bonjol ke Manggani menjadi skala prioritas bagi Pemerintah Kabupaten Pasaman. Buktinya, anggaran untuk pembukaan jalan tersebut sudah dianggarkan Rp4,5 Miliar di tahun anggaran 2022 ini.

DPRD Kabupaten Pasaman selaku mitra kerja juga sudah menyetujui. Jika tak ada kendala, tahap awal pembangunan jalan perjuangan ini sudah bisa dimulai.

Banyak manfaat yang dapat dipetik dari pembangunan jalan dari Bonjol ke Manggani. Di antara manfaat tersebut adalah Pertama, nilai sejarah. Dari Bonjol ke Manggani adalah jalan yang ditempuh oleh para pejuang. Mulai dari perjuangan Kaum Paderi melawan Belanda hingga perjuangan mempertahankan NKRI saat PDRI.

Jalur ini lah yang ditempuh para pejuang untuk memobilisasi barang dan pasukan. Baik untuk keberangkatan dari Sumatera Utara maupun keberangkatan menuju Mandaling Sumatera Utara. Artinya, keberadaan jalan ini selain mengingatkan kita kembali sebagai anak bangsa tentang arti penting sejarah, jalan ini pun akan mengabadikan catatan sejarah itu sendiri.

Baca Juga:  Pembangunan Infrastruktur Penggerak Ekonomi

Kedua, nilai ekonomis. Secara ekonomi sudah pasti kehadiran jalan dari Bonjol menuju Manggani Kabupaten Limapuluh Kota sangat menguntungkan. Jika jalan perjuangan ini tuntas dan dapat dipergunakan maka jalan perjuangan ini akan menjadi alternatif bagi arus barang dan manusia dari Kabupaten Pasaman menuju Provinsi Riau.

Jika jalan ini selesai dan dapat dilalui maka akan ada pemangkasan jarak tempuh sekitar 70 Km. Selain jarak tempuh, waktu tempuh akan lebih dekat lagi. Orang dari Kabupaten Pasaman yang ingin bertolak ke Provinsi Riau tak perlu lagi harus menempuh Kecamatan Palupuah dengan jalan yang berliku ke Kota Bukittinggi.

Warga tak perlu harus ke Bukittinggi-Agam dan Kota Payakumbuh sebelum masuk ke Sarilamak Kabupaten Limapuluh Kota. Dari Kanagarian Ganggo Hilia kecamatan Bonjol masyarakat cukup belok kiri dan terus ke Manggani hingga keluar di Sarilamak.

Apalagi master plan pembangunan jalan Tol Sumatera, menempatkan salah satu pintu Tolnya di Daerah Suliki, Limapuluh Kota.

Artinya, jika dari Pasaman ke Sarilamak Kabupaten Limapuluh Kota saat ini dibutuhkan waktu lebih kurang 3 sampai 4 jam maka dengan jalan perjuangan diperkirakan hanya separoh dari itu.

Kita bisa bayangkan berapa besar efisiensi biaya dan waktu yang dapat diefektifkan dari pembangunan jalan perjuangan itu.

Ketiga, Destinasi wisata Terpadu Bonjol. Terbukanya akses jalan, tentulah akan menjadi magnet baru bagi wisatawan untuk datang ke Pasaman. Ada paket dan kolaborasi besar yang dapat dijadikan destinasi wisata. Apalagi saat ini Pemda Kabupaten Pasaman tengah berupaya mewujudkan daerah Bonjol sebagai Kawasan Wisata Terpadu, yang terintegrasi.

Mulai dari jalan perjuangan yang sarat nilai perjuangan kaum Paderi dan PDRI hingga ke wisata garis titik nol Khatulistiwa, serta objek pendukung lainnya. Ini jelas akan menghasilkan daya ungkit ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Pasaman.

Butuh Dukungan Bersama

Tak ada institusi yang bisa berjalan sendiri. Kabupaten Pasaman juga seperti itu. Jalan perjuangan ini tak akan bisa berjalan dan berhasil tanpa di dukung oleh semua pihak, terutama Pemkab Limapuluh Kota dan Pemprov Sumbar. Pasaman hanyalah salah satu dari tiga pelaku untuk mewujudkan jalan perjuangan ini.

Sebagai Kepala Daerah Saya berharap jalan perjuangan ini bisa diwujudkan. Diharapkan kita semua membuang jauh pikiran pragmatis bahwa jalan perjuangan ini hanya menguntungkan Kabupaten Pasaman dan Limapuluh Kota saja. Jalan perjuangan ini adalah kepentingan dan menghasilkan keuntungan untuk kita bersama. Mulai dari Kabupaten Pasaman, Limapuluh Kota, Sumatera Barat hingga masyarakat Indonesia umumnya.

Untuk itu dalam tulisan ini saya mengajak semua pihak untuk ikut mensukseskan ini. Mulai dari dukungan politik hingga ke dukungan anggaran. Kami sebagai  pemangku kepentingan di Pasaman, siap mengalokasikan anggaran sesuai kemampuan daerah. Mudah-mudahan Limapuluh Kota dan Pemprov Sumbar juga melakukan hal yang sama.

Terkhusus untuk Pemerintah pusat kami berharap sangat dukungan anggarannya.

Ingat, tanpa adanya perjuangan kaum Paderi maka ABS-SBK itu tak akan pernah ada. Kalaulah tidak oleh jalan napak tilas perjuangan ini, belum tentu eksistensi bangsa Indonesia bisa dipertahankan pasca agresi kedua Kolonial Belanda.

Kita harus mengingat itu dan menghargai itu bersama sama. Mari kita wujudkan jalan perjuangan ini.

Pasaman untung, Limapuluh Kota pun berlaba, pemerintah Sumatera Barat ikut maju.

Selamat datang jalan perjuangan dan ini adalah tanggung jawab kita bersama. (***)