Kompromi Bijak Melahirkan Fateta Unand

10
Isril Berd Inisiator Pendiri / Dekan Pertama Fateta Unand

KEHADIRAN Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Unand 14 tahun yang lalu bukanlah sebuah peristiwa biasa.

Kehadirannya perlu dimaknai sebagai ”kompromi bijak” antara keikhlasan elit Fakultas Pertanian Unand ”melepas salah satu pilar kekuatannya” dengan spirit menggapai kemajuan menuju era industrialiasi RI 4.0 dari penggagas pendirian Fateta Unand.

Hal ini adalah sebuah kebijakan yang dilematis. Itu sebabnya, ketika dalam rapat Senat Faperta pada tahun 2007 yang lalu, untuk memutuskan persetujuan pendirian Fateta ini, seorang anggota Senat senior menyampaikan keprihatinannya: ”Tolong pertimbangkan dimana almamater kita ini.

Fakultas Pertanian Unand ibarat seorang ibu tua yang sarat pengalaman dalam perjalanan panjangnya. Apakah tega, dalam kondisi demikian, ibu tua itu melahirkan bayi mungil dan harus ditinggal pergi oleh anaknya yang merupakan salah satu tulang punggung kehidupannya.”

Demikian kalimat tersebut dalam buku fenomenal Kiprah dan Kontribusi Abdi Pertanian Universitas Andalas (2021) yang dieditori oleh DR Agusli Taher MSc dan kawan-kawan. Itu merupakan karya tulis yang sangat berarti karena memuat sejarah masa lalu.

Mulai saat berdirinya Fakultas Pertanian tertua di luar Jawa, dan mengurai secara detail dan cermat tentang kiprah alumni generasi pertama dan generasi kedua dari alumni Fakultas Pertanian yang kini bernaung di bawah Universitas Anadalas dan sekaligus membesarkan Universitas tersebut.

Buku ini sudah dibedah di Convention Hall Unand pada 28 Agustus 2021. Dihadiri Rektor Unand Prof Dr Yuliandri dengan para pembedah antara lain Prof. Fachri Ahmad, Prof Musliar Kasim dan Prof Gusti Asnan dari Unand.

Begitulah, perjuangan untuk melahirkan Fateta Unand. Bukan hanya menghadapi beragam kendala administratif dan operasional. Akan tetapi juga pertarungan emosional karena harus meninggalkan almamater yang sudah membesarkan para penggagas pendirian Fateta ini.

Dalam pepatah Minang disebutkan, ”Nan pai hati tak elok, nan tingga darah tak sanang.” Pertarungan ”emosional” itulah yang disiasati oleh inisiator dengan penjelasan factual.

Terutama apabila jurusan Teknologi Pertanian masih di bawah payung Fakultas Pertanian, maka core ilmu murni teknik dan teknologi yang menjadi batang ilmu jurusan teknologi pertanian tidak bisa dikembangkan secara murni dan sempurna.

Apalagi gelar akademik tamatan Teknologi Pertanian berbeda dengan tamatan Fakultas Pertanian. Demikian paparan DR. Agusli Taher, M.Sc, mantan Kepala BPTP Sukarami yang juga alumni Faperta Unand angkatan 1971, yang melahirkan buku sejarah emas Faperta Unand tertua di luar pulau Jawa ini.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan dan pergeseran paradigma pertanian, perubahan persepsi masyarakat terhadap pertanian dan perubahan orientasi keilmuan yang berkembang di masyarakat profesi, sudah saatnya dilakukan pembenahan penyelenggaran pendidikan teknologi pertanian di Indonesia.

Pembenahan didasarkan pada argumen bahwa penyelenggaraan aktivitas pertanian saat ini sudah tidak lagi didasarkan pada model pertanian konvensional, tetapi sudah sepenuhnya mengarah pada penyelenggaraan aktivitas sistem industri pertanian berkelanjutan yang tidak lagi memisahkan aktivitas budidaya, pengolahan manufaktur dan pemasaran tetapi menjadikanya sebagai satu kesatuan.

Baca Juga:  Zonasi Setengah Hati

Perubahan ini menyebabkan cakupan material pertanian tidak lagi mencukupi sebagai obyek kajian, sehingga harus bergeser ke arah cakupan material sistem industri pertanian.

Bila ditilik program studi yang bersifat keteknologian, jati diri keilmuan terletak pada karakteristik cakupan formal teknologi yang bersifat blended antara ilmu dan kerekayasaan karena pada dasarnya teknologi dilahirkan dari ilmu/pengetahuan melalui proses perekayasaan (engineering arts).

Ilmu yang dimaksud dapat berupa ilmu yang dihasilkan melalui penelitian ilmiah (scientific reseach) maupun penelitian kerekayasaan (engineering reseach).

Meskipun demikian, karena teknologi memiliki makna sebagai bentuk produk/proses, kegiatan pengembangan cakupan formal yang berwujud penelitian ilmiah/rekayasa tersebut harus berujung dengan produk teknologi.

Konsep penataan prodi diwujudkan dalam perspektif pengembangan kemampuan institusi untuk menyelesaikan persoalan keteknologian pertanian yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.

Melalui peningkatan kemampuan institusi tersebut, diharapkan solusi yang dihasilkan memiliki kualitas yang tinggi dan dapat dimanfaatkan oleh komunitas internasional.

Penataan program studi tidak dapat dilepaskan dari status program studi sejenis di tingkat regional dan internasional, dampak globalisasi yang dicirikan oleh konsep market driven economic terhadap pendidikan tinggi pertanian, perkembangan pesat teknologi di berbagai bidang khususnya sistem hayati dan sistem informasi, pengembangan jejaring kerja sama akademis (networking), tuntutan kompetensi yang diwujudkan melalui sertifikasi nasional maupun internasional.

Program studi ditujukan untuk meningkatkan ketajaman cakupan ilmu dan kompetensinya, memperbaiki kuantitas dan kualitas input mahasiswa, meningkatkan kesesuaian status dan kinerja prodi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, memperjelas keselarasan dan berkaitan dengan asosiasi profesi, dan meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pendidikan di level fakultas dan universitas.

Ada beberapa alasan dikembangkannya Jurusan Teknologi Pertanian menjadi Fakultas Teknologi Pertanian Unand antara lain; Fakultas Teknologi Pertanian belum ada saat itu di Pulau Sumatera sedangkan di Pulau Jawa baru terdapat 5 fakultas yang sama yaitu di Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, Universitas Jember dan Universitas Padjajaran yang baru berdiri pada tahun 2006 yang lalu.

Dengan berdirinya Fakultas Teknologi Pertanian di Unand, berarti ikut meringankan beban tugas memproses dan melahirkan sarjana Teknologi Pertanian oleh universitas/ institut yang terdapat di Pulau Jawa.

Serta, dapat memberi peluang sebesar-besarnya bagi putra dan putri di Sumatera dan daerah lainnya untuk mendalami bidang Ilmu Teknologi Pertanian di Universitas Andalas.

Kini Fateta Unand terus meningkatkan kualitas dan prestasinya dan telah meraih akreditasi A dan ada prodinya telah melangkah ke jenjang akreditasi internasional melaui program IABEE serta sudah ada program S1 dan S2-nya dan sedang mempersiapkan pula membuka program S3 untuk Prodi Teknik Pertanian dan Biosistem. Semoga.
Dirgahayu Fateta Unand, 15 Mai 2008-2022. (*)